Adolf Hitler… seorang jenderal kejam yang dijuluki sang fuehrer sutradara perang dunia II yang membawa korban sekitar 62 juta orang tewas. Tahukah anda dengan cara bagaimana ia mengakhiri hidupnya ketika tanda – tanda kejatuhan NAZI semakin dekat? Hitler stres dan paranoid, konon ia meneggak racun sianida lantas menembakkan pistol di kepalanya. Ia memilih bunuh diri daripada ditangkap musuh.

Begitu pula Joseph Gobbels, menteri propaganda Nazi ia mengakhiri hidupnya dengan bunuh diri. Tragis memang ketika seorang pemimpin perang berjuang hanya demi popularitas demi kecintaan pada jabatan dan imbalan kemewahan dunia. Ketika semua itu tak ia raih ia lebih memilih kematian dengan cara yang mereka anggap mulia. Ya… bunuh diri. Orang-orang yang berjuang bukan untuk kemuliaan Islam, ia frustasi dan mengira setelah kematian tidak ada lagi balasan yang lebih besar terhadap perjuanganya.

Dan di zaman fitnah saat ini banyak pejuang-pejuang yang mengibarkan panji-panji kemunafikan dan kekafiran yang mereka itu berjuang mati-matian untuk menancapkan taring-taring berbisanya. Aku mempropagandakan doktrin-doktrin sesatnya. Tidak hanya sekedar pemikiran yang mereka sebarkan namun juga sektor d/g persenjataanya.

Gencarnya propaganda syiah, mulai bangkitnya PKI dan berbagai makar keji yang intinya untuk menghancurkan Islam.

Obsesi-obsesi mereka pada dasarnya hanya demi tujuan dunia, begitu pula pejuang-pejuangnya sangat jauh dari sosok ideal ksatria tangguh yang memperjuangkan kebenaran hakiki.

Hal ini berbeda sekali dengan pejuang-pejuang Islam yang visi dan misinya demi menegakkan kalimat tauhid dan memberantas penghambaan kepada selain Allah. Semangat juang dan militansi mereka sangat tinggi kepada nilai-nilai Islam dan tujuan akhir perjuanganya adalah kebahagiaan akhirat.

Semangat kesungguhannya untuk memperoleh syahid. Orang-orang yang bermental pengecut ketika tanda-tanda kekalahan nampak mereka akan dihantui perasaan takut. Stabilitas mentalnya menurun dan mereka mulai kehilangan kepercayaan dirinya. Berbeda dengan mentalitas para pejuang Islam, justru disaat genting dan sulit mereka akan memperkokoh permohonan dan do’a kepasa Allah agar pertolongan-Nya datang. Mereka juga berupaya sungguh-sungguh memperkuat ibadah mereka dan menempuh cara-cara yang sekiranya mampu mereka lakukan untuk menyerang musuh sampai titik darah penghabisan.

Dari Jabir radliyallahu’anhu ia berkata: “Dimanakah aku wahai Rasulullah, bila aku terbunuh?” Rasulullah bersabda: “Di dalam surga.” Lalu dia membuang buah kurma yang ada di tanganya, lalu berperang hingga terbunuh” (HR Bukhari no.4046, Muslim no.1899).

Dari Abu Musa Abdullah bin Qois Al Asy’ary radliyallahu’anhu, dan dia berada dihadapan musuh, Rasulullah ﷺ telah bersabda: “sesungguhnya pintu-pintu surga berada dibawah naungan pedagang. “lalu seorang laki-laki  dalam keadaan kusut berdiri lalu berkata”: wahai Abu Musa Al Asy’ari, apakah engkau mendengar rasullullah mengucapkan ini?” dia menjawab : “ya”. Lalu orang tersebut kembali kepada para sahabatnya dan berkata: ” aku mengucapkan salam kepada kalian, “lalu di mematahkan sarung pedangnya kemudian membuangnya lalu di berjalang dengan pedangnya lalu berperang lalu terbunuh.” (HR Muslim no. 1902).

Orang yang mati syahid akan mendapatkan kemuliaan Rasulullah ﷺ bersabda: “tidak seseorang pun yang telah masuh ke dalamsyurga kemudian senang untuk kembali ke dunia dan ingin mendapatkan sesuatu yang ada di dunia melainkan orang yang mati syahid. Sesungguhnya dia berangan – angan untuk kembali ke dunia kemudian terbunuh sebanyak 10 kali karena kemuliaan yang dilihatnya” (HR Bukhari 2795, Muslim no. 1877).

Dari ‘Ubaydillah bin Washil berkata: “aku mendengar Ahmad As Surmary berkata sambil mengeluarkan pedangnya: ‘Aku mengetahui  dengan yakin bahwa aku telah membunuh 100 orang Turki. Sekiranya aku masih dapat hidup aku akan membunuh 1000 orang lagi. Dan sekiranya aku tak khawatir untuk terjerumus dalam perbuatan bid’ah niscaya aku akan perintahkan agar pedang ini dikubur bersama diantara salah perkataannya…: “selayaknya bagi pemimpin para mujahid memiliki 10 perkara:

1). Berhati singa, tidak gentar.

2). Kesombongan harimau (tidak mau tunduk)

3). Keberanian beruang terbunuh dengan seluru anggota tubuhnya

4). Penyerangan seperti babi, tidak mundur ke belakang

5). Tipuan srigala bila putus asa menyerang dari satu sisi, lalu menyerang dari penjuru lainya.

6). Membawa senjata seperti semut, memikul yang lebih berat dari timbangan badanya.

7). Teguh seperti batu besar yang keras.

8). Sabar seperti keledai.

9). Tak tahu malu seperti anjing bila buruanya memasuki api maka dia menerkam dari belakangnya.

10). Mengambil kesempatan seperti bebek.

(Siyar A’lamin Nubala, 13/37 – 38).

Seorang mukmin harus yakin ajal telah ditentukan oleh Allah Ta’ala. Kematian tidak dapat dipercepat dengan jihad di medan laga dan tidak bisa diperlambat dengan berdiam diri di rumah. Sebagaimana dijelaskan dalam firman Allah QS An Nisaa ayat 78 (yang artinya): “Di mana saja kamu berada, kematian akan mendapatkan kamu, Kendatipun kamu di dalam benteng yang tinggi lagi kokoh“. (QS An Nisaa : 78).

Ajal telah ditentukan oleh-Nya 50 ribu tahun sebelum penciptan langit dan bumi. Tak ada manusia tahu kapan dan dimana dia akan meninggal. Sebagaimana dalam firman Allah QS Ali Imran 154 (yang artinya): “Katakanlah: “Sekiranya kamu berada di rumahmu, niscaya orang-orang yang telah ditakdirkan akan mati terbunuh itu keluar (juga) ke tempat mereka terbunuh“.

Menghadapi kematian orang-orang tercinta terkadang membuat hati sedih, namun sebagai mukmin kita perlu belajar dari kisah-kisah kesabaran dan ketegaran para shahabiyah. Asma’ bintu Abu Bakar Ash Shidiq sangat antusias menyemangati putranya Abdullah bin Az Zubair hingga gugur sebagai syahid dan mayatnya disalib di ka’bah oleh orang-orang yang zalim ketika itu. Dengan kedua tanganya, ia memandikan putranya, dikafani dan disholatkan. Ia berucap dengan penuh ketegasan kepada pembunuh anaknya: “Engkau telah merusak dunianya dan ia telah merusak akhiratmu“.

Semoga kisah heroik pejuang ini dapat memotivasi kaum muslimin bahwa seorang muslim sejati hendaknya memiliki motivasi kuat untuk lebih tekun membuka lembaran-lembaran emas kisah para syuhada. Dalam setiap episode perjuangan mereka penuh keeladanan dan berkah bagi orang-orang yang berakal.

Wallahu a’lam.

Referensi:

  • Mengapa Nabi tidak Gampang Sakit? Majalah Salafy edisi 34/1421 H

Abdullah Al Faruq, As Salam Publishing, So

 

Penulis: Isruwanti Ummu Nashifa

Artikel Muslimah.or.id

Berlangganan artikel Situs Sunnah melalui email, RSS, atau Telegram.