Khutbah Pertama:

الحمد لله رب العالمين، أمر بالصدق والإخلاص ونهى عن الشرك والنفاق وأشهد أن لا إله إلا الله وحده لا شريك له، ولا نعبد إلا إياه مخلصين له الدين، وأشهد أن محمد عبده ورسوله الصادق الأمين صلى الله عليه وعلى آله وأصحابه ومن تبعهم بإحسان إلى يوم الدين وسلم تسليما كثيرا أما بعد أيها الناس:

ibadallah,

Bertakwalah kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala.

وَكُونُوا مَعَ الصَّادِقِينَ

“Dan hendaklah kamu bersama orang-orang yang benar.” [Quran At-Taubah:119].

Karena sesungguhnya Allah Subhanahu wa Ta’ala telah mengutus seorang Rasul dengan petunjuk dan agama yang benar kepada seluruh manusia. Rasul tersebut memberikan kabar gembira dan peringatan. Ia juga berdakwah dan berjihad di jalan Allah. Berimanlah beberapa gelintir orang di awal dakwahnya. Kemudian semakin banyak dan sekamin banyak. Tapi, orang-orang musyrik di Mekah berusaha menghalangi mereka. Mereka membuat gangguan, intimidasi, dan siksaan. Kecuali mereka yang memiliki kabilah kuat yang melindungi.

Semakin hari, semakin keras gangguan mereka terhadap umat Islam. Demikian juga terhadap Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Karena demikianlah orang-orang kafir mereka menghalangi manusia dari jalan Allah. Mereka menghalangi manusia dari agama Allah ‘Azza wa Jalla. Pada saat itulah Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam mengizinkan para sahabatnya untuk berhijrah ke Habasyah. Karena di Habasyah terdapat seorang raja yang adil. Yang tidak menzhalimi seorang pun yang ada di wilayahnya.

Para sahabat pun hijrah ke Habasyah. Dan tinggal di sana. Mereka tinggal dan bebas menjalankan praktik agama tanpa mengalami gangguan dari orang-orang kafir. Kemudian sampai kabar kepada mereka bahwa penduduk Mekah telah memeluk Islam. Mereka pun kembali ke Mekah. Tapi, realita yang mereka saksikan malah lebih parah dari sebelumnya. Kabar yang mereka terima ternyata keliru. Mereka pun kembali lagi ke Habasyah untuk kali yang kedua.

Kemudian semakin beratlah intimidasi yang dilakukan oleh orang-orang kafir Quraisy terhadap kaum muslimin. Mereka khawatir umat Islam lainnya akan menyusul hijrah ke Habasyah. Pada saat itulah Allah Subhanahu wa Ta’ala mengizinkan kaum muslimin hijrah ke Madinah. Dan pada saat itu jamaah kaum Anshar telah memeluk Islam. Penduduk Madinah ini telah bersumpah setia -di Baiat Aqabah- kepada Rasulullah untuk menyediakan Yatsrib sebagai negeri baru untuk Rasulullah dan kaum muhajirin.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mengizinkan para sahabatnya untuk hijrah ke Madinah menuju saudara-saudara mereka kaum Anshar. Sampai akhirnya, tersisa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam yang terakhir berhijrah. Beliau berdoa kepada Allah mengadukan perihal kerasnya gangguan kaum musyrikin. Allah pun mengizinkan beliau untuk berhijrah menyusul para sahabatnya.

Keadaan pun semakin genting. Mereka bermusyawarah untuk membunuh Rasulullah.

وَإِذْ يَمْكُرُ بِكَ الَّذِينَ كَفَرُوا

“Dan (ingatlah), ketika orang-orang kafir (Quraisy) memikirkan daya upaya terhadapmu.” [Quran Al-Anfal: 30].

Mereka membuat makar terhadap Rasulullah. Rencana mereka adalah melakukan salah satu dari tiga hal kepada Rasulullah. Pertama, menahannya hingga wafat. Kedua, mengasingkannya dari Mekah. Dan ketiga, membunuhnya. Dan mereka sepakat pada pilihan yang ketiga.

Orang-orang Mekah mengepung rumah Nabi dengan menghunus pedang dan senjata lainnya. Mereka menunggu nabi keluar rumah. Dan Allah Subhanahu wa Ta’ala telah mengabarkan beliau akan keadaan genting ini. Akhirnya, nabi keluar dari rumahnya sementara mereka tidak sadar dengan kehadiran beliau.

Beliau keluar bersama sahabatnya, Abu Bakar menuju Gua Tsur. Keduanya bersembunyi di dalamnya. Sampai orang-orang musyrik pun merasa putus asa untuk menangkap keduanya. Setelah keluar dari Gua Tsur, Abu Bakar menyewa dua hewan tunggangan. Dan keduanya pun mengendarainya menuju Madinah. Dengan nikmat Allah, keduanya sampai dengan selamat.

Kemudian, Allah mengizinkan kaum muslimin untuk berjihad di jalan Allah. Saat itu Islam telah kokoh di Madinah dan para sahabat pun telah banyak dan kuat. Hingga saat ini, tidak ada orang kafir yang berkamuflase sebagai seorang muslim. Yang kufur tetap kufur. Tidak ada yang berpura-pura memeluk Islam untuk “bermain aman”. Sampai akhirnya, muncullah orang-orang yang di hatinya tetap dalam kekufuran namun secara zahir menampakkan keislaman. Sehingga masyarakat saat itu terbagi menjadi tiga golongan:

Pertama: orang-orang yang murni kafir. Yang secara zahir dan batin kafir.

Kedua: orang-orang yang murni beriman. Yang secara zahir dan batin beriman.

Ketiga: orang-orang yang beriman secara zahir, tapi dalam batinnya kafir. Orang-orang inilah yang disebut munafik.

Orang-orang munafik ini selalu menyebarkan keburukan di tengah-tengah kaum muslimin. Mereka memata-matai umat Islam. Hidup bersama kaum muslimin. Dan jumlah mereka lebih banyak lagi setelah terjadi kemenangan kaum muslimin di Perang Badar. Perang dimana Allah memberi pertolongan kepada umat Islam atas kafir Quraisy. Sehingga tokoh-tokoh mereka tewas di Badar.

Orang-orang yang mencari aman ini pun memeluk Islam. Zahir mereka Islam, tapi batin mereka kufur. Mereka merendahkan dan menyakiti kaum muslimin dengan cara yang tidak disadari. Karena itu, Allah turunkan firman-Nya yang menjelaskan tentang mereka di awal surat Al-Baqarah. Dalam surat ini, Allah menjelaskan tentang orang-orang beriman, tentang orang-orang yang kafir, dan tentang orang-orang munafik. Di awal surat terdapat empat ayat yang menjelaskan tentang orang-orang beriman:

الَّذِينَ يُؤْمِنُونَ بِالْغَيْبِ وَيُقِيمُونَ الصَّلاة وَمِمَّا رَزَقْنَاهُمْ يُنفِقُونَ* وَالَّذِينَ يُؤْمِنُونَ بِمَا أُنْزِلَ إِلَيْكَ وَمَا أُنْزِلَ مِنْ قَبْلِكَ وَبِالآخرَةِ هُمْ يُوقِنُونَ* أُوْلَئِكَ عَلَى هُدًى مِنْ رَبِّهِمْ وَأُوْلَئِكَ هُمْ الْمُفْلِحُونَ

“(yaitu) mereka yang beriman kepada yang ghaib, yang mendirikan shalat, dan menafkahkan sebahagian rezeki yang Kami anugerahkan kepada mereka. dan mereka yang beriman kepada Kitab (Al Quran) yang telah diturunkan kepadamu dan Kitab-kitab yang telah diturunkan sebelummu, serta mereka yakin akan adanya (kehidupan) akhirat. Mereka itulah yang tetap mendapat petunjuk dari Tuhan mereka, dan merekalah orang-orang yang beruntung.” [Quran Al-Baqarah: 2-5].

Tentang orang-orang kafir, Allah Ta’ala turunkan firman-Nya:

إِنَّ الَّذِينَ كَفَرُوا سَوَاءٌ عَلَيْهِمْ ءأَنذَرْتَهُمْ أَمْ لَمْ تُنذِرْهُمْ لا يُؤْمِنُونَ* خَتَمَ اللَّهُ عَلَى قُلُوبِهِمْ وَعَلَى سَمْعِهِمْ وَعَلَى أَبْصَارِهِمْ غِشَاوَةٌ وَلَهُمْ عَذَابٌ عَظِيمٌ

“Sesungguhnya orang-orang kafir, sama saja bagi mereka, kamu beri peringatan atau tidak kamu beri peringatan, mereka tidak juga akan beriman. Allah telah mengunci-mati hati dan pendengaran mereka, dan penglihatan mereka ditutup. Dan bagi mereka siksa yang amat berat.” [Quran Al-Baqarah:6-7].

Dan Allah menurunkan juga firman-Nya tentang orang-orang munafik. Dengan jumlah ayat yang lebih banyak. Ada belasan ayat yang Allah turunkan tentang orang-orang munafik. Dari ayat:

وَمِنْ النَّاسِ مَنْ يَقُولُ آمَنَّا بِاللَّهِ وَبِالْيَوْمِ الآخِرِ وَمَا هُمْ بِمُؤْمِنِينَ* يُخَادِعُونَ اللَّهَ وَالَّذِينَ آمَنُوا وَمَا يَخْدَعُونَ إِلاَّ أَنفُسَهُمْ وَمَا يَشْعُرُونَ

Di antara manusia ada yang mengatakan: “Kami beriman kepada Allah dan Hari kemudian,” pada hal mereka itu sesungguhnya bukan orang-orang yang beriman. Mereka hendak menipu Allah dan orang-orang yang beriman, padahal mereka hanya menipu dirinya sendiri sedang mereka tidak sadar.” [Quran Al-Baqarah: 8-9].

sampai firman-Nya:

يَا أَيُّهَا النَّاسُ اعْبُدُوا رَبَّكُمْ الَّذِي خَلَقَكُمْ وَالَّذِينَ مِنْ قَبْلِكُمْ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُونَ

“Hai manusia, sembahlah Tuhanmu yang telah menciptakanmu dan orang-orang yang sebelummu, agar kamu bertakwa.” [Quran Al-Baqarah: 21].

Oleh karena itu, orang-orang munafik itu lebih buruk. Dan kejahatan mereka lebih jahat dari orang-orang yang memang benar-benar kafir. Karena orang-orang beriman mengenal orang-orang kafir. Mereka mewaspadai makar-makar orang-orang kafir. Adapun orang-orang munafik sulit. Karena mereka menampakkan keislaman dan menyembunyikan kekufuran mereka di tengah-tengah kaum muslimin. Dalam keadaan itu mereka terus-menerus menebarkan bahaya. Mereka menampilkan penampilan yang menarik. Dan kalimat-kalimat fasih keluar dari lisan mereka.

وَإِذَا رَأَيْتَهُمْ تُعْجِبُكَ أَجْسَامُهُمْ وَإِنْ يَقُولُوا تَسْمَعْ لِقَوْلِهِمْ كَأَنَّهُمْ خُشُبٌ مُسَنَّدَةٌ يَحْسَبُونَ كُلَّ صَيْحَةٍ عَلَيْهِمْ هُمْ الْعَدُوُّ فَاحْذَرْهُمْ قَاتَلَهُمْ اللَّهُ أَنَّى يُؤْفَكُونَ

“Dan apabila kamu melihat mereka, tubuh-tubuh mereka menjadikan kamu kagum. Dan jika mereka berkata kamu mendengarkan perkataan mereka. Mereka adalah seakan-akan kayu yang tersandar. Mereka mengira bahwa tiap-tiap teriakan yang keras ditujukan kepada mereka. Mereka itulah musuh (yang sebenarnya) maka waspadalah terhadap mereka; semoga Allah membinasakan mereka. Bagaimanakah mereka sampai dipalingkan (dari kebenaran)?” [Quran Al-Munafiqun: 4].
Tentang orang-orang munafik ini, Allah jelaskan dalam banyak ayat. Bahkan sampai-sampai Allah turunkan satu surat khusus yang menjelaskan tentang mereka . Yaitu surat Al-Munafiqun. Tentu hal ni menunjukkan betapa seriusnya bahaya mereka terhadap kaum muslimin.

Orang-orang munafik ini memiliki ciri-ciri tertentu. Sebagaimana sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam,

آيَةُ الْمُنَافِقِ ثَلاَثٌ: إِذَا حَدَّثَ كَذَبَ، وَإِذَا وَعَدَ أَخْلَفَ، وَإِذَا ائْتُمِنَ خَانَ. رواه البخاري ومسلم

“Tanda-tanda orang munafik ada tiga : Apabila berbicara, ia dusta; apabila berjanji, ia mengingkari; dan apabila diberi amanat, ia berkhianat.” [HR. Bukhari dan Muslim].

Inilah sifat kemanfikan yang tampak. Yang bisa diketahui dan dipahami. Mereka tidak jujur kepada Allah Jalla wa ‘Ala. Mereka tidak jujur kepada manusia. Wajib mewaspadai mereka dengan tingkat kewaspadaan yang tinggi. Dan betapa banyak jumlah mereka di zaman sekarang ini. Mereka hidup di tengah-tengah kaum muslimin. Dan mereka juga dari keturunan kita kaum muslimin. Mereka menghembuskan keragu-raguan, syubhat, kejahatan. Dan mereka sering menggembar-gemborkan sekulerisme.

Tentu mereka tidak terus terang dalam kemunafikan itu. Karena mereka mengaku Islam. Waspadailah keburukan mereka.

الْمُنَافِقُونَ وَالْمُنَافِقَاتُ بَعْضُهُمْ مِنْ بَعْضٍ يَأْمُرُونَ بِالْمُنْكَرِ وَيَنْهَوْنَ عَنْ الْمَعْرُوفِ وَيَقْبِضُونَ أَيْدِيَهُمْ نَسُوا اللَّهَ فَنَسِيَهُمْ إِنَّ الْمُنَافِقِينَ هُمْ الْفَاسِقُونَ

“Orang-orang munafik laki-laki dan perempuan. sebagian dengan sebagian yang lain adalah sama, mereka menyuruh membuat yang munkar dan melarang berbuat yang ma’ruf dan mereka menggenggamkan tangannya. Mereka telah lupa kepada Allah, maka Allah melupakan mereka. Sesungguhnya orang-orang munafik itu adalah orang-orang yang fasik.” [Quran At-Taubah: 67].

Inilah di antara sifat buruk mereka.

Sifat-sifat zahir mereka di antaranya adalah suka mengakhirkan shalat dari waktunya. Tidak turut serta dalam shalat jamaah awal waktu di masjid. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

أَثْقَلُ الصَّلاَةِ عَلَى الْمُنَافِقِيْنَ صَلاَةُ الْعِشَاءِ وَصَلاَةُ الْفَجْرِ، وَلَوْ يَعْلَمُوْنَ مَا فِيْهِمَا لَأَتَوْهُمَا وَلَوْ حَبْوًا، وَالَّذِيْ نَفْسُ مُحَمَّدٍ بِيَدِهِ لَوْ يَعْلَمُ أَحَدُهُمْ أَنَّهُ يَجِدُ عَرْقًا سَمِينًا أَوْ مِرْمَاتَيْنِ حَسَنَتَيْنِ لَشَهِدَ الْعِشَاءَ

“Shalat paling berat atas kaum munafikin ialah shalat ‘Isya’ dan shalat Subuh. Seandainya mereka mengetahui keutamaan pada kedua shalat itu, niscaya mereka akan mendatanginya meski dengan merangkak. Demi Dzat, yang jiwa Muhammad berada di tangan-Nya, seandainya salah seorang dari mereka akan memperoleh tulang (dari kambing) yang gemuk atau daging yang terletak diantara dua kuku yang bagus, niscaya ia akan mendatangi shalat Isya` (karena tujuan itu).”

Allah Jalla wa ‘Ala berfirman,

وَلا يَأْتُونَ الصَّلاةَ إِلاَّ وَهُمْ كُسَالَى وَلا يُنفِقُونَ إِلاَّ وَهُمْ كَارِهُونَ

“Dan mereka tidak mengerjakan sembahyang, melainkan dengan malas dan tidak (pula) menafkahkan (harta) mereka, melainkan dengan rasa enggan.” [Quran At-Taubah: 54].

وَإِذَا قَامُوا إِلَى الصَّلاةِ قَامُوا كُسَالَى يُرَاءُونَ النَّاسَ وَلا يَذْكُرُونَ اللَّهَ إِلاَّ قَلِيلاً* مُذَبْذَبِينَ بَيْنَ ذَلِكَ لا إِلَى هَؤُلاءِ وَلا إِلَى هَؤُلاءِ

“Dan apabila mereka berdiri untuk shalat mereka berdiri dengan malas. Mereka bermaksud riya (dengan shalat) di hadapan manusia. Dan tidaklah mereka menyebut Allah kecuali sedikit sekali. Mereka dalam keadaan ragu-ragu antara yang demikian (iman atau kafir): tidak masuk kepada golongan ini (orang-orang beriman) dan tidak (pula) kepada golongan itu (orang-orang kafir).” [Quran An-Nisa:142-143].

Maksudnya, mereka tidak berada dalam kelompok orang-orang beriman. Bahkan tidak pula setia sesama mereka. Allah Ta’ala berfirman,

وَإِذَا لَقُوا الَّذِينَ آمَنُوا قَالُوا آمَنَّا وَإِذَا خَلَوْا إِلَى شَيَاطِينِهِمْ قَالُوا إِنَّا مَعَكُمْ إِنَّمَا نَحْنُ مُسْتَهْزِئُونَ

“Dan bila mereka berjumpa dengan orang-orang yang beriman, mereka mengatakan: “Kami telah beriman”. Dan bila mereka kembali kepada syaitan-syaitan mereka, mereka mengatakan: “Sesungguhnya kami sependirian dengan kamu, kami hanyalah berolok-olok”.” [Quran Al-Baqarah: 14].

Mereka mengolok-olok Allah, Rasul-Nya, dan kaum muslimin. Mereka sangka mereka telah menipu Allah Jalla wa Ala.

إِنَّ الْمُنَافِقِينَ يُخَادِعُونَ اللَّهَ وَهُوَ خَادِعُهُمْ وَإِذَا قَامُوا إِلَى الصَّلاةِ قَامُوا كُسَالَى يُرَاءُونَ النَّاسَ وَلا يَذْكُرُونَ اللَّهَ إِلاَّ قَلِيلاً

“Sesungguhnya orang-orang munafik itu menipu Allah, dan Allah akan membalas tipuan mereka. Dan apabila mereka berdiri untuk shalat mereka berdiri dengan malas. Mereka bermaksud riya (dengan shalat) di hadapan manusia. Dan tidaklah mereka menyebut Allah kecuali sedikit sekali.” [Quran An-Nisa: 142].

inilah sifat-sifat orang-orang munafik. Bagi siapa yang kagum dengan orang-orang yang berpenampilan demikian, janganlah dia sampai tertipu. Waspadailah mereka. Karena mereka sangat berbahaya. Dengan demikian, wajar jika Allah mengancam mereka dengan siksa yang keras. Lebih keras dibanding orang-orang kafir. Allah Ta’ala berfirman,

إِنَّ الْمُنَافِقِينَ فِي الدَّرْكِ الأَسْفَلِ مِنْ النَّارِ وَلَنْ تَجِدَ لَهُمْ نَصِيراً

“Sesungguhnya orang-orang munafik itu (ditempatkan) pada tingkatan yang paling bawah dari neraka. Dan kamu sekali-kali tidak akan mendapat seorang penolongpun bagi mereka.” [Quran An-Nisa: 145]

siksaan yang diterima orang-orang munafik di akhirat lebih keras daripada penyembah patung dan orang-orang musyrik. Karena bahaya mereka lebih besar dari keduanya. Mereka berada di keraknya neraka. Semoga Allah melindungi kita.

يُخَادِعُونَ اللَّهَ وَالَّذِينَ آمَنُوا

“Mereka hendak menipu Allah dan orang-orang yang beriman.”

Sehingga, Allah jadikan mereka:

فِي الدَّرْكِ الأَسْفَلِ مِنْ النَّارِ وَلَنْ تَجِدَ لَهُمْ نَصِي

“pada tingkatan yang paling bawah dari neraka. Dan kamu sekali-kali tidak akan mendapat seorang penolongpun bagi mereka.”

Ibadallah,

Bertakwalah kepada Allah dan waspadailah kemunafikan dan orang-orang munafik. Jauhilah sifat-sifat orang munafik. Yaitu apabila berucap berdusta. Mereka bahagia dan bangga dengan kedustaan terhadap kaum muslimin itu. Jika berjanji mereka menyelisihi. Janji mereka tidak bisa dipegang. Karena tidak ada keimanan pada mereka. Apabila berselisih mereka memusuhi. Dan sifa-sifat lainnya dari sifat-sifat orang-orang munafik. Waspadailah mereka.

أعوذ بالله من الشيطان الرجيم: يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَكُونُوا مَعَ الصَّادِقِينَ

“Hai orang-orang yang beriman bertakwalah kepada Allah, dan hendaklah kamu bersama orang-orang yang benar.” [Quran At-Taubah: 119].

Khutbah Kedua:

الحمد لله على فضله وإحسانه، وأشكرهُ على توفيقهِ وامتنانه، وأشهد أن لا إله إلا الله وحده لا شريك له تعظيما لشأنه، وأشهد أن محمداً عبده ورسوله صلى الله عليه وعلى آله وأصحابهِ وسلم تسليماً كثيرا، أما بعد:

أيُّها الناس، اتقوا الله تعالى

Ibadallah,

Ketauhilah bahwa seorang muslim tidak akan terjatuh pada kemunafikan besar (nifaq akbar). Hanya orang-orang kafir saja yang jatuh pada nifaq akbar. Orang-orang beriman, seandainya memiliki sifat munafik, maka mereka hanya jatuh pada kemunafikan kecil (nifaq ash-ghar).

Oleh karena itu, para sahabat sangat takut kalau mereka jatuh pada kemunafikan kecil. Mereka bertanya kepada Hudzaifah bin al-Yaman radhiallahu ‘anhu. Karena Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mengabarkan kepadanya nama-nama dan sifat-sifat orang munafik.

Atas nama Allah, mereka bertanya kepada Hudzaifah adakah nama mereka termasuk daftar orang-orang munafik yang disebutkan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Di antara orang yang bertanya tersebut adalah Umar bin al-Khattab radhiallahu ‘anhu. Umar bertanya apakah ia termasuk orang munafik? Yakni nifaq ash-ghar. Seperti seorang bersedekah, tapi tidak diniatkan untuk Allah. Niatnya hanya ingin mendapat pujian. Atau seseorang yang memanjangkan bacaan shalat. Bukan menginginkan pahala. Tapi yang diinginkan adalah pujian dan dilihat orang.

Inilah kemunafikan kecil. Tentu saja sangat sedikit orang yang bisa terbebas dari dusta, menyelisihi janji, dan memenuhi amanah. Namun kita wajib berusaha semaksimal mungkin untuk menjauhi sifat-sifat kemunafikan ini. Jika kita tidak berusaha melakukannya, khawatir kita akan jatuh kepada kemunafikan besar, nifaq akbar. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

أَرْبَعٌ مَنْ كُنَّ فِيْهِ كَانَ مُنَافِقاً خَالِصًا، وَمَنْ كَانَتْ فِيْهِ خَصْلَةٌ مِنْهُنَّ كَانَتْ فِيْهِ خَصْلَةٌ مِنَ النِّفَاقِ حَتَّى يَدَعَهَا، إِذَا اؤْتُمِنَ خَانَ، وَإِذَا حَدَّثَ كَذَبَ، وَإِذَا عَاهَدَ غَدَرَ، وَإِذَا خَاصَمَ فَجَرَ.

“Ada empat hal yang jika terdapat pada diri seseorang, maka ia menjadi seorang munafiq sejati, dan jika terdapat padanya salah satu dari sifat tersebut, maka ia memiliki satu karakter kemunafikan hingga ia meninggalkannya: 1) jika dipercaya ia berkhianat, 2) jika berbicara ia berdusta, 3) jika berjanji ia memungkiri, dan 4) jika bertengkar ia melewati batas.” (HR. al-Bukhari, Muslim, dan selain keduanya).

Semoga Allah Subhanahu wa Ta’ala senantiasa menjaga kita dari kemunafikan dan orang-orang munafik, dari kekufuran dan orang-orang kafir.

واعلموا أنَّ خير الحديث كتاب الله، وخير الهديَّ هدي محمد صلى الله عليه وسلم، وشرَّ الأمور مُحدثاتها، وكل بدعة ضلالة، وعليكم بالجماعة، فإنَّ يد الله على الجماعة، ومن شذَّ شذَّ في النار.

(إِنَّ اللَّهَ وَمَلائِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى النَّبِيِّ يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا صَلُّوا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا تَسْلِيمًا)، اللَّهُمَّ صلِّ وسلِّم على عبدِك ورسولِك نبيَّنا محمد، وارضَ اللَّهُمَّ عن خُلفائِه الراشدين، الأئمةِ المهديين، أبي بكرَ، وعمرَ، وعثمانَ، وعليٍّ، وعَن الصحابةِ أجمعين، وعن التابعين، ومن تبعهم بإحسانٍ إلى يومِ الدين.

اللَّهُمَّ أعز الإسلام والمسلمين، وأذل الشرك والمشركين، ودمر أعداء الدين، واجعل هذا البلد آمناً مستقرا وسائر بلاد المسلمين عامةً يا ربَّ العالمين، اللَّهُمَّ احفظ علينا أمننا وايماننا واستقرارنا في أوطاننا، وآمنا في دورنا وأصلح ولاة أمورنا، اللهم لا تسلط علينا بذنوبنا من لا يخافك ولا يرحمنا يا أرحم الراحمين، اللهم كف عنا بأس الذين كفروا فأنت أشد بأسا وأشد تنكيلا، اللهم احفظ هذه البلاد، اللهم احفظ هذه البلاد، اللهم احفظ هذه البلاد، آمنة مستقرة واحفظ بلاد المسلمين يا رب العالمين، اللهم اصلح ولاة أمورنا واجعلهم هداة مهتدين غير ضالين ولا مضلين، اللهم أصلح بطانتهم وابعد عنهم بطانة السوء والمفسدين (رَبَّنَا ظَلَمْنَا أَنفُسَنَا وَإِنْ لَمْ تَغْفِرْ لَنَا وَتَرْحَمْنَا لَنَكُونَنَّ مِنْ الْخَاسِرِينَ)، اللهم إننا نعوذ بك من الفتن والشرور ما ظهر منها وما بطن، اللهم احمنا واحفظنا بالإسلام، اللهم احمنا واحفظنا بالإسلام، وأدم علينا الأمن والإيمان برحمتك يا أرحم الراحمين، اللهم خلص بلاد المسلمين، اللهم خلص بلاد المسلمين، اللهم خلص المسلمين من أذى الكفار وشر الكفار، اللهم خلص بلاد المسلمين عاجلا غير آجل، اللهم أنزل بالكفار وأعدائك أعداء الدين، أنزل بهم بأسك الذي لا يرد عن القوم المجرمين، عاجلا غير آجل، اللهم أرنا فيهم عجائب قدرتك، اللهم أرنا فيهم عجائب قدرتك، اللهم أرنا فيهم عجائب قدرتك.

عبادَ الله، (إِنَّ اللَّهَ يَأْمُرُ بِالْعَدْلِ وَالإِحْسَانِ وَإِيتَاءِ ذِي الْقُرْبَى وَيَنْهَى عَنْ الْفَحْشَاءِ وَالْمُنكَرِ وَالْبَغْيِ يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُونَ)، (وَأَوْفُوا بِعَهْدِ اللَّهِ إِذَا عَاهَدْتُمْ وَلا تَنقُضُوا الأَيْمَانَ بَعْدَ تَوْكِيدِهَا وَقَدْ جَعَلْتُمْ اللَّهَ عَلَيْكُمْ كَفِيلاً إِنَّ اللَّهَ يَعْلَمُ مَا تَفْعَلُونَ)، فاذكروا الله يذكركم، واشكُروه على نعمه يزِدْكم، ولذِكْرُ اللهِ أكبرَ، واللهُ يعلمُ ما تصنعون.

Oleh tim KhotbahJumat.com
Artikel www.KhotbahJumat.com

Berlangganan artikel Situs Sunnah melalui email, RSS, atau Telegram.