Syaikh Muhammad Nashiruddin Al Albani -rahimahullah- 

Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam bersabda:

إن الله عز وجل لا يقبل من العمل إلا ما كان له خالصا وابتغي به وجهه

Sesungguhnya Allah ‘Azza wa Jalla tidak menerima amalan kecuali yang ikhlas mengharapkan wajah-Nya

Sababul wurud hadits ini adalah sebagaimana yang diriwayatkan oleh Abu Umamah radhiallahu’anhu, beliau berkata:

جاء رجل إلى رسول الله صلى الله عليه وسلم فقال: أرأيت رجلا غزا يلتمس الأجر والذكر ماله؟ فقال رسول الله صلى الله عليه وسلم: لا شيء له، فأعادها ثلاث مرات، يقول له رسول الله صلى الله عليه وسلم: لا شيء له. ثم قال : إن الله عز وجل لا يقبل من العمل إلا ما كان له خالصا وابتغي به وجهه

“Datang seorang lelaki kepada Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam. Lelaki beliau bertanya: bagaimana menurut engkau jika ada seorang yang berperang untuk mengharapkan pahala dan sekaligus ingin disebut namanya (sebagai pahlawan), apa yang ia dapatkan? Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam bersabda: ‘ia tidak mendapatkan apa-apa‘. Lelaki tadi mengulangi pertanyaannya hingga tiga kali.Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam tetap bersabda: ‘ia tidak mendapatkan apa-apa‘. Lalu beliau bersabda: ‘Sesungguhnya Allah ‘Azza wa Jalla tidak menerima amalan kecuali yang ikhlas mengharapkan wajah-Nya‘”.

Hadits ini diriwayatkan oleh An Nasa’i dalam Sunan-nya, pada kitab Al Jihad (2/59). Sanadnya hasan sebagaimana dikatakan Al Hafidz Al ‘Iraqi dalam Takhrij Al Ihya (4/328). Dan hadits-hadits yang semakna dengan ini banyak sekali. Anda bisa mendapatkannya di dalam kitab At Targhib karya Al Hafidz Al Mundziri.

Hadits ini dan hadits-hadits semisalnya menunjukkan bahwa seorang Mu’min tidak akan diterima amalannya jika ia tidak mengharapkan wajah Allah ‘Azza wa Jalla dari amalannya tersebut. Oleh karena itu Allah Ta’ala berfirman:

فَمَنْ كَانَ يَرْجُو لِقَاءَ رَبِّهِ فَلْيَعْمَلْ عَمَلًا صَالِحًا وَلَا يُشْرِكْ بِعِبَادَةِ رَبِّهِ أَحَدًا

Barangsiapa mengharap perjumpaan dengan Tuhannya, maka hendaklah ia mengerjakan amal yang saleh dan janganlah ia mempersekutukan seorangpun dalam beribadat kepada Tuhannya” (QS. Al Kahfi: 110).

Jika demikianlah keadaan kaum Mukminin, maka bagaimana lagi keadaan orang-orang kafir jika mereka tidak ikhlas (mengharap wajah Allah) dalam beramal? Jawabannya terdapat dalam firman Allah Ta’ala:

وَقَدِمْنَا إِلَى مَا عَمِلُوا مِنْ عَمَلٍ فَجَعَلْنَاهُ هَبَاءً مَنْثُورًا

Dan kami hadapi segala amal yang mereka kerjakan, lalu kami jadikan amal itu (bagaikan) debu yang berterbangan” (QS. Al Furqan: 23).

Dengan asumsi bahwa mungkin ada orang kafir yang beramal shalih dengan ikhlas (mengharap wajah Allah) walaupun ia masih dalam keadaan kafir, maka ketika itu Allah tidak akan menyia-nyiakan amalannya tersebut. Bahkan Allah akan membalas amalannya tersebut di dunia.

Oleh karena itu terdapat hadits yang shahih dan tegas dari Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam:

إن الله لا يظلم مؤمنا حسنته، يعطى بها (وفي رواية: يثاب عليها الرزق في الدنيا) ويجزى بها في الآخرة، وأما الكافر فيطعم بحسنات ما عمل بها لله في الدنيا، حتى إذا أفضى إلى الآخرة لم يكن له حسنة يجزى بها

Sesungguhnya Allah tidak akan berbuat zalim kepada seorang Mu’min yang telah berbuat kebaikan. Allah akan memberikan (dalam riwayat lain: mengganjarnya dengan rezeki) di dunia dan di akhirat. Adapun orang kafir, Allah akan memberikannya rezeki di dunia atas kebaikan yang ia lakukan karena Allah, hingga akhirnya ketika ia di akhirat, ia tidak memiliki kebaikan sama sekali untuk diberi balasan“.

***

Sumber: As Silsilah Al Ahadits Ash Shahihah no. 52

Terkait

Berlangganan artikel Situs Sunnah melalui email, RSS, atau Telegram.