Oleh: Abdullah Zaen, Lc., MA

 

السلام عليكم ورحمة الله وبركاته.

إِنَّ الْحَمْدَ للهِ نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِيْنُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ وَنَعُوْذُ بِاللهِ مِنْ شُرُوْرِ أَنْفُسِنَا وَسَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا مَنْ يَهْدِهِ اللهُ فَلاَ مُضِلَّ لَهُ وَمَنْ يُضْلِلْ فَلاَ هَادِيَ لَهُ وَأَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّداً عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ.

“يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُواْ اتَّقُواْ اللّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلاَ تَمُوتُنَّ إِلاَّ وَأَنتُم مُّسْلِمُونَ”.

“يَا أَيُّهَا النَّاسُ اتَّقُواْ رَبَّكُمُ الَّذِي خَلَقَكُم مِّن نَّفْسٍ وَاحِدَةٍ وَخَلَقَ مِنْهَا زَوْجَهَا وَبَثَّ مِنْهُمَا رِجَالاً كَثِيراً وَنِسَاء وَاتَّقُواْ اللّهَ الَّذِي تَسَاءلُونَ بِهِ وَالأَرْحَامَ إِنَّ اللّهَ كَانَ عَلَيْكُمْ رَقِيباً”.

“يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَقُولُوا قَوْلاً سَدِيداً . يُصْلِحْ لَكُمْ أَعْمَالَكُمْ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوبَكُمْ وَمَن يُطِعْ اللَّهَ وَرَسُولَهُ فَقَدْ فَازَ فَوْزاً عَظِيماً”.

أَمَّا بَعْدُ، فَإِنَّ خَيْرَ الْحَدِيثِ كِتَابُ اللَّهِ، وَخَيْرُ الْهُدَى هُدَى مُحَمَّدٍ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، وَشَرُّ الْأُمُورِ مُحْدَثَاتُهَا، وَكُلُّ بِدْعَةٍ ضَلَالَةٌ.

Allahuakbar, Allahuakbar, Allahuakbar, La ilaha Ilallah wallahu akbar, Allahu akbar wa lillahil hamd!

Kaum muslimin dan muslimat jama’ah Idul Fitri yang kami hormati…

Di hari kiamat kelak, Allah subhanahu wa ta’ala menghancurkan seluruh apa yang ada di muka bumi. Gunung-gunung besar, gedung-gedung bertingkat yang menjulang tinggi, serta pohon-pohon rindang, semua musnah tak berbekas sedikitpun.

Lalu Allah mengganti bumi ini dengan bumi lain yang berbeda.

“يَوْمَ تُبَدَّلُ الْأَرْضُ غَيْرَ الْأَرْضِ وَالسَّمَوَاتُ وَبَرَزُوا لِلَّهِ الْوَاحِدِ الْقَهَّارِ”

Artinya: “Pada hari (ketika) bumi diganti dengan bumi yang lain, (demikian) pula langit. Saat itu mereka (para makhluk) berkumpul (di padang Mahsyar) untuk menghadap Allah Yang Maha Esa, Mahaperkasa”. QS. Ibrahim (14): 48.

Bumi yang baru, dengan keadaan yang berbeda sama sekali. Bumi yang rata serata-ratanya. Tak ada tempat untuk berteduh, bersembunyi apalagi berlari. Di saat itulah, Allah subhanahu wa ta’ala mengumpulkan seluruh makhluk, yang pertama hingga terakhir. Manusia, jin, malaikat dan binatang. Semua berkumpul di sebuah area tanah lapang yang maha luas, yang diistilahkan dengan Padang Mahsyar. Hanya Allah yang mengetahui betapa luasnya tempat tersebut.

Lalu, salah satu makhluk terbesar ciptaan Allah, yaitu matahari. Yang saat ini berada di atas kita sekitar 94 juta mil. Allah ‘azza wa jalla perintahkan dia di hari itu untuk datang dan mendekat serta terus mendekat. Sampai jarak yang telah ditentukan. Yaitu hanya satu mil di atas kepala para penghuni padang mahsyar.

Maka reaksi yang terjadi, adalah kondisi panas yang maha dahsyat. Hingga para hamba menderita banjir keringat. Bahkan sebagian dari mereka tenggelam dalam keringatnya sendiri. Mereka tidak bisa berlari, bersembunyi atau mencari tempat berteduh. Sebab bumi telah rata dengan tanah dan tidak ada satupun tempat untuk berteduh.

Ma’asyiral Muslimin, rahimakumullah

Dalam kondisi yang sangat mengerikan itu, ternyata ada para manusia yang mendapatkan keistimewaan dan perhatian spesial dari Allah ‘azza wa jalla. Di saat kebanyakan mereka tersengat panasnya matahari yang mendidih, justru manusia-manusia istimewa itu mendapatkan naungan awan yang melindungi mereka dari sengatan sang surya. Sehingga mereka merasa nyaman dan tentram di bawah naungan tersebut. Siapakah gerangan golongan yang amat beruntung itu?

Ternyata mereka tidak satu jenis. Bahkan mereka terdiri dari berbagai golongan yang memiliki amal salih yang berbeda-beda. Salah satunya adalah ahlul Qur’an.

Sayyiduna Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,

“اقْرَءُوا الْقُرْآنَ؛ فَإِنَّهُ يَأْتِى يَوْمَ الْقِيَامَةِ شَفِيعًا لأَصْحَابِهِ. اقْرَءُوا الزَّهْرَاوَيْنِ الْبَقَرَةَ وَسُورَةَ آلِ عِمْرَانَ؛ فَإِنَّهُمَا تَأْتِيَانِ يَوْمَ الْقِيَامَةِ كَأَنَّهُمَا غَمَامَتَانِ … تُحَاجَّانِ عَنْ أَصْحَابِهِمَا”

“Bacalah al-Qur’an! Sungguh ia akan datang pada hari kiamat memberikan syafa’at kepada orang yang rajin membacanya. Bacalah dua surat yang bersinar terang; al-Baqarah dan Ali Imran! Sungguh keduanya kelak di hari kiamat akan datang bagaikan dua awan yang menaungi … membela orang yang rajin membacanya”. HR. Muslim dari Abu Umamah al-Bahiliy radhiyallahu ‘anhu.

Bukan hanya naungan saja yang diberikan kepada ahlul Qur’an, namun juga berbagai karunia spesial lainnya.

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رضي الله عنه، عَنِ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ: “يَجِيءُ القُرْآنُ يَوْمَ القِيَامَةِ فَيَقُولُ: “يَا رَبِّ حَلِّهِ”، فَيُلْبَسُ تَاجَ الكَرَامَةِ، ثُمَّ يَقُولُ: “يَا رَبِّ زِدْهُ”، فَيُلْبَسُ حُلَّةَ الكَرَامَةِ، ثُمَّ يَقُولُ: “يَا رَبِّ ارْضَ عَنْهُ”، فَيَرْضَى عَنْهُ ، فَيُقَالُ لَهُ: “اقْرَأْ وَارْقَ”، وَيُزَادُ بِكُلِّ آيَةٍ حَسَنَةً”.

Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu dari Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam beliau bersabda, “Al-Qur’an akan datang pada hari kiamat seraya berkata, “Wahai Rabbi perhiasilah dia (manusia yang rajin membaca al-Qur’an)!”. Maka dipasanglah di kepalanya mahkota kemuliaan.

Al-Qur’an kembali berkata, “Wahai Rabbi, tambahkanlah karunia lain kepadanya!”. Maka dikenakanlah padanya jubah kemuliaan (dari surga).

Al-Qur’an masih memohon, “Wahai Rabbi, ridhailah dia!”. Maka Allah pun meridhainya. Lalu dikatakan padanya, “Bacalah dan terus naik (ke derajat yang lebih tinggi di surga)!”. Kemudian ditambahkan pahala atas setiap ayat yang dibacanya”. HR. Tirimidziy dan dinilai hasan oleh beliau dan al-Albaniy.

Kaum muslimin dan muslimat yang semoga senantiasa dirahmati Allah…

Alhamdulillah, di bulan suci Ramadhan kemarin, animo masyarakat untuk membaca al-Qur’an meningkat drastis. Banyak di antara mereka yang mengkhatamkannya dalam satu bulan. Bahkan tidak sedikit yang khatam berkali-kali. Tentu hal ini merupakan fenomena yang membahagiakan hati orang-orang yang beriman. Apalagi di zaman yang al-Qur’an ini sering diabaikan bahkan dilecehkan.

Namun, untuk mendapatkan keberkahan al-Qur’an di dunia dan syafaat al-Qur’an kelak di akhirat, cukupkah hanya dengan membacanya?

Untuk mendapatkan jawabannya, maka perlu dikumpulkan dalil-dalil al-Qur’an dan hadits Rasul shallallahu ‘alaihi wasallam yang membahas tentang masalah ini, berikut keterangan para ulama klasik maupun kontemporer tentangnya.

Setelah itu dilakukan, maka bisa disimpulkan bahwa untuk mendapatkan syafaat al-Qur’an, perlu ditempuh sekurang-kurangnya empat langkah berikut ini:

  1. Belajar membaca al-Qur’an dengan benar
  2. Rajin membacanya. Syukur-syukur bila bisa menghapalkan semampunya.
  3. Berusaha untuk memahami kandungannya.
  4. Mengamalkan isi al-Qur’an.

Para hadirin dan hadirat rahimakumullah..

Amat disayangkan, bahwa di zaman kemajuan ini, ternyata masih banyak kaum muslimin yang buta huruf al-Qur’an. Maka langkah pertama yang harus mereka tempuh, adalah berlatih membaca al-Qur’an dengan benar. Mulai dari mempelajari makhorijul huruf (cara mengucapkan huruf-huruf hijaiyah), hingga memahami ilmu tajwid (aturan membaca al-Qur’an).

Tidak perlu malu untuk belajar dari alif ba ta dan tsa, walaupun telah lanjut usia. Apalagi bila masih muda belia. Sungguh, kesulitan yang akan merintangi di jalan mulia tersebut, kelak dihargai oleh Allah ta’ala dengan pahala yang berlipat ganda.[1]

Rasulullah shallallahu ‘alahi wasallam bersabda,

“الْمَاهِرُ بِالْقُرْآنِ مَعَ السَّفَرَةِ الْكِرَامِ الْبَرَرَةِ، وَالَّذِي يَقْرَأُ الْقُرْآنَ وَيَتَتَعْتَعُ فِيهِ وَهُوَ عَلَيْهِ شَاقٌّ لَهُ أَجْرَانِ”

“Orang yang mahir[2] membaca al-Qur’an, akan bersama para malaikat mulia nan baik. Adapun orang yang terbata-bata dan kesulitan dalam membacanya; maka dia akan mendapatkan dua pahala”. HR. Muslim dari Abdullah bin ‘Amr radhiyallahu ‘anhuma.

Sungguh ironis, apabila penyakit buta huruf al-Qur’an ini juga menjangkiti sebagian akademisi. Memiliki gelar s1, s2, s3 atau bahkan professor dalam bidang sains, akan tetapi nol besar dalam membaca al-Qur’an. Bahkan, surat al-Qur’an yang seharusnya setiap hari dibaca minimal 17 kali, yakni surat al-Fatihah, pun ternyata masih belum benar dalam melafalkannya.

“إِنَّ اللهَ تَعَالَى يُبْغِضُ كُلَّ عَالِمٍ بِالدُّنْيَا جَاهِلٍ بِالْأَخِرَةِ”.

“Sesungguhnya Allah membenci setiap orang yang pandai dalam urusan dunia, namun jahil dalam urusan akhirat”. HR. Al-Hakim dalam Tarikh beliau sebagaimana diterangkan as-Suyuthiy dalam al-Jami’ ash-Shaghir (I/284 no. 1856). Hadits ini dinilai sahih oleh Syaikh al-Albany dalam Shahih al-Jami’ (I/382 no. 1879).

Allahu akbar, Allahu akbar, Allahu akbar, walillahil hamd.

Ma’asyiral muslimin rahimakumullah…

Langkah kedua untuk meraih syafaat al-Qur’an, setelah bisa dan benar dalam membaca al-Qur’an adalah rutin dan rajin untuk membacanya. Bukan hanya di bulan Ramadhan saja, namun juga di sepanjang tahun.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam pernah berpesan,

“اقْرَإِ الْقُرْآنَ فِي شَهْرٍ”

“Khatamkanlah al-Qur’an setiap satu bulan”. HR. Bukhari dari Abdullah bin ‘Amr radhiyallahu ‘anhu.

Berdasarkan hadits di atas, sebagian ulama menyimpulkan, bahwa tidak selayaknya bagi seorang muslim untuk melewatkan satu bulan tanpa mengkhatamkan al-Qur’an. Jadi, apa yang dilakukan oleh kebanyakan kaum muslimin yang hanya khatam di bulan Ramadhan, atau bahkan cuma khatam sekali dalam seumur hidup, itu bukanlah potret ideal seorang muslim. Apalagi yang  tidak pernah khatam al-Qur’an sekalipun, hingga ajal datang menjemput. Na’udzu billah min dzalik…

Jama’ah Idul Fitri yang kami hormati…

Langkah ketiga agar memperoleh syafaat al-Qur’an adalah berusaha memahami isi al-Qur’an.

Bukankah banyak di antara kita yang pernah membeli barang elektronik? Apa gerangan yang akan kita lakukan bila buku petunjuk penggunaan barang tersebut, ternyata menggunakan bahasa yang tidak kita pahami? Tentu kita akan berusaha keras, dengan berbagai cara, agar bisa memahami buku panduan tersebut. Karena merasa khawatir jika keliru dalam memakainya, akan berakibat rusaknya barang itu.

Sadarkah kita, bahwa buku panduan terbesar dan buku pedoman terpenting dalam hidup kita adalah kitab suci al-Qur’an? Tanpanya kita tidak mungkin selamat di dunia maupun akhirat.

Maka sungguh amat aneh, jika kita tidak merasa gelisah dan batin kita tidak terganggu, manakala tidak memahami buku panduan termulia tersebut!

Allah ta’ala mengingatkan,

“أَفَلَا يَتَدَبَّرُونَ الْقُرْآنَ أَمْ عَلَى قُلُوبٍ أَقْفَالُهَا”

Artinya: “Tidakkah mereka menghayati al-Qur’an, ataukah hati mereka sudah terkunci (rapat)?”. QS. Muhammad (47): 24.

Muslim yang bijak, adalah muslim yang menyediakan di rumahnya al-Qur’an dan terjemahannya. Lalu meluangkan waktu setiap hari untuk membaca barang satu atau dua halaman terjemahan al-Qur’an. Sehingga minimal sekali seumur hidup, dia pernah membaca terjemahan al-Qur’an dari awal hingga akhir.

Tentu akan lebih baik lagi, bila setelah itu ia berusaha mempelajari tafsir al-Qur’an. Dan sangat dianjurkan, di bawah bimbingan seorang Ulama/Kyai/Ustadz yang berkompeten. Guna menghindari kekeliruan pemahaman.

Allahu akbar, Allahu akbar, Allahu akbar, wa lillahil hamd.

Jama’ah Idul Fitri yang kami hormati…

Langkah terakhir dan terpenting untuk meraih syafaat al-Qur’an adalah mengamalkan isinya. Inilah langkah penentu bagi setiap orang yang mendambakan syafaat spesial itu.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam menjelaskan,

“الْقُرْآنُ شَافِعٌ مُشَفَّعٌ، ومَاحِلٌ مُصَدَّقٌ. فَمَنْ جَعَلَهُ إِمَامًا قَادَهُ إِلَى الْجَنَّةِ، وَمَنْ جَعَلَهُ خَلْفَهُ سَاقُهُ إِلَى النَّارِ”.

“Al-Qur’an adalah pemberi syafaat yang akan dikabulkan permohonan syafaatnya. Dan pembela yang akan diterima pembelaannya. Barang siapa yang memposisikan al-Qur’an di depannya; maka kitab suci ini akan mengantarkannya ke surga. Namun barang siapa yang memposisikan al-Qur’an di belakangnya; niscaya kitab suci ini akan mendorongnya ke neraka”. HR. Al-Baihaqiy dalam Syu’ab al-Iman dan dinilai sahih oleh al-Albaniy.

Maksud dari memposisikan al-Qur’an di depan, adalah mengamalkan isinya. Sedangkan memposisikan al-Qur’an di belakang, maksudnya adalah tidak mengamalkan isinya.[3]

Maka sungguh amat celaka dan merugi, orang-orang yang tidak pernah mengindahkan petunjuk al-Qur’an dalam kehidupan sehari-harinya.

Allah ta’ala mengingatkan,

“وَمَنْ أَعْرَضَ عَنْ ذِكْرِي فَإِنَّ لَهُ مَعِيشَةً ضَنْكًا وَنَحْشُرُهُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ أَعْمَى (124) قَالَ رَبِّ لِمَ حَشَرْتَنِي أَعْمَى وَقَدْ كُنْتُ بَصِيرًا (125) قَالَ كَذَلِكَ أَتَتْكَ آيَاتُنَا فَنَسِيتَهَا وَكَذَلِكَ الْيَوْمَ تُنْسَى (126) وَكَذَلِكَ نَجْزِي مَنْ أَسْرَفَ وَلَمْ يُؤْمِنْ بِآيَاتِ رَبِّهِ وَلَعَذَابُ الْآخِرَةِ أَشَدُّ وَأَبْقَى (127)“.

Artinya: “Barang siapa mengabaikan peringatan dari-Ku (al-Qur’an), maka sungguh dia akan menjalani kehidupan yang sempit. Dan Kami akan mengumpulkannya pada hari kiamat dalam keadaan buta. Dia bertanya, “Wahai Rabbi, mengapa Engkau kumpulkan aku dalam keadaan buta, padahal dahulu aku dapat melihat?”. Dia (Allah) berfirman, “Demikianlah, dahulu telah datang kepadamu ayat-ayat Kami, dan kamu mengabaikannya. Maka begitu pula pada hari ini kamu diabaikan. Demikianlah Kami membalas orang yang melampaui batas dan tidak percaya kepada ayat-ayat Tuhannya. Sungguh azab di akhirat itu lebih berat dan lebih kekal”. QS. Thaha (20): 124-127.

Di dalam Shahih Bukhari diriwayatkan, bahwa suatu hari setelah shalat Shubuh, Rasulullah shallallahu’alahiwasallam bercerita tentang mimpinya semalam. Beliau diperlihatkan berbagai macam siksaan di neraka,

“فَانْطَلَقْنَا حَتَّى أَتَيْنَا عَلَى رَجُلٍ مُضْطَجِعٍ عَلَى قَفَاهُ، وَرَجُلٌ قَائِمٌ عَلَى رَأْسِهِ بِفِهْرٍ أَوْ صَخْرَةٍ فَيَشْدَخُ بِهِ رَأْسَهُ، فَإِذَا ضَرَبَهُ تَدَهْدَهَ الْحَجَرُ، فَانْطَلَقَ إِلَيْهِ لِيَأْخُذَهُ، فَلَا يَرْجِعُ إِلَى هَذَا حَتَّى يَلْتَئِمَ رَأْسُهُ وَعَادَ رَأْسُهُ كَمَا هُوَ، فَعَادَ إِلَيْهِ فَضَرَبَهُ. قُلْتُ: “مَنْ هَذَا؟”. قَالَا: “انْطَلِقْ!”. [ثم فسر له ذلك صلى الله عليه وسلم فقال:]: “وَالَّذِي رَأَيْتَهُ يُشْدَخُ رَأْسُهُ فَرَجُلٌ عَلَّمَهُ اللَّهُ الْقُرْآنَ فَنَامَ عَنْهُ بِاللَّيْلِ وَلَمْ يَعْمَلْ فِيهِ بِالنَّهَارِ، يُفْعَلُ بِهِ إِلَى يَوْمِ الْقِيَامَةِ”

“Kemudian kami pun berjalan hingga menjumpai seorang yang terlentang dan di atasnya orang lain membawa batu, lalu batu itu dilemparkan tepat ke kepala orang yang di bawahnya hingga pecah. Lalu batu itupun menggelinding. Si pelempar bergegas mengambil batu tersebut, begitu ia kembali, ternyata kepala orang yang terlentang tadi telah kembali utuh seperti semula. Maka batupun kembali dilemparkan hingga kepalanya pecah.

Maka akupun (Rasulullah shallallahu’alaihiwasallam) bertanya, “Siapakah orang ini?”.

“Jalanlah terus” jawab dua malaikat yang mengantarkanku.

(Lalu di akhir hadits dua malaikat itu menjelaskan seluruh penampakan yang dilihat Rasulullah shallallahu’alaihiwasallam).

Orang yang engkau lihat dipecahkan kepalanya, adalah orang yang telah Allah ajarkan padanya al-Qur’an, namun di malam hari dia tidak shalat fardhu. Dan di siang harinya tidak mengamalkan al-Qur’an. Dia terus disiksa demikian hingga datang hari kiamat”. HR. Bukhari dari hadits Samurah bin Jundab radhiyallahu ‘anhu.

Itulah akibat pedih tidak mengamalkan isi al-Qur’an.

Sebaliknya, beruntunglah para manusia yang menjadikan al-Qur’an sebagai panduannya dalam berakidah, beribadah, berakhlak dan dalam seluruh aspek kehidupannya.

Pejabat yang ingin selamat di dunia dan akhirat, ikutilah al-Qur’an.

Guru yang ingin digugu dan ditiru, ikutilah al-Qur’an.

Orang tua yang ingin dipatuhi putra dan putrinya, ikutilah al-Qur’an.

Pebisnis yang ingin dagangannya laris manis, ikutilah al-Qur’an.

Petani dan pekebun yang ingin berkah panenannya, ikutilah al-Qur’an.

Pendek kata, apapun profesi Anda, bila ingin sukses dan senantiasa mendapatkan bimbingan dari Allah ta’ala, ikutilah al-Qur’an.

Allah ta’ala berfirman,

“إِنَّ هَذَا الْقُرْآنَ يَهْدِي لِلَّتِي هِيَ أَقْوَمُ وَيُبَشِّرُ الْمُؤْمِنِينَ الَّذِينَ يَعْمَلُونَ الصَّالِحَاتِ أَنَّ لَهُمْ أَجْرًا كَبِيرًا “

Artinya: “Sungguh, al-Qur’an ini memberi petunjuk ke (jalan) yang paling lurus. Dan memberi kabar gembira kepada kaum mukminin yang mengerjakan kebajikan, bahwa mereka akan mendapat pahala yang besar”. QS. Al-Isra’ (17): 9.

 

أَلاَ وَصَلُّوْا وَسَلِّمُوْا -رَحِمَكُمُ اللهُ- عَلَى الْهَادِي الْبَشِيْرِ، وَالسِّرَاجِ الْمُنِيْرِ، كَمَا أَمَرَكُمْ بِذَلِكَ اللَّطِيْفُ الْخَبِيْرُ؛ فَقَالَ فِي مُحْكَمِ التَّنْـزِيْلِ: “إِنَّ اللَّهَ وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى النَّبِيِّ يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا صَلُّوا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا تَسْلِيماً”.

اللّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ، اللّهُمَّ بَارِكْ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا بَارَكْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ.

رَبَّنَا ظَلَمْنَا أَنْفُسَنَا وَإِنْ لَمْ تَغْفِرْ لَنَا وَتَرْحَمْنَا لَنَكُوْنَنَّ مِنَ الْخَاسِرِيْنَ

رَبَّنَا اغْفِرْ لَنَا وَلِإِخْوَانِنَا الَّذِيْنَ سَبَقُوْنَا بِالْإِيْمَانِ وَلاَ تَجْعَلْ فِي قُلُوْبِنَا غِلاًّ لِلَّذِيْنَ آمَنُوْا رَبَّنَا إِنَّكَ رَؤُوْفٌ رَحِيْمٌ

اللّهُمَّ انْصُرِ الْمُسْلِمِيْنَ فِى فَلَسْطِيْنَ وسوريا وَبورما، اللّهُمَّ انْصُرْ إِخْوَانَنَا الْمُسْتَضْعَفِيْنَ فِى كُلِّ مَكَانٍ

Ya Allah, tolonglah kaum muslimin di Palestina, Suriah dan Burma. Ya Allah bantulah seluruh saudara-saudara kami yang tertindas di segala penjuru dunia

اللَّهُمَّ أَعِزَّ الإِسْلاَمَ وَالْمُسْلِمِيْنَ، وَوَحِّدِ اللَّهُمَّ صُفُوْفَهُمْ، وَأَجْمِعْ كَلِمَتَهُمْ عَلَى الحَقِّ، وَاكْسِرْ شَوْكَةَ الظَّالِمِينَ، وَاكْتُبِ السَّلاَمَ وَالأَمْنَ لِعِبادِكَ أَجْمَعِينَ.

Ya Allah, muliakanlah Islam dan kaum muslimin. Satukanlah barisan dan kalimat mereka di atas kebenaran. Hancurkanlah kekuatan orang-orang yang zalim. Dan karuniakanlah kedamaian serta keamanan untuk semua hamba-Mu.

اللَّهُمَّ رَبَّنَا احْفَظْ أَوْطَانَنَا وَأَعِزَّ سُلْطَانَنَا وَأَيِّدْهُ بِالْحَقِّ وَأَيِّدْ بِهِ الْحَقَّ يَا رَبَّ العَالَمِيْنَ

Ya Allah, jagalah negeri kami dan kuatkanlah pemerintah kami serta karuniakanlah hidayah kepada mereka, lalu jadikanlah mereka pembela kebenaran ya Rabbal ‘alamien.

رَبَّنَا لَا تُزِغْ قُلُوْبَنَا بَعْدَ إِذْ هَدَيْتَنَا وَهَبْ لَنَا مِنْ لَدُنْكَ رَحْمَةً إِنَّكَ أَنْتَ الْوَهَّابُ

رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الْآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ

وَصَلَّى اللهُ عَلَى نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ وَمَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ الدِّيْنِ

وَالسَّلاَمُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ.

@ Pesantren “Tunas Ilmu”, Kedungwuluh Purbalingga, Ahad, 1 Syawal 1438 / 25 Juni 2017

[1] Lihat: Syarh Shahih Muslim karya an-Nawawi (VI/326).

[2] Maksud dari kata “mahir” di sini adalah: kemampuan yang bagus seorang hamba dalam menghapal dan membaca dengan baik tanpa terbata-bata. Berkat karunia Allah yang telah memudahkan baginya hal tersebut, sebagaimana Allah karuniakan hal serupa kepada para malaikat. Sebab itulah mereka disejajarkan dengan para malaikat. Lihat: Fath al-Bari karya Ibn Hajar al-‘Asqalani (XIII/636).

[3] Baca: Faidh al-Qadîr karya al-Munawiy (IV/535).

Berlangganan artikel Situs Sunnah melalui email, RSS, atau Telegram.