Penerjemah: Arief Budiman Abu Abdillah, Lc.

Para ulama telah menyebutkan di dalam kitab-kitab yang berkaitan dengan firaq (golongan-golongan dalam Islam) bahwa Khawarij adalah golongan yang tidaklah sebagian mereka keluar dari kelompoknya, melainkan sebagian kelompok tersebut kembali dengan membawa kelompok-kelompok lainnya. Dan tidaklah di antara mereka ada yang dianggap salah atau keliru, melainkan mereka selalu berlepas diri dari orang yang salah tersebut, bahkan sampai pada tahapan pengkafiran. Sehingga, akhirnya adalah terlahirnya firqah-firqah baru lainnya.

Adapun Ahlussunnah, mereka adalah ahlul ijtima’. Mereka senantiasa berada di atas al haq (kebenaran). Jika ada di antara saudara mereka yang menyelisihi kebenaran, mereka tetap bersabar mendakwahi dan memperingatkan saudara mereka tersebut. Mereka pun tidak pernah berkata,”Kita harus diam dari kesalahannya”. Mereka terus mendakwahinya kepada kebenaran, membimbingnya, dan mereka bersabar dalam berdakwah.

Jadi, hendaknya kita benar-benar memahami makna al ijtima’. Sekali lagi, makna al ijtima’ bukan berarti; kita berkumpul atau bersatu (walaupun) di atas kebatilan. Bukan pula bermakna; kita diam terhadap kesalahan-kesalahan yang terjadi dan kita tidak memperingatkan orang yang salah dari kesalahannya. Semua ini bukanlah makna al ijtima’ yang benar, karena semuanya menyelisihi perintah Allah ‘azza wa jalla.

Juga, -sebagaimana penjelasan di atas- bahwa ’amar ma’ruf nahi munkar tidak bertentangan dengan al ijtima’ sama sekali, bahkan sangat mungkin dipadukan. Oleh karena itu Allah ‘azza wa jalla memerintahkan kita dalam firman-Nya:

وَلاَ تَكُونُواْ كَالَّذِينَ تَفَرَّقُواْ وَاخْتَلَفُواْ…

“Dan janganlah kamu menyerupai orang-orang yang bercerai-berai dan berselisih…”. (QS. Ali ‘Imran / 3 : 104).

Firman-Nya ini disampaikan setelah Ia memerintahkan kita untuk ber-’amar ma’ruf nahi munkar. Dan di sini terdapat peringatan (lainnya), yaitu hendaknya ’amar ma’ruf nahi munkar jangan sampai menjadi sebab berpecah-belahnya umat.

Dan sekarang, telah ada sebuah opini yang mengatakan bahwa ber-’amar ma’ruf nahi munkar memastikan terjadinya pemutusan hubungan dengan kaum muslimin. Atau bahkan mengharuskan orang yang didakwahi harus dihajr, jika ia tidak sependapat dengannya. Ia memutuskan segala hubungan dengan orang-orang yang menyelisihinya ketika ia berdakwah!!

Bukan, perkaranya bukanlah seperti ini!

Akan tetapi, -sekali lagi- bahkan sangat mungkin dipadukan antara ’amar ma’ruf nahi munkar dan al ijtima’, serta mulazamatu jama’atil muslimin (berpegang teguh dengan jamaah kaum muslimin).

Oleh sebab itu, saya (Syaikh DR. Ibrahim bin ‘Amir ar Ruhaili -hafizhahullah-) nasehati para da’i dan penuntut ilmu di negeri ini. -Pada mereka terdapat kebaikan yang begitu banyak. Mereka memiliki dakwah yang penuh berkah-. Hendaknya mereka berpegang teguh dengan kaidah-kaidah dasar (dalam berdakwah) yang telah diterangkan ini!

Yang harus pertama kali mereka lakukan adalah bersatu dan tidak saling berselisih antara sesama mereka. Kemudian hendaknya mereka saling mencintai karena Allah. Karena orang yang berakidah Ahlussunnah, berarti ia telah mendapatkan kebaikan yang sangat banyak. Sehingga, orang ini berhak untuk dicintai, disikapi dengan loyalitas tinggi, sesuai dengan kadar kebaikan yang terdapat pada dirinya. Dan seandainya orang ini berbuat salah dan memiliki kesalahan, hendaknya ia diperingatkan dari kesalahannya. Jika ia menerima peringatan dan nasehat, maka walhamdulillah. Dan jika tidak, maka kebaikan yang ada pada dirinya -berupa mengikuti manhaj Ahlussunnah dan juga dakwahnya yang ia lakukan di atas manhaj salaf-, membuat kita tidak berhak untuk memutuskan hubungan persaudaraan kita dengannya. Kita bersabar dan tetap memberinya peringatan. Dan jika kita sudah berikan peringatan kepadanya, maka ijtima’ kita bersamanya bukanlah sebuah al ijtima’ ‘alal bathil (bersatu dan berkumpul di atas kebatilan). Yang salah, adalah tatkala kita diam di atas kebatilannya dan kesalahannya. Dan hendaknya, peringatan yang kita sampaikan kepadanya adalah dengan cara yang baik, lunak dan lemah lembut, supaya ia bisa menerimanya.

Kemudian, permasalahannya; jika kita sekarang sudah mempraktekkan manhaj yang benar seperti ini dalam berdakwah, lalu sebagian saudara-saudara kita keliru dalam memahami manhaj dakwah ini. Maka, apakah jika mereka menghajr kita, kita juga menghajr mereka? Apakah jika mereka tidak bisa bersabar dengan manhaj dakwah ini, dan tidak mau mempraktekkannya, kita juga memperlakukan mereka sebagaimana mereka memperlakukan kita?

Jika mereka sampai menghajr kita, kita tetap tidak boleh menghajr mereka! Jika mereka memutuskan hubungan persaudaraan dengan kita, kita tidak boleh memutuskan hubungan persaudaraan dengan mereka! Dan hal ini, jangan dipahami bahwa seseorang harus menghinakan dirinya (demi persatuan dan persaudaraan, Pent).

Jika seorang dari mereka mau bergaul dengan saudara-saudara kita, kita pun bergaul dengannya. Adapun jika ia tidak mau berhubungan dengan saudara-saudara kita, maka kita pun tidak boleh mengikuti orang yang tidak mau berhubungan dengan kita atau saudara-saudara kita. Kecuali jika masih mungkin bisa diharapkan darinya -dengan sering mengunjunginya dan berbicara dengannya- kebaikan dan hidayah dari Allah, maka hal ini adalah sangat baik (untuk dilakukan).

Jadi, apabila orang-orang berbuat tidak baik kepada kita, kita tidak boleh membalas mereka dengan sesuatu yang tidak baik pula. Bahkan, yang wajib kita lakukan adalah bersabar. Kita tetap mempertahankan hubungan persaudaraan kita dengan mereka. Kita mengharapkan pahala dari Allah dengan perbuatan baik kita terhadap mereka, karena bagaimanapun keadaan mereka, mereka adalah saudara-saudara kita. Kita tetap berusaha untuk selalu berhubungan dengan mereka, dan ber-ijtima’ bersama mereka. Namun, jika mereka tetap saja memutuskan hubungan dengan kita, maka kita serahkan urusan mereka kepada Allah, dan merekalah yang mempertanggungjawabkan perbuatan mereka ini di hadapan Allah.

Demi mempersatukan kalimat kaum muslimin, kita harus berusaha semampu kita. Kita pun berusaha sebisa kita untuk tidak berpecah belah di antara sesama kita.

Para ulama sebelum kita, terjadi perbedaan pendapat di antara mereka dalam beberapa permasalahan agama. Namun, hal ini tidak membuat mereka sampai berpecah-belah. Hati mereka tidak pernah bercerai-berai. Tidak pula terdapat pada hati mereka rasa hiqd, hasad (iri dan dengki), dan permusuhan kepada saudara-saudara mereka. Bahkan justru yang terjadi di antara mereka adalah saling mencintai, menyayangi, berloyalitas. Dan semestinya seperti inilah diri kita (dalam mempraktekkan muamalah dan dakwah). Sehingga, rasa saling cinta kita, persaudaraan kita, loyalitas kita adalah berada di atas as Sunnah. Sedangkan jika terjadi kesalahan atau kekeliruan yang dilakukan oleh seorang dari saudara-saudara kita, maka kita membenci hal ini dan kita berikan peringatan kepada saudara kita tersebut. Dan kita pun tetap mengakui kebaikan yang ada pada saudara kita yang berbuat salah tersebut. Bahkan kita menolongnya ketika ia berdakwah kepada orang lain menuju as Sunnah. Kesalahan orang ini sama sekali tidak boleh menghalangi kita dari menolongnya selama ia berada di atas kebaikan.

Adapun jika seorang dari saudara-saudara kita berbuat salah, lantas kita menjauhinya, mentahdzirnya (memperingatkan orang lain untuk menjauhinya dengan sebab bahaya kesalahan yang telah dilakukan orang tersebut, Pent), memutuskan hubungan persaudaraan dengannya, atau kita putuskan seluruh majelis ilmu yang ia sampaikan ilmunya melalui majelis ilmunya, dan bahkan kita arahkan orang-orang awam agar tidak menghadiri majelis ilmunya dan kita larang mereka untuk mengambil faidah darinya, maka semua ini sama sekali tidak benar dan tidak diperkenankan!

Ini adalah salah satu bentuk menghalang-halangi seseorang untuk berdakwah (kepada al haq)!

Namun, jika ia berbuat salah, sementara kita khawatir akan bahaya kesalahan yang ia lakukan, pada saat ini mungkin bagi kita untuk menerangkan kesalahannya kepada orang-orang. Namun kita juga tetap jelaskan kepada orang-orang, bahwa ia adalah saudara kita, ia banyak memiliki kebaikan dan keutamaan, tetapi ia memiliki kesalahan dalam masalah tertentu, yang insya Allah ia akan rujuk kembali kepada kebenaran. Jadi, hal ini mungkin kita lakukan (jika memang benar-benar demikian keadannya).

(Bersambung Insya Allah)

Sebarkan Artikel ini, Berpahala Insya Allah

Berlangganan artikel Situs Sunnah melalui email, RSS, atau Telegram.