Oleh Al-Akh Ibnu ‘Ali


Para pembaca yang budiman, telah kita ketahui bersama bahwasanya kesyirikan merupakan dosa yang paling besar. Apabila pelakunya meninggal dan belum sempat bertaubat, maka Alloh tidak akan mengizinkan baginya untuk memasuki surga dan ia akan kekal berada di dalam neraka. Hal ini sebagaimana firman Alloh yang artinya, “Sesungguhnya orang yang mempersekutukan Allah, maka pasti Allah mengharamkan baginya surga, dan tempatnya ialah neraka, tidaklah ada bagi orang-orang zalim itu seorang penolongpun.” (Al Maidah : 72)

Mengingat begitu besarnya bahaya kesyirikan ini, maka Alloh dan Rosul-Nya telah mengharamkan setiap perkataan ataupun perbuataan yang dapat mengantarkan seseorang terjerumus dalam perkara yang besar ini. Nabi kita Muhammad Shollallohu ‘alaihi wassalam adalah orang yang sangat menginginkan kebaikan serta keselamatan bagi umatnya dari sebab-sebab yang dapat mendatangkaan kebinasaan. Alloh berfirman yang artinya, “Sungguh telah datang kepadamu seorang Rasul dari kaummu sendiri, berat terasa olehnya penderitaanmu, sangat menginginkan (keimanan dan kebaikan) bagimu, amat belas kasihan lagi penyayang terhadap orang-orang mukmin.” (At-Taubah:128)

Oleh karena itulah, rasa kasih sayang beliau telah mendorongnya untuk menjelaskan kepada kita sebab-sebab yang dapat mengantarkan seseorang terjerumus kedalam kesyirikan -semoga Alloh melindungi kita dari sebab-sebab ini-. Diantara sebab-sebab tersebut adalah:

1. Ghuluw (berlebihan) terhadap orang sholih

Nabi kita telah memperingatkan bahaya ghuluw ini, beliau bersabda, “Hati-hatilah kalian terhadap perbuatan ghuluw, karena perkara yang menghancurkan orang-orang sebelum kalian adalah perbuatan ghuluw.” (HR. Ahmad dan Ibnu Hibban dengan sanad yang shohih). Perbuatan ghuluw inilah yang menjadi sebab terjadinya kesyirikan pertama kali di muka bumi sebagaimana kisah yang diceritakan oleh Ibnu Abbas tatkala menyebutkan nama-nama patung yang di sembah oleh orang-orang jahiliyah. Beliau berkata, “(Nama-nama patung itu adalah) nama-nama untuk para lelaki sholih pada kaum Nabi Nuh, tatkala mereka telah meninggal, syetan memberikan wangsit kepada orang-orang di zaman itu untuk membuat patung-patung mereka di majlis tempat orang-orang sholih itu (tatkala hidupnya). Setanpun memberikan wangsit agar menamai patung-patung itu sesuai dengan nama-nama orang sholih tersebut. Namun pada saat itu patung-patung tersebut belum disembah. Sampai pada akhirnya tatkala orang-orang yang membuat patung tersebut telah meninggal dan muncul generasi yang tidak lagi mengenal ilmu tauhid, akhirnya patung-patung itupun disembah (oleh generasi sesudahnya).” (HR. Bukhori)

Perbuatan ghuluw terhadap orang sholih ini dapat berupa berlebihan dalam memujinya dan masuk dalam kategori ini adalah melukis orang-orang sholih tersebut kemudian memajangnya di tempat-tempat tertentu. Ini semua diharamkan di dalam Islam. Namun di sinilah banyak kaum muslimin terjebak. Tidak sedikit mereka menempelkan gambar tokoh-tokoh (sekalipun itu tokoh agama) di rumah-rumah dan masjid-masjid mereka. Semoga Alloh memberikan petunjuk-Nya kepada kita sekalian.

2. Tabarruk

Tabarruk adalah mencari berkah. Tabarruk yang dimaksudkan di sini adalah jenis tabbaruk yang terlarang, dimana seseorang mempunyai keyakinan bahwa Alloh menjadikan pada sesuatu mempunyai barokah yang mana tidak ada dalil syar’i yang menunjukkan adanya hal tersebut. Hal ini diharamkan karena telah menjadikan suatu sebab yang pada hakikatnya bukan sebab. Diantara jenis tabarruk yang telarang adalah:

a) Bertabarruk kepada para wali dan orang yang sholih selain Nabi Muhammad Shollallohu ‘alaihi wassalam (ketika beliau masih hidup).

Tabarruk jenis ini dapat melalui jasad dari orang yang sholih ataupun bekas sesuatu yang dipakai oleh orang sholih tersebut, misalnya pakaiannya, pecinya, gelas tempat minumnya ataupun yang lain. Para Sahabat Nabi telah bersepakat bahwa perkara ini tidaklah disyariatkan. Al-Hafidz Ibnu Rojab Al-Hambali menyebutkan sebuah kisah bahwasanya ada seorang lelaki datang kepada Imam Ahmad (yaitu Imam Ahmad bin Hambal, salah satu Imam Madzhab yang empat. Beliau adalah murid dari Al-Imam As-Syafi’i). Lelaki tersebut kemudian mengusapkan kedua tangannya ke baju Imam Ahmad. Lalu ia mengusap wajahnya dengan kedua tangan tersebut dengan maksud untuk memdapat berkah dari baju imam Ahmad. Melihat hal ini Imam Ahmad marah dan mengingkari dengan keras perbuatan orang tersebut. Beliau berkata, “Darimana kamu mengambil perkara ini?!”.

b) Tabarruk dengan tempat tertentu yang tidak ada dalil yang mensyari’atkannya

Tabarruk jenis ini misalnya pergi untuk berziarah ke tempat tertentu dengan keyakinan tempat tersebut mempunyai nilai lebih dalam beribadah kepada Alloh di bandingkan tempat-tempat lain, misalnya meyakini bahwa jika beribadah di tempat tersebut lebih mudah dikabulkan doanya ataupun lebih banyak pahalanya. Perbuatan semaacam ini diharamkan kecuali untuk tiga tempat, sebagaimana sabda Nabi Shollallohu ‘alaihi wassalam, “Tidak boleh seseorang bersafar (dalam rangka mengunjungi suatu tempat untuk megkhususkan ibadah, pen) kecuali ke tiga masjid yaitu masjidku ini (yaitu Masjid Nabawi), Masjidil harom dan Masjidil Aqsho.” (HR. Bukhori, Muslim). Diriwayatkan pula bahwasanya tatkala Umar bin Khothob melihat satu rombongan yang baru saja pulang dari ibadah haji. Mereka menghentikan perjalanannya dan sholat di suatu masjid. Maka Umar bertanya kepada mereka (tentang sholatnya mereka di masjid tersebut). Merekapun menjawab, “Ini adalah masjid yang pernah dipakai sholat oleh Rosululloh Shollallohu ‘alaihi wassalam.” Mendengar jawaban ini, Umarpun berkata, “Bahwasanya yang menyebabkan kebinasaan orang-orang sebelum kalian adalah karena mereka mengambil bekas dari nabi mereka sebagai gereja (tempat untuk ibadah). Barang siapa yang melewati masjid ini dan telah datang waktu sholat, maka sholatlah. (Namun apabila belum datang waktu sholat), maka berlalulah.”

3. Membangun masjid diatas kubur

Rosululloh telah melarang kepada kita untuk menjadikan kuburan sebagai tempat ibadah. Beliau Shollallohu ‘alaihi wassalam bersabda, “Ketahuilah bahwasnya orang-orang sebelum kalian, mereka itu menjadikan kubur para nabi dan orang-orang sholih sebagai masjid. Sesungguhnya aku melarang kalian dari yang demikian itu.” (HR. Muslim). Dan salah satu makna menjadikan kubur sebagai masjid adalah membangun masjid di atasnya. Makna yang lainnya yaitu menjadikan kubur tersebut sebagai tempat untuk ibadah seperti sholat dan membaca Al Quran, walaupun tidak ada masjid disana. Perkara ini adalah haram berdasarkan kesepakatan para sahabat.

Perbuatan tersebut dapat menjerumuskan seseorang ke dalam kesyirikan. Para sahabat juga telah bersepakat tentang tidak bolehnya mengubur seseorang di dalam masjid serta bersepakat tentang wajibnya menghancurkan masjid yang di bangun di atas kubur. Namun yang perlu kita perhatikan di sini adalah bahwasanya urusan menghancurkan masjid yang dibangun di atas kuburan adalah bukanlah hak setiap orang, akan tetapi ini adalah hak pemerintah atau orang yang diberi kewenangan oleh pemerintah. Hal ini karena jika setiap orang diberi hak tersebut niscaya akan timbul kemudhorotan yang lebih besar, misalnya timbulnya kekacauan di dalam masyarakat, pertumpahan darah diantara kaum muslimin dan lain-lain. Adapun yang menjadi kewajiban kita adalah memberikan nasehat serta penjelasan dengan cara yang terbaik kepada masyarakat agar mereka menjadi mengerti serta mau melaksanakan hukum-hukum yang telah diturunkan Alloh.

Sidang pembaca yang budiman, inilah diantara contoh perkara-perkara yang dapat mengantarkan seseorang terjerumus ke dalam kesyirikan. Kita berdo’a kepada Alloh agar menjauhkan kita semua dari perkara-perkara yang dapat membinasakan kita terutama perkara yang dapat menjerumuskan kita ke dalam kesyirikan yang merupakan dosa yang terbesar. Dan kita juga berdo’a kepada Alloh untuk memberikan taufiq kepada para pemimpin kita agar mempunyai perhatian yang besar terhadap permasalahan ini dengan menutup dan menghancurkan sarana-sarana yang dapat menjerumuskan rakyatnya kedalam kesyirikan. Sesungguhnya Alloh Maha Mendengar do’a. (Disarikan point-pointnya oleh Ibnu ‘Ali dari makalah yang disampaikan oleh Syaikh Abdulloh bin Abdul Aziz Al-Jibrin dalam sebuah dauroh yang diberi judul Al-Aqidah Al-Islamiyah hal 84-144 dengan berberapa tambahan)

[[ Sumber: kumpulan file artikel Buletin At-Tauhid, Yogyakarta]]

Sebarkan Artikel ini, Berpahala Insya Allah

Berlangganan artikel Situs Sunnah melalui email, RSS, atau Telegram.