Dalam Islam, jika ada dua calon pemimpin:

yang pertama: cukup shalih tapi sifat pribadinya tegas dan kuat

Yang kedua: agamanya bagus sekali dan shalih tapi sifat pribadinya kurang tegas atau lemah
Maka didahulukan yang pribadinya kuat dan tegas, karena dalam kasus ini, agama lebih bermanfaat hanya untuk pribadi orang tersebut, sedangkan tegas dan kuat lebih bermanfaat untuk yang dipimpin dan kaum muslimin
Kaidah inilah yang dijelaskan oleh Ibnu Taimiyyah, beliau berkata:
ﻭَﺃَﻣَّﺎ ﺍﻟﺼَّﺎﻟِﺢُ ﺍﻟﻀَّﻌِﻴﻒُ ﻓَﺼَﻠَﺎﺣُﻪُ ﻟِﻨَﻔْﺴِﻪِ ، ﻭَﺿَﻌْﻔُﻪُ ﻋَﻠَﻰ ﺍﻟْﻤُﺴْﻠِﻤِﻴﻦَ 
“Adapun orang yang shalih (agama bagus) maka kebaikan itu untuk dirinya, sedangkan kelemahan (sifatnya) untuk kaum muslimin.” [1]
Karenanya bisa jadi pimpinan pondok pesantren tidak harus ustadz atau orang shalih.
Contoh kasus pertama: 

Yaitu shalih tetapi tidak tegas

Adalah kisah sahabag Abu Dzar yang ingin ikut berdakwah mengurus pembagian harta. Beliau sangat shalih dan rajin Ibadah, tetapi kurang tegas dan terlalu mudah kasihan kepada orang
Sehingga beliau tidak cocok memegang hal ini dan beliau tidak direkomendasikan menjadi pemimpin oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam

ﻋَﻦْ ﺃَﺑِﻲ ﺫَﺭِّ ﺃَﻥَّ ﺭَﺳُﻮﻝُ ﺍﻟﻠَّﻪِ ﺻَﻠَّﻰ ﺍﻟﻠَّﻪُ ﻋَﻠَﻴْﻪِ ﻭَﺳَﻠَّﻢَ ﻗَﺎﻝَ : ﻳَﺎ ﺃَﺑَﺎ ﺫَﺭِّ ﺇِﻧِّﻲ ﺃَﺭَﺍﻙَ ﺿَﻌِﻴﻔَﺎ، ﻭَﺇِﻧِّﻲ ﺃُﺣِﺐُّ ﻟَﻚَ ﻣَﺎ ﺃُﺣِﺐُّ ﻟِﻨَﻔْﺴِﻲ، ﻻَ ﺗَﺄَﻣَﺮَﻥَّ ﻋَﻠَﻰ ﺍﺛْﻨَﻴﻦِ، ﻭَﻻَ ﺗَﻮَ ﻟَّﻴَﻦَّ ﻣَﺎﻝَ ﻳَﺘِﻴْﻢِ
Dari Abu Dzar bahwasanya Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, 

‘Hai Abu Dzar sesungguhnya aku melihatmu LEMAH dan sesungguhnya aku mencintai untukmu apa yang kucintai untuk diriku, JANGANLAH sekali-kali engkau MEMIMPIN dua orang dan janganlah sekali-kali engkau mengurus harta anak yatim”.[2]
Contoh  sifat tegas pemimpin:
Kita lihat contoh sikap yang sangat tegas dari Raja sekaligus nabi yaitu Nabi Sulaiman, burung Hud-Hud yang tidak tepat waktu berkumpul. Maka di depan bawahannya, ia mengatakan akan menghukum berat hud-hud serta akan menyembelihnya.
ﻭَﺗَﻔَﻘَّﺪَ ﺍﻟﻄَّﻴْﺮَ ﻓَﻘَﺎﻝَ ﻣَﺎ ﻟِﻲَ ﻟَﺎ ﺃَﺭَﻯ ﺍﻟْﻬُﺪْﻫُﺪَ ﺃَﻡْ ﻛَﺎﻥَ ﻣِﻦَ ﺍﻟْﻐَﺎﺋِﺒِﻴﻦَ﴿٢٠﴾ﻟَﺄُﻋَﺬِّﺑَﻨَّﻪُ ﻋَﺬَﺍﺑًﺎ ﺷَﺪِﻳﺪًﺍ ﺃَﻭْ ﻟَﺄَﺫْﺑَﺤَﻨَّﻪُ ﺃَﻭْ ﻟَﻴَﺄْﺗِﻴَﻨِّﻲ ﺑِﺴُﻠْﻄَﺎﻥٍ ﻣُﺒِﻴﻦٍ
“Dan dia memeriksa burung-burung lalu berkata : “Mengapa aku tidak melihat Hud-hud apakah dia termasuk yang tidak hadir. Sungguh aku benar-benar akan mengazabnya dengan ADZAB YANG KERAS, atau benar-benar MENYEMBELIHNYA kecuali jika benar-benar dia datang kepadaku dengan yang terang”.” [An-Naml/27 : 20]
Demikian semoga bermanfaat
@Madinah, Kota Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam
Penyusun: Raehanul Bahraen
Artikel www.muslimafiyah.com

Catatan kaki:
[1] Majmu’ Fatawa 28/254
[2] HR. Muslim

Berlangganan artikel Situs Sunnah melalui email, RSS, atau Telegram.