Sikap Hati-hati dan Menjauhi Harta Haram

May 13, 2016 Artikel, Nasehat 0

Berikut salah satu kisah mengenai tingginya keutamaan Abu Bakar Radliallahu ‘anhu dan besarnya kehati-hatiannya dalam masalah halal dan haram.

Oleh: Ustadz Abdullah bin Taslim al-Buthoni, MA

Siapa yang tidak kenal Abu Bakar ash-Shiddiq Radliallahu ‘anhu? Sahabat Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam yang mulia terkenal karena memiliki banyak keutamaan dan sifat-sifat mulia dalam Islam. Sampai-sampai sahabat  Umar bin al-Khattab Radliallahu ‘anhu memujinya, dengan mengatakan, “Seandainya keimanan Abu Bakar Radliallahu ‘anhu ditimbang dengan keimanan penduduk bumi (selain para Nabi dan Rasul Shallallahu ‘alaihi wa sallam), maka sungguh keimanan beliau Radliallahu ‘anhu  lebih berat dibandingkan keimanan penduduk bumi” (HR. Ishaq bin Rahuyah dalam Musnadnya No. 1266, dan al-Baihaqi dalam Syu’abul iman No. 36 dengan sanad yang sahih).

Kisah berikut mengambarkan tingginya keutamaan Abu Bakar Radliallahu ‘anhu dan besarnya kehati-hatiannya dalam masalah halal dan haram.

Dari ‘Aisyah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bahwa ayahnya, Abu Bakar ash-Shiddiq Radliallahu ‘anhu memiliki seorang budak yang setiap hari membayar setoran kepada Abu Bakar Radliallahu ‘anhu (berupa harta atau makanan) dan beliau makan sehari-hari dari setoran tersebut.

Suatu hari, budak tersebut membawa sesuatu (makanan), dan Abu Bakar Radliallahu ‘anhu memakannya. Budak itu berkata kepada beliau, “Apakah Anda mengetahui apa yang Anda makan ini?” Abu Bakar Radliallahu ‘anhu balik bertanya, “Makanan ini (dari mana)?”Budak itu menceritakan, “Dulu di zaman Jahiliyah, aku pernah melakukan praktek perdukunan untuk seseorang (yang datang kepadaku), padahal aku tidak bisa melakukannya, dan sungguh aku hanya menipu orang tersebut. Kemudian aku bertemu orang tersebut, dia memberikan (hadiah) kepadaku makanan yang Anda makan ini.”Setelah mendengar pengakuan budaknya itu Abu Bakar memasukkan jari tangan beliau ke dalam mulut, lalu beliau memuntahkan semua makanan dalam perut beliau”(HR. Bukhari No. 3629).

Kisah tersebut menggambarkan tingginya ketakwaan dan keimanan Abu Bakar ash-Shiddiq. Beliau sangat berhati-hati menjaga anggota badan beliau dari mengonsumsi makanan yang tidak halal. Inilah aplikasi dari sifat wara’ yang sebenarnya (lihat Bahjatun Nadzirin, 1/649).

Pelajaran

Beberapa pelajaran berharga dapat kita petik dari kisah tersebut.

Pertama, keutamaan Abu Bakar ash-Shiddiq Radhiyallahu ‘anhu bukan hanya pada amal perbuatan anggota badan beliau. Tapi karena sempurnanya keimanan dan ketakwaan dalam hati beliau. Imam Abu Bakar bin ‘Ayyaasy (seorang ulama generasi tabi’in) mengatakan, “Tidaklah Abu Bakar ash-Shiddiq Radhiyallahu ‘anhu mengungguli kalian dalam kebaikan dengan semata-mata banyak berpuasa dan sholat, akan tetapi karena sesuatu kesempurnaan iman dan takwa di dalam hati beliau”(Miftah Daris Sa’adah, Ibnul Qoyim, 1/82).

Kedua, berhati-hati dalam masalah halal dan haram mencerminkan ketakwaan seorang hamba. Karena dengan sifat ini, kebaikan agama seseorang akan selalu terjaga dengan izin Allah Ta’ala. Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa salam bersabda, “Barangsiapa yang menjaga diri dari hal-hal yang samar (belum jelas status halal atau haramnya), maka sungguh dia telah menjaga kesucian agama dan kehormatannya. Dan barangsiapa yang terjerumus ke dalam hal-hal yang samar tersebut, maka berarti dia telah terjerumus ke dalam perkara yang haram (dilarang dalam Islam) …” (HR. Muslim, No. 1599).

Ketiga, termasuk bentuk aplikasi sifat wara’ adalah tidak memakan makanan dan menerima pemberian dari seseorang yang diketahui dengan yakin hartanya bersumber dari penghasilan yang haram, kecuali jika dia punya sumber penghasilan lain yang halal (hartanya bercampur dengan barang haram) (lihat Bahjatun Nazhirin, 1/649).

Keempat, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Tidak akan masuk surga daging yang tumbuh dari (makanan) yang haram dan neraka lebih layak baginya”(HR Ahmad, 3/321, Daarimi No. 2776, dan disahihkan Al-Albani).

Kelima, haramnya dan tercelanya praktek perdukunan dalam segala bentuknya. Serta larangan mendatangi apalagi mempercayai para dukun dan tukang ramal. Karena hal ini termasuk dosa yang sangat besar bahkan bisa membawa kepada kekafiran. Rasululah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,  “Barangsiapa yang mendatangi tukang ramal (orang yang mengaku mengetahui ilmu gaib, termasuk dukun dan tukang sihir), kemudian bertanya tentang sesuatu hal kepadanya, maka tidak akan diterima sholat orang tersebut selama empat puluh malam (hari)” (HR. Muslim No. 2230).

Dalam hadis lain, beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Barangsiapa yang mendatangi dukun atau tukang ramal kemudian membenarkan ucapannya, maka sungguh dia telah kafir terhadap agama yang diturunkan kepada Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam”(HR Ahmad, 2/429 dan Hakim, 1/49, dan disahihkan Al-Albani).

Keenam, maksud praktek perdukunan dalam kisah ini adalah meramalkan kejadian yang akan datang tanpa adanya bukti-bukti yang membenarkan. Ini termasuk perbuatan yang membawa kepada kekafiran, karena perkara yang gaib tidak ada yang mengetahuinya kecuali Allah Ta’ala. Allah berfirman, yang artinya, “Katakanlah: Tidak ada seorang pun di langit dan di bumi yang mengetahui perkara yang gaib, kecuali Allah, dan mereka tidak mengetahui bilamana mereka akan dibangkitkan” (QS an-Naml: 65).

Ketujuh, upah/harga dari pekerjaan yang dilarang dalam agama adalah haram dan tidak boleh dimakan. Dari Abu Mas’ud Al-Anshari Radliallahu ‘anhu bahwa Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam melarang hasil (penjualan) anjing, upah (dari) pelacuran dan upah/hadiah (dari praktek) perdukunan (HR. Bukhari No. 2122 dan Muslim No 1567).

PengusahaMuslim.com didukung oleh Zahir Accounting Software Akuntansi Terbaik di Indonesia.

  • SPONSOR hubungi: 081 326 333 328
Artikel Terkait

Berlangganan artikel Situs Sunnah melalui email, RSS, atau Telegram.