NIKMAT RABB YANG MANAKAH YANG KALIAN DUSTAKAN? SATU AYAT YANG BERULANG 31 KALI

Oleh

Ustadz Said Yai Ardiansyah Lc MA

Di dalam al-Qur’an terdapat satu surat yang ayatnya sangat banyak diulang oleh Allâh Azza wa Jalla . Pengulangan tersebut memiliki makna yang sangat berarti. Surat itu adalah surat ar-Rahmân dan ayat yang banyak diulang adalah ayat:

فَبِأَيِّ آلَاءِ رَبِّكُمَا تُكَذِّبَانِ

Maka nikmat-nikmat Rabb kalian yang manakah yang kalian berdua (jin dan manusia) dustakan?

Ayat ini diulang oleh Allâh Azza wa Jalla sebanyak 31 kali dalam surat ar-Rahmân. Biasanya sesuatu yang berulang lebih dari tiga kali tidak memiliki makna yang berarti, bahkan dianggap suatu yang tidak bagus di dalam ucapan orang Arab, kecuali seseorang bisa menyusunnya dengan baik dan sangat serasi, maka ucapan tersebut akan menjadi ucapan yang indah untuk didengar.

Hal ini kita dapatkan di dalam surat ar-Rahmân. Keindahan susunan huruf-huruf, kesesuaian makna-makna dan keserasian lafaz-lafaznya membuat orang yang membaca dan mendengarkannya terkagum-kagum. Apabila dia adalah orang yang beriman, tentunya akan membuat hatinya bergetar, karena makna dan teguran Allâh Azza wa Jalla yang ada pada surat tersebut. Jika pembaca belum pernah membaca surat ar-Rahmân atau mendengar lantunannya, maka penulis sarankan untuk membacanya dulu sebelum melanjutkan membaca artikel ini.

Ada beberapa hal yang insya Allâh akan dibahas pada artikel ini. Semuanya berkaitan dengan surat Ar-Rahmân. Hal-hal yang penulis bahas adalah sebagai berikut:

  1. Mengapa dinamakan surat ar-Rahmân?
  2. Apakah surat ini turun diawali dengan sebab tertentu?
  3. Apa saja keutamaan yang dimiliki surat ar-Rahmân?
  4. Apakah ada keistimewaan yang terkandung dalam pengulangan di dalam surat Ar-Rahmân?
  5. Apakah ada rahasia yang berkaitan dengan nomor-nomor ayatnya?
  6. Apa sebenarnya makna yang terkandung dalam satu ayat yang dibaca berulang-ulang tersebut?

Hal-hal tersebut akan dibahas pada tulisan ini.

MENGAPA DINAMAKAN SURAT AR-RAHMAN?

Surat ini dinamakan surat ar-Rahmân karena surat ini diawali dengan nama Allâh ar-Rahmaan. Ar-Rahmaan berarti Yang memiliki kasih sayang kepada seluruh makhluk di dunia dan kasih sayang kepada orang-orang yang beriman di akhirat.

Syaikh Muhammad Amin bin Muhammad Mukhtar asy-Syinqithi rahimahullah mengatakan, “Firman Allâh: ‘Ar-Rahmân dan ar-Rahîm’ adalah dua sifat yang dimiliki oleh Allâh Azza wa Jalla dan dua nama di antara al-Asmâ’ al-Husnâ (Nama-nama terbaik) Allâh. Dia dibentuk dari kata dasar ar-rahmah (kasih sayang) namun dengan bentuk kata mubâlaghah (bentuk kata yang menunjukkan makna sangat atau sering-red). Nama ar-Rahmân lebih kuat penekanannya daripada ar-Rahîm. Karena ar-Rahmân artinya Yang sangat memiliki kasih sayang kepada seluruh makhluk di dunia dan kasih sayang khusus kepada orang-orang yang beriman di akhirat; Sedangkan ar-Rahîm artinya Yang sangat memiliki kasih sayang kepada orang-orang yang beriman di hari kiamat. Pendapat inilah yang dipegang oleh kebanyakan Ulama.[1]

SEBAB TURUNNYA AYAT

Sebagian Ulama menyebutkan sebab turunnya ayat ini, akan tetapi tidak terdapat riwayat yang shahih yang menunjukkan hal tersebut. Di antara sebab turunnya ayat yang disebutkan dalam buku-buku tafsir adalah sebagai berikut:

1. Surat ini adalah jawaban Allâh Azza wa Jalla terhadap pertanyaan orang-orang musyrik yang berkata, “Siapakah ar-Rahmân itu?” sebagaimana terdapat pada ayat:

وَإِذَا قِيلَ لَهُمُ اسْجُدُوا لِلرَّحْمَٰنِ قَالُوا وَمَا الرَّحْمَٰنُ أَنَسْجُدُ لِمَا تَأْمُرُنَا وَزَادَهُمْ نُفُورًا

Dan apabila dikatakan kepada mereka, ‘Sujudlah kalian sekalian kepada yang Maha Penyayang (ar-Rahmân)!”, Mereka menjawab, “Siapakah yang Maha Penyayang (ar-Rahmân) itu? Apakah kami akan sujud kepada Rabb Yang kamu perintahkan kami (bersujud kepada-Nya)?” Dan (perintah sujud itu) menambah mereka jauh (dari iman).” [Al-Furqân /25: 60]

Kemudian dijawab oleh Allâh Azza wa Jalla dengan surat ar-Rahmân.[2]

2. Surat ini adalah sebagai jawaban dari perkataan penduduk Mekah ketika mereka mengatakan, “Sesungguhnya al-Qur’an itu diajarkan oleh seorang manusia.” sebagaimana terdapat pada ayat:

وَلَقَدْ نَعْلَمُ أَنَّهُمْ يَقُولُونَ إِنَّمَا يُعَلِّمُهُ بَشَرٌ ۗ لِسَانُ الَّذِي يُلْحِدُونَ إِلَيْهِ أَعْجَمِيٌّ وَهَٰذَا لِسَانٌ عَرَبِيٌّ مُبِينٌ

Dan sesungguhnya Kami mengetahui bahwa mereka berkata: ‘Sesungguhnya Al-Quran itu diajarkan oleh seorang manusia kepadanya (Muhammad).’ Padahal bahasa orang yang mereka tuduhkan (bahwa Muhammad) belajar kepadanya bahasa ‘Ajam (selain Arab), sedang Al Quran adalah dalam bahasa Arab yang terang.” [An-Nahl /16: 103]

Surat ini sebagai bantahan kepada mereka dan penegasan bahwa yang mengajarkan al-Qur’an kepada Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah Allâh Azza wa Jalla , bukan manusia.[3]

Dan disebutkan di dalam buku-buku tafsir sebab turunnya yang lain.

KEUTAMAAN SURAT AR-RAHMAN

Surat ini memiliki banyak keutamaan, di antaranya adalah sebagai berikut:

1. Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam membacakan surat ini kepada para jin secara khusus dan mereka tidak mendustakan kenikmatan-kenikmatan yang Allâh telah berikan kepada mereka.

Diriwayatkan dari Jabir bin ‘Abdillah Radhiyallahu anhu , dia berkata:

خَرَجَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللّٰهُ عَلَيْهِ وَسَلَّم  عَلَى أَصْحَابِهِ فَقَرَأَ عَلَيْهِمْ سُورَةَ الرَّحْمَنِ مِنْ أَوَّلِهَا إِلَى آخِرِهَا فَسَكَتُوا فَقَالَ: (( لَقَدْ قَرَأْتُهَا عَلَى الْجِنِّ لَيْلَةَ الْجِنِّ فَكَانُوا أَحْسَنَ مَرْدُودًا مِنْكُمْ كُنْتُ كُلَّمَا أَتَيْتُ عَلَى قَوْلِهِ { فَبِأَىِّ آلاَءِ رَبِّكُمَا تُكَذِّبَانِ } قَالُوا: لاَ بِشَىْءٍ مِنْ نِعَمِكَ رَبَّنَا نُكَذِّبُ فَلَكَ الْحَمْدُ.

Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam keluar untuk menemui para Sahabat Beliau, kemudian Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam membacakan surat Ar-Rahmân kepada mereka dari awal hingga akhir surat, kemudian mereka pun diam. Kemudian Beliau berkata, “Saya telah membaca surat ini kepada para jin di malam pertemuan dengan jin, kemudian mereka lebih baik responnya daripada kalian. Ketika saya membaca ayat, (yang artinya, “Maka nikmat-nikmat Rabb kalian yang manakah yang kalian berdua dustakan?” Mereka menjawab, “Tidak ada sesuatu apapun dari nikmatmu wahai Rabb kami yang kami dustakan, untuk-Mu segala pujian.”[4]

2. Surat ini diawali dengan nama Allâh ar-Rahmân. Tidak ada surat di dalam al-Qur’an yang diawali dengan nama Allâh Azza wa Jallaecuali surat ini.

3. Tidak ada surat yang ayatnya diulang sampai 31 kali kecuali di dalam surat ar-Rahmân.

4. Pada surat ini disebutkan berbagai macam kenikmatan yang Allâh berikan kepada para hamba-Nya, Allâh Azza wa Jalla juga menyebutkan sebagian sifat neraka dan beberapa sifat surga. Ini merupakan kenikmatan yang sangat besar yang Allâh Azza wa Jalla berikan kepada semua makhluk di dunia dan kenikmatan yang sangat menakjubkan untuk orang-orang yang beriman kepada-Nya di hari akhir nanti.

5. Allâh Azza wa Jalla menggunakan metode penyampaian targhîb[5] dan tarhîb[6] dalam surat ini dan juga menggunakan metode penyampaian dengan pertanyaan-pertanyaan yang ditujukan kepada dua makhluk yang dibebankan syariat, yaitu manusia dan jin.[7]

KEISTIMEWAAN YANG TERKANDUNG DI DALAM PENGULANGAN DI DALAM SURAT AR-RAHMAN

Di dalam surat ar-Rahmân terdapat empat jenis pengulangan, yaitu:

1. Pengulangan huruf

Di dalam surat ini terdapat empat huruf yang sangat berkaitan dengan makna yang terkandung di dalam surat ini, yaitu: râ‘, lâm, mîm dan nûn. Kalau kita lihat peletakan huruf tersebut maka terdapat keseimbangan dan keselarasan ketika kita membacanya.

2. Pengulangan madd (panjang)

Seluruh ayat diakhiri dengan madd yang sebelumnya adalah fathah, Misalnya:

الرَّحْمَٰنُ﴿١﴾عَلَّمَ الْقُرْآنَ﴿٢﴾خَلَقَ الْإِنْسَانَ﴿٣﴾عَلَّمَهُ الْبَيَانَ﴿٤﴾الشَّمْسُ وَالْقَمَرُ بِحُسْبَانٍ﴿٥﴾وَالنَّجْمُ وَالشَّجَرُ يَسْجُدَانِ﴿٦﴾وَالسَّمَاءَ رَفَعَهَا وَوَضَعَ الْمِيزَانَ﴿٧﴾أَلَّا تَطْغَوْا فِي الْمِيزَانِ﴿٨﴾

kecuali pada ayat ke-17, ke-29 dan ke-43, yaitu:

رَبُّ الْمَشْرِقَيْنِ وَرَبُّ الْمَغْرِبَيْنِ

Rabb yang memelihara kedua tempat terbit matahari dan Rabb yang memelihara kedua tempat terbenamnya.” [Ar-Rahmân / 55: 17]

Ayat ini tidak diakhiri dengan madd dengan sama dengan ayat-ayat lainnya pada surat ini. Begitu juga ayat berikut ini:

يَسْأَلُهُ مَنْ فِي السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ ۚ كُلَّ يَوْمٍ هُوَ فِي شَأْنٍ

Semua yang ada di langit dan bumi selalu meminta kepadaNya. Setiap waktu Dia dalam kesibukan. [Ar-Rahmân /55: 29]

Juga firman-Nya:

هَٰذِهِ جَهَنَّمُ الَّتِي يُكَذِّبُ بِهَا الْمُجْرِمُونَ

Inilah neraka Jahannam yang didustakan oleh orang-orang berdosa.” [Ar-Rahmân/55: 43]

3. Pengulangan kata

Pada surat ini diulang beberapa kata, seperti pengulangan kata al-mîzân (neraca/timbangan):

وَالسَّمَاءَ رَفَعَهَا وَوَضَعَ الْمِيزَانَ﴿٧﴾أَلَّا تَطْغَوْا فِي الْمِيزَانِ﴿٨﴾وَأَقِيمُوا الْوَزْنَ بِالْقِسْطِ وَلَا تُخْسِرُوا الْمِيزَانَ﴿٩﴾

Dan Allâh telah meninggikan langit dan Dia meletakkan neraca (keadilan) (8) Supaya kalian jangan melampaui batas tentang neraca itu. (9) Dan tegakkanlah timbangan itu dengan adil dan janganlah kalian mengurangi neraca itu.” [Ar-Rahmân: 7-9]

Selain lafazh al-mizân dan lafazh al-ihsân (kebaikan) juga diulang-ulang:

هَلْ جَزَاءُ الْإِحْسَانِ إِلَّا الْإِحْسَانُ

Tidak ada balasan kebaikan kecuali kebaikan (pula) [Ar-Rahmân/55:60]

4. Pengulangan kalimat

Firman Allâh Azza wa Jalla :

فَبِأَيِّ آلَاءِ رَبِّكُمَا تُكَذِّبَانِ

Maka nikmat-nikmat Rabb kalian yang manakah yang kalian berdua dustakan?

Ayat ini diulang oleh Allâh Azza wa Jalla dalam surat ar-Rahmân sebanyak 31 kali, yaitu ayat-ayat nomor: 13, 16, 18, 21, 23, 25, 28, 30, 32, 34, 36, 38, 40, 42, 45, 47, 49, 51, 53, 55, 57, 59, 61, 63, 65, 67, 69, 71, 73, 75 dan 77.

Di dalam ucapan bahasa Arab sangat susah untuk membuat pengulangan dengan empat jenis pengulangan di atas di dalam suatu teks yang mana pengulangan tersebut memiliki makna yang sangat tinggi dan berisi positif, karena kebanyakan pengulangan yang dilakukan oleh orang-orang tidak memiliki makna berbeda dan justru membuat orang bosan untuk membacanya.

Berbeda dengan surat ar-Rahmân, pengulangan tersebut telah disusun sedemikian rupa oleh Allâh Azza wa Jalla sehingga surat ar-Rahmân memiliki keseimbangan, keselarasan dan keindahan baik dari segi huruf-huruf, kata-kata, intonasi, kalimat dll.[8]

TAFSIR AYAT:

فَبِأَيِّ آلَاءِ رَبِّكُمَا تُكَذِّبَانِ

Maka nikmat-nikmat Rabb kalian yang manakah yang kalian berdua dustakan?

TAFSIR RINGKAS

Maka nikmat-nikmat Rabb kalian yang manakah yang kalian berdua dustakan?” maksudnya adalah wahai jin dan manusia! Nikmat-nikmat Rabb kalian yang manakah yang kalian dustakan? Kenikmatan-kenikmatan tersebut sangat banyak, tidak dapat dinilai dan dihitung. Dan jawaban dari pertanyaan itu adalah “tidak ada sesuatu apapun dari kenikmatan-kenikmatan tersebut yang kami dustakan, dan untuk-Mu-lah segala pujian.”[9]

PENJABARAN AYAT

Arti dari آلَاء

Di dalam bahasa Arab kata آلَاء bentuk jama’ (plural) dari أَلْوٌ/ إِلًى/ أَلًى/ أَلْيٌ/ إِلْيٌ yang berarti kenikmatan yang banyak.

Di dalam kitab tafsir disebutkan beberapa makna dari kata tersebut, yaitu:

  1. Kenikmatan Allâh. Ini adalah pendapat Ibnu ‘Abbas Radhiyallahu anhuma dan sebagian besar ahli tafsir. Inilah pendapat yang kuat.[10]
  2. Qudratullâh (kemampuan Allâh). Ini adalah pendapat Ibnu Zaid.[11]

Arti : تُكَذِّبَانِ  yaitu yang kalian berdua dustakan

Kalian berdua” maksudnya adalah jin dan manusia. Ini adalah pendapat sebagian besar ahli tafsir dan ini adalah pendapat yang kuat.

Imam ath-Thabari rahimahullah juga menguatkan pendapat yang mengatakan bahwa yang dimaksud kalian berdua adalah jin dan manusia, tetapi beliau rahimahullah juga menyebutkan pendapat lain setelah menyebutkan pendapat di atas.

JAWABAN ATAS PERTANYAAN ALLAH DI DALAM AYAT INI

Ketika Allâh Azza wa Jalla mengatakan hal tersebut, kita dianjurkan untuk menjawab seperti jawaban jin yang disampaikan oleh Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam , sebagaimana dalam hadits yang telah disampaikan di awal pembahasan, yaitu:

لاَ بِشَىْءٍ مِنْ نِعَمِكَ رَبَّنَا نُكَذِّبُ فَلَكَ الْحَمْدُ.

Tidak ada sesuatu apapun dari nikmatmu wahai Rabb kami yang kami dustakan, untuk-Mu segala pujian.

Ibnu ‘Abbas Radhiyallahu anhuma ketika dibacakan ayat ini, beliau Radhiyallahu anhuma berkata:

لَا بِأيِّهَا يَا رَبّ

(Saya tidak mendustakan) sedikit pun dari kenikmatan-kenikmatan tersebut wahai Rabb-ku.[12]

MAKSUD DARI PENGULANGAN AYAT TERSEBUT

Ibnu ‘Asyûr rahimahullah mengatakan, “Maksud sebenarnya adalah: (1) ejekan dan celaan terhadap kaum musyrik, karena mereka telah berbuat syirik (mereka telah menyekutukan Allâh Azza wa Jalla Pemberi segala kenikmatan) dalam ibadah dengan sesuatu yang bukan pemberi kenikmatan, (2) persaksian kepada mereka akan kaum Mukminin yang mentauhidkan Allah Azza wa Jalla . Kata at-takdzîb (dalam ayat ini-red) bermakna  penentangan dan pengingkaran (terhadap kenikmatan).”[13]

Allâh Azza wa Jalla mengulangi ayat ini dengan gaya bertanya, “Maka nikmat-nikmat Rabb kalian yang manakah yang kalian berdua dustakan?”. Ini gertujuan untuk menunjukkan betapa besar nikmat Allâh Azza wa Jalla yang telah Allâh Azza wa Jalla berikan kepada seluruh makhluk-Nya. Dengan kenikmatan yang begitu besar tersebut, pantaskah seorang hamba mengingkarinya dengan mendustakan-Nya dan bermaksiat kepada-Nya? Tentu tidak dibenarkan untuk mengingkarinya.

Dan ayat ini juga mengajarkan kepada kita agar kita bisa selalu bersyukur kepada Allâh Azza wa Jalla , karena nikmat Allah Azza wa Jalla begitu banyak namun sangat sedikit dari hamba Allâh yang pandai bersyukur kepada-Nya.

Semoga Allah Azza wa Jalla menjadikan kita termasuk para hamba-Nya yang pandai bersyukur.

Apakah Setiap Pengulangan Memiliki Makna Tersendiri Ataukah Hanya Sekedar Penekanan?

Allâhu a’lam bishshawab, setiap ayat yang berulang ini memiliki makna tersendiri dan bukan hanya sekedar penekanan. Makna setiap ayat tersebut tergantung ayat-ayat yang dibacakan sebelum dan sesudahnya, sehingga setiap yang mendengarnya tidak bisa mendustakan segala kenikmatan yang telah Allâh berikan kepadanya.

Inilah yang dilakukan oleh Imam ath-Thabari rahimahullah di dalam tafsirnya kemudian diikuti oleh Syaikh Abu Bakar al-Jazairi di dalam tafsirnya. Beliau menyebutkan makna-makna setiap ayat yang berulang tersebut sesuai dengan ayat-ayat sebelum dan sesudahnya.[14]

KESIMPULAN

Surat ini dinamakan surat ar-Rahmân karena surat ini diawali dengan nama Allâh ar-Rahmâ

Tidak terdapat riwayat yang shahih tentang sebab turun surat ini. Akan tetapi disebutkan dalam beberapa kitab tafsir bahwa surat ini diturunkan atas jawaban dari pertanyaan orang-orang musyrik yang bertanya, “Siapakah ar-Rahmân itu?” atau bantahan terhadap pernyataan mereka, “Sesungguhnya al-Qur’an itu diajarkan oleh seorang manusia.”

Di antara keutamaan surat ini :

  • Surat ini dibacakan oleh Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam kepada para jin dan mereka tidak mendustakan nikmat-nikmat Allâh,
  • surat ini diawali dengan nama Allâh ar-Rahmân
  • di dalam surat ini terdapat 1 ayat yang diulang sebanyak 31 kali.

Terdapat keserasian dan keselarasan yang luar biasa pada pengulangan huruf, madd, kata dan kalimat di dalam surat ar-Rahmân.

Pengulangan ayat, “maka nikmat-nikmat Rabb kalian yang manakah yang kalian berdua dustakan?” memiliki makna tersendiri tergantung ayat-ayat sebelum atau sesudahnya dan bukan hanya sekedar penekanan.

Demikian tulisan ini. Mudahan kita semua menjadi orang yang bisa selalu mensyukuri nikmat Allâh dan tidak mendustakannya. Amin.

DAFTAR PUSTAKA

  1. Aisarut-Tafâsîr li kalâm ‘Aliyil-Kabîr wa bihâmisyihi Nahril-Khair ‘Ala Aisarit-TafâsîJâbir bin Musa Al-Jazâiri. 1423 H/2002. Al-Madinah: Maktabah Al-‘Ulûm wal-hikam
  2. Al-Jâmi’ Li Ahkâmil-Qur’ân. Muhammad bin Ahmad Al-Qurthubi. Kairo: Daar Al-Kutub Al-Mishriyah.Al-Muwafaqaat. Ibrahim bin Musa bin Muhammad bin Al-Lakhmi Asy-Syathibi. Kairo: Dar Ibni ‘Affan.
  3. Asraar At-Tikrâr Fî Sûratir-Rahmân. Wisaam Thaahaa Syihaab Ahmad. Majalah Al-Fath. Edisi 59. 2014.
  4. Asraar: Fabiayyi Aalaairabbikumaa tukadzdzibaan. Abdud-Daaim Al-Kahiil. kaheel7.com
  5. At-Tahrîr wa At-Tanwîr. Muhammad Ath-Thahir bin ‘Asyur. 1997. Tunisia: Dar Sah
  6. Fathul-Qadîr al-Jâmi’ Baina Fannai Ar-Riwâyah Wa Ad-Dirâyah Min ‘Ilmit-Tafsîr.Muhammad bin ‘Ali bin Muhammad Asy-Syaukaani. Beirut: Darul-Ma’rifah.
  7. Isyrâqât Ar-Raqm Sab’ah. Abdud-Daaim Al-Kahiil. Dubai: Ishdaar Jaaizah Dubai Ad-Duwaliyah Lil-Qur’an Al-Kariim 2006.
  8. Jâmi’ul-bayân fii ta’wîlil-Qur’ân. Muhammad bin Jariir Ath-Thabari. 1420 H/2000 M. Beirut: Muassasah Ar-Risaalah.
  9. Shifatul-Jannah Fi sûratir-Rahmân. ‘Aaisyah ‘Amir Syaukat. E-book Syabakah Alukah. alukah.netᄃ.
  10. Tafsîr Al-Qur’ân Al-‘Adzhîm. Isma’îl bin ‘Umar bin Katsîr. 1420 H/1999 M. Riyaadh: Daar Ath-Thaibah.
  11. Dan lain-lain. Sebagian besar telah tercantum di footnotes.

[Disalin dari majalah As-Sunnah Edisi 02-03/Tahun XX/1437H/2016M. Diterbitkan Yayasan Lajnah Istiqomah Surakarta, Jl. Solo – Purwodadi Km.8 Selokaton Gondangrejo Solo 57183 Telp. 0271-858197 Fax 0271-858196.Kontak Pemasaran 085290093792, 08121533647, 081575792961, Redaksi 08122589079]
_______
Footnote

[1] Adhwâ’ Al-Bayân I/5.

[2] Tafsir Ibnu Abi Hâtim VIII/2715 dan Fathul-Qadiir VII/100.

[3] Fathul-Qadîr VII/100.

[4] HR At-Tirmidzi no. 3291 dan Al-Hâkim II/215/3766. Imam Adz-Dzahabi mengatakan, “Sesuai syarat al-Bukhâri dan Muslim.” Syaikh al-Albâni rahimahullah menghasankan hadits ini dalam Shahîh Sunan at-Tirmidzi.

[5] Yaitu dengan memberi motivasi dan kabar gembira.

[6] Yaitu dengan memberitahukan ancaman atas keburukan dan menakut-nakuti.

[7]  Lihat di Shifatul-Jannah Fi Sûratir-Rahmân. Bagian Kedua.

[8] Asrâr At-Tikrâr fi Sûrati Ar-Rahmân. Majalah Al-Fath. Edisi 59. Hal. 246.

[9] Aisar At-Tafâsîr hal. 1559

[10] Lihat Tafsîr Ibnu Abi Hatim 10/3323 dan Tafsîr Ath-Thabari XXII/22.

[11] Lihat Tafsîr Ath-Thabari XXII/23.

[12] Lihat Tafsir Ath-Thabari XXII/22 dan Tafsiir Ibnu Katsir 7/491.

[13] At-Tahrîr wa at-Tanwîr XXVII/228.

[14] Lihat Tafsîr Ath-Thabari XXII/23-82.

Berlangganan artikel Situs Sunnah melalui email, RSS, atau Telegram.