Menunaikan Zakat

Ke empat, memperhatikan zakat dan bersemangat untuk menunaikannya sebagaimana yang telah diwajibkan oleh Allah. Karena statusnya sebagai rukun Islam yang ketiga. Maka wajib atas setiap muslim mukallaf untuk menghitung harta miliknya yang wajib dikeluarkan zakatnya, menentukan jumlahnya dan mengeluarkan zakatnya jika telah melewati batas waktu dan telah mencapai batas nishob zakatnya. Dengan hal itu, jiwanya akan tenang, dadanya akan lapang karena telah memenuhi hal yang telah diwajibkan oleh Allah, bersyukur atas nikmat-nikmatNya dan berbuat baik kepada hamba-hamba Allah yang lain.

Ketika seorang muslim telah menunaikan hal tersebut, maka Allah Ta’ala akan melipatgandakan pahala untuknya dan akan mengganti harta yang telah dikeluarkannya. Allah Ta’ala juga akan memberi berkah atas sisa hartanya, menyucikan dan membersihkannya. Sebagaimana firman Allah Ta’ala,

خُذْ مِنْ أَمْوَالِهِمْ صَدَقَةً تُطَهِّرُهُمْ وَتُزَكِّيهِمْ بِهَا

”Ambillah zakat dari sebagian harta mereka, dengan zakat itu kamu membersihkan dan menyucikan mereka.” (QS. At-Taubah [9]: 103)

Namun ketika seorang muslim bakhil untuk mengeluarkan zakat dan meremehkannya, maka Allah Ta’ala akan murka kepadanya. Allah Ta’ala juga akan mencabut berkah dan menimpakan kehancuran pada hartanya serta membelanjakannya pada selain jalan kebenaran. Allah Ta’ala juga akan mengadzabnya pada hari kiamat. Sebagaimana firman Allah Ta’ala,

وَالَّذِينَ يَكْنِزُونَ الذَّهَبَ وَالْفِضَّةَ وَلَا يُنْفِقُونَهَا فِي سَبِيلِ اللَّهِ فَبَشِّرْهُمْ بِعَذَابٍ أَلِيمٍ

”Dan orang-orang yang menyimpan emas dan perak serta tidak menafkahkannya pada jalan Allah, maka beritahukanlah kepada mereka (bahwa mereka akan mendapat) siksa yang pedih.” (QS. At-Taubah [9]: 34)

Setiap harta yang tidak ditunaikan zakatnya maka pemilkinya akan diadzab dengan harta simpanannya tersebut pada hari kiamat. Kita memohon perlindungan kepada Allah Ta’ala dari hal tersebut.

Adapun kaum muslimin yang belum mukallaf, seperti anak kecil dan orang gila, maka wajib bagi orang yang mengurusinya untuk memperhatikannya dengan mengeluarkan zakat dari hartanya jika telah mencapai batas waktunya. Karena keumuman dalil dari Al Qur’an dan hadits yang menunjukkan kewajiban zakat dalam harta seorang muslim baik mukallaf ataupun tidak.

Mentaati Perintah Allah Ta’ala dan Rasul-Nya

Kelima, wajib atas setiap kaum muslimin yang mukallaf –baik laki-laki maupun perempuan- untuk menaati Allah dan Rasul-Nya dalam setiap hal yang diperintahkan oleh Allah dan Rasul-Nya. Seperti puasa di bulan Ramadhan, berhaji ke baitullah bagi yang mampu dan seluruh perintah-perintah Allah dan Rasul-Nya serta mengagungkan apa-apa yang diharamkan oleh Allah (dengan meninggalkannya, pent.). Hendaklah seorang muslim berfikir tentang tujuan penciptaannya dan apa yang diperintahkan baginya serta menghisab dirinya secara terus-menerus.

Jika dia telah menunaikan yang telah diwajibkan oleh Allah Ta’ala, maka dia akan berbahagia, memuji Allah dan memohon kepada-Nya agar tetap konsisten dengannya. Hendaklah dia menjauhkan diri dari sifat sombong, berbangga diri dan memuji dirinya sendiri. Akan tetapi, jika dia meremehkan kewajiban dan terjerumus ke dalam larangan Allah maka bersegeralah untuk bertaubat dengan penuh kejujuran, menyesal dan konsisten untuk melaksanakan perintah Allah. Di samping itu, hendaklah memperbanyak dzikir, istighfar, memohon dengan serius kepada Allah dan bertaubat kepada-Nya dari dosa yang telah lalu serta memohon pertolongan kepada-Nya untuk berbuat dan mengucapkan kata-kata yang baik.

Ketika seorang hamba telah memenuhi perkara yang penting ini, maka hal itu adalah tanda kebahagiaan dan keselamatannya di dunia dan di akhirat. Namun ketika dia lalai terhadap nasib dirinya, berjalan mengikuti hawa nafsu dan syahwat serta tidak mempersiapkan diri untuk akhirat, maka itu adalah tanda kebinasaan dan kerugian.

Hendaklah setiap muslim merenungi keadaan dirinya sendiri, mengintrospeksi dan meneliti keburukan-keburukan dirinya. Ketika dia menemukan sesuatu yang membuat sedih dan menyibukkannya dari yang lainnya, maka wajib baginya untuk merendahkan diri kepada Allah, menyesal dan memohon ampunan kepada-Nya. Muhasabah, perendahan diri dan penyesalan ini adalah sebab kebahagiaan, keberuntungan dan kemuliaan di dunia dan di akhirat.

Ketahuilah –wahai setiap muslim-, bahwa apa kesehatan, kenikmatan, kedudukan yang tinggi dan kelapangan yang Engkau dapatkan, itu semua adalah karunia dan wujud kasih sayang Allah. Sedangkan sakit, musibah, kefakiran, kelaparan dan dikuasai oleh musuh atau musibah lain yang menimpa, maka itu semua disebabkan dosa dan maksiat.

Penyebab dari seluruh adzab dan rasa sakit di dunia dan di akhirat adalah maksiat kepada Allah, menyelisihi perintah-perintahNya dan meremehkan hak-hakNya. Sebagaimana firman Allah Ta’ala,

وَمَا أَصَابَكُمْ مِنْ مُصِيبَةٍ فَبِمَا كَسَبَتْ أَيْدِيكُمْ وَيَعْفُو عَنْ كَثِيرٍ

”Dan apa saja musibah yang menimpa kamu maka adalah disebabkan oleh perbuatan tanganmu sendiri. Dan Allah memaafkan sebagian besar (dari kesalahan-kesalahanmu).” (QS. Asy-Syuuro [42]: 30)

Allah Ta’ala juga berfirman,

ظَهَرَ الْفَسَادُ فِي الْبَرِّ وَالْبَحْرِ بِمَا كَسَبَتْ أَيْدِي النَّاسِ لِيُذِيقَهُمْ بَعْضَ الَّذِي عَمِلُوا لَعَلَّهُمْ يَرْجِعُونَ

”Telah tampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan karena perbuatan tangan manusia, supaya Allah merasakan kepada mereka sebagian dari (akibat) perbuatan mereka, agar mereka kembali (ke jalan yang benar).” (QS. Ar-Ruum [30]: 41)

Wahai para hamba Allah, bertakwalah kepada-Nya. Agungkanlah perintah dan larangan-Nya. Bersegeralah untuk bertaubat kepada-Nya dari seluruh dosa. Bersandarlah hanya kepada-Nya saja dan bertawakkallah kepada-Nya. Karena sesungguhnya Allah-lah yang telah menciptakan para makhluk dan memberinya rizki. Ubun-ubun mereka semuanya ada di tangan-Nya. Tidaklah seseorang memilki hak sedikit pun atas dirinya sendiri, baik bahaya, manfaat, kematian, kehidupan dan kebangkitan.

Utamakanlah hak Rabb kalian dan hak Rasululloh daripada hak-hak dan ketaatan kepada selain Allah dan Rasul-Nya dalam kondisi apapun, semoga Allah merahmati kalian semua. Hendaklah kalian saling memerintahkan untuk melakukan kebaikan, saling melarang dari kemunkaran dan berbaik sangka kepada Allah. Perbanyaklah berdzikir dan memohon ampun kepada-Nya, saling menolong dalam kebaikan dan takwa serta jangan saling menolong dalam dosa dan pelanggaran.

Hendaklah kalian mengingatkan orang-orang yang bodoh, perintahkanlah mereka untuk melaksanakan perintah-perintah Allah dan cegahlah mereka dari larangan-larangan Allah. Hendaklah kalian mencintai dan membenci karena Allah, loyal kepada wali Allah dan memusuhi musuh-musuh Allah. Bersabarlah dan tegarlah untuk terus bersabar sampai bertemu dengan Robb kalian. Maka kalian semua akan beruntung karena mendapatkan kebahagiaan, kemuliaan dan kedudukan yang tinggi dalam nikmat surga-Nya.

Allah-lah yang berhak untuk dimintai supaya memberikan taufik kepada kita semua agar mendapat keridhaan-Nya. Semoga Allah memperbaiki hati-hati kita dan mengisinya dengan rasa takut, cinta dan takwa kepada-Nya serta dapat memberikan nasihat bagi Allah (yaitu dengan menunaikan hak-hak Allah, baik itu hak yang wajib maupun yang sunnah, pent.) dan kepada para hamba-Nya. Kita pun memohon kepada Allah Ta’ala agar menjauhkan kita semua dari kejahatan jiwa-jiwa kita dan keburukan amal-amal kita, memberikan taufik pada urusan-urusan kita dan seluruh urusan kaum muslimin sesuai dengan keridhoan-Nya. Semoga Allah Ta’ala menolong kebenaran dan menghinakan kebatilan serta menjauhkan seluruh kaum muslimin dari kesesatan fitnah. Karena sesungguhNya Allah-lah yang memiliki semua itu dan mampu untuk melaksanakannya.

Shalawat dan salam semoga tercurahkan kepada Nabi kita Muhammad shallallahu ’alaihi wa sallam, keluarganya dan para shahabatnya. Wassalaamu’alaikum  wa rahmatullahi wa barakaatuhu.

[Selesai]

***

Selesai diterjemahkan setelah tarawih, Rotterdam NL 14 Ramadhan 1438/8 Juni 2017

Yang senantiasa membutuhkan rahmat dan ampunan Rabb-nya,

Penulis: M. Saifudin Hakim

Berlangganan artikel Situs Sunnah melalui email, RSS, atau Telegram.