Gencarnya promosi pendidikan seks untuk diterapkan di sekolah-sekolah cukup membuat risau para orang tua. Bagaimana tidak, karena cara penyampaian dan nilai-nilai acuan dasar dalam pendidikan seks yang diterapkan itu sendiri sangat jauh berbeda dengan nilai-nilai Islam.

Padahal dalam Islam, pendidikan seks bukanlah hal yang baru. Namun tujuan dan caranya berbeda dengan pemikiran barat.

Apakah tujuan pendidikan seks itu menurut pandangan barat? Antara lain:

  1. Menekankan pentingnya kesetiaan terhadap pasangan.

Entah itu dalam pernikahan, atau hanya zussamenleben (tinggal bersama), ataupun pacaran.

  1. Menghindari kehamilan di usia remaja.

Maksudnya seks itu boleh saja, tapi jangan sampai hamil. Karena akan menganggu konsentrasi sekolah jika itu terjadi di usia remaja.

  1. Mampu menghindari hubungan seks jika tidak diinginkan atau seks yang tidak aman.

Jadi kalau tidak ingin berhubungan seks dengan orang itu, jangan segan-segan menolak. Tapi kalau suka sama suka, tidak apa-apa, tapi jangan lupa, seks yang aman. Aman itu maksudnya: jangan sampai hamil atau terinfeksi penyakit yang ditularkan akibat hubungan seks yang tidak aman.

Begitulah dangkalnya tuju an pendidikan seks barat yang diajarkan di sekolah-sekolah. Bersamaan dengan itu pula, media-media bebas dengan pertunjukan aurat dan eksploitasi tubuh-tubuh wanita maupun pria. Antara lain melalui film-film remaja, acara olahraga dan iklan yang selalu tak jauh dari seks. Seakan kalau tidak ada unsur seks, tidak mantap, tidak laku, tidak menarik.

Kalau kondisinya seperti itu, mampukah untuk mencapai walau hanya salah satu tujuan pendidikan seks seperti yang disebutkan di atas?

Tentu saja tidak. Bukan hanya tidak mampu mencapai salah satu tujuan tersebut, bahkan lebih parah! Kondisi yang semula ‘hanya’ dalam batas seks bebas atau hamil di luar nikah, kini makin buruk dengan pelecehan seksual pada anak-anak di bawah umur, entah pada anak lelaki atau perempuan. Pernikahan homoseksual sudah menjalar ke mana-mana dan menjadi trend. Dan satu lagi yaitu sex trafficker, menculik dan mempekerjakan sebagai buruh seks dengan tidak pandang bulu dari usia anak-anak sampai remaja, laki-laki atau perempuan. Hal ini menjadi masalah yang mencuat pada beberapa tahun terakhir ini. Naudzubillah min dzalik…

Pemikiran barat yang dielu-elukan sebagai kemajuan masyarakat modern, yang melahirkan perkawinan sesama jenis, pergaulan bebas dan pakaian yang tidak mempedulikan aurat, sebenarnya adalah kemunduran peradaban menuju masyarakat jahiliyah dan primitif.

Adapun tujuan pendidikan seks dalam Islam adalah untuk menjaga keselamatan, kehormatan serta kesucian anak-anak kita di tengah-tengah masyarakat. Dengan demikian, baik anak laki-laki maupun perempuan akan terjaga akhlak dan agamanya sampai masing-masing memasuki jenjang keluarga dengan bersih dan selamat.

Pola pendidikan seksual dalam Islam yang praktis diberikan oleh orang tua kepada anaknya tidaklah melalui metode pembahasan lisan yang menghilangkan rasa malu manusia. Metode pendidikan kenabian yang sejalan dengan fitrah manusia yang malu membicarakan hal-hal yang seronok, karena berdampak menggusur secara bertahap kepekaan terhadap nilai-nilai akhlak yang luhur.

Ini berbeda dengan metode barat yang penuh dengan muatan seronok dalam pendidikan seksual. Karena rangsangan seksual itu tidak memerlukan pembicaraan. Namun timbul karena terlihatnya bagian-bagian yang merangsang dari lawan jenisnya. Karena itulah Islam melakukan pencegahan sedini mungkin agar rangsangan yang bersifat naluriah itu tidak mengakibatkan bahaya bagi anak-anak.

@ Pesantren “Tunas Ilmu” Kedungwuluh Purbalingga, 17 Shafar 1439 / 6 November 2017

The post Silsilah Fiqih Pendidikan Anak #103: Tujuan Pendidikan Seksual appeared first on Tunas Ilmu.

Berlangganan artikel Situs Sunnah melalui email, RSS, atau Telegram.