Baca pembahasan sebelumnya Mutiara Isti’adazah dalam shalat (3)

Lafazh Kedua:

أعوذُ باللهِ السَّمِيعِ العَلِيمِ مِنَ الشيطانِ الرَّجِيمِ

A’uudzu billaahis Samii’il ‘Aliim minasy Syaithaanir rajiim.

Aku memohon perlindungan kepada Allah Yang Maha Mendengar dan Mengabulkan doa, lagi Maha Mengetahui, dari setan yang terkutuk.

Bacaan ini yang dipilih oleh Imam Ahmad, Al-A’masy, Al-Hasan bin Shalih, Nafi’ dan Ibnu ‘Umar. Bacaan ini terdapat dalam riwayat yang dikeluarkan Abdurrazaq dalam Mushannaf-nya (2554),

عَنْ جَعْفَرِ بْنِ سُلَيْمَانَ , عَنْ عَلِيِّ بْنِ عَلِيٍّ الرِّفَاعِيِّ , عَنْ أَبِي الْمُتَوَكِّلِ النَّاجِيِّ , عَنْ أَبِي سَعِيدٍ الْخُدْرِيِّ , قَالَ : كَانَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِذَا قَامَ مِنَ اللَّيْلِ فَاسْتَفْتَحَ صَلاتَهُ كَبَّرَ , ثُمَّ قَالَ : سُبْحَانَكَ اللَّهُمَّ وَبِحَمْدِكَ , تَبَارَكَ اسْمُكَ , وَتَعَالَى جَدُّكَ , وَلا إِلَهَ غَيْرُكَ , ثُمَّ يُهَلِّلُ ثَلاثًا وَيُكَبِّرُ ثَلاثًا , ثُمَّ يَقُولُ : أَعُوذُ بِاللَّهِ السَّمِيعِ الْعَلِيمِ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيمِ

Dari Ja’far bin Sulaiman, dari Ali bin Ali Ar Rifa’i dari Abul Mutawakkil An-Nahi dari Abu Sa’id Al-Khudri, ia berkata, biasanya Rasulullah shallallahu’alaihi wa sallam ketika hendak shalat malam beliau membuka shalatnya dengan bertakbir, lalu mengucapkan subhaakallahumma wabihamdika wa tabaarakasmuka wa ta’aala jadduka wa laa ilaaha ghairaka, kemudian membaca tahlil 3x dan takbir 3x lalu mengucapkan A’uudzubillaahis Samii’il ‘Aliimi minas syaithaanir rajiim” (Hadits ini shahih).

Penjelasan:

أَعُوذُ بِاَللَّهِ

“Saya berlindung kepada Allah”

Allah adalah Yang Memiliki Hak untuk diibadahi

Makna “Allah” adalah sebagaimana dikatakan oleh Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhu, yaitu

الله ذو الألوهية و العبودية على خلقه أجمعين

Allah adalah Yang Memiliki hak untuk disembah dan diibadahi atas seluruh makhluk-Nya”.

Dalam nama Allah terdapat sifat uluhiyyah, yaitu hak untuk diibadahi.

Sebagian ulama berpendapat bahwa nama Allah yang teragung adalah Allah, di samping karena lebih dekat dengan dalil, juga karena nama Allah itu memiliki banyak kekhususan, di antaranya adalah nama Allah mengandung makna semua nama-nama Allah lainnya dan seluruh sifat-sifat-Nya, karena nama-nama Allah selainnya hakikatnya merinci dan menjelaskan kandungan sifat uluhiyyah yang terkandung dalam nama Allah, dan sebab Allah Ta’ala disembah adalah karena Dia memiliki seluruh sifat-sifat yang paling sempurna.

Oleh karena itu, dalam sebagian hadits terdapat doa yang kalau seseorang memohon kepada Allah dengan doa tersebut, maka Allah akan kabulkan, karena ia telah berdoa dengan menyebut nama Allah yang teragung.

Dan menurut pendapat ulama yang paling mendekati kebenaran dan paling masyhur bahwa yang dimaksud dengan nama Allah yang teragung adalah Allah.

Dari Buraidah dari ayahnya radhiyallahu ‘anhuma bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam mendengar seseorang berdoa,

اللهمّ إنِّي أسألك بأنِّي أشهد أنَّك أنت الله لا إله إلا أنت الأحد الصمد الذي لم يلد ولم يولد ولم يكن له كفواً أحد

“Allahumma innii as-aluka, bi`annii asyhadu annaka antallahu, laa ilaaha illaa anta, Al-Ahadush Shamad, alladzii lam yalid wa lam yuulad, wa lam yakul lahu kufuwan ahad”

“Ya Allah, sesungguhnya saya memohon kepada-Mu, dengan saya bersaksi bahwa Engkau adalah Yang Berhak diibadahi, tiada sesembahan yang berhak disembah kecuali Engkau, Yang Maha Esa lagi Maha Sempurna Sifat-Nya, tidak melahirkan dan tidak dilahirkan, serta tidak ada satupun yang setara dengan-Nya”.

Maka Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pun bersabda,

لقد سألت الله بالاسم الأعظم الذي إذا سئل به أعطى و إذا دُعي به أجاب

“Sungguh Anda telah memohon kepada Allah dengan nama-Nya yang teragung yang apabila Dia dimintai dengan (menyebut) nama-Nya tersebut, Dia akan memberinya, serta apabila Dia dimohon dengan (menyebut) nama-Nya tersebut, Dia akan mengabulkannya.”

Maka, seseorang yang beristi’adzah dalam shalatnya dengan menyebut nama Allah pada kalimat,

أعوذُ باللهِ السَّمِيعِ العَلِيمِ مِنَ الشيطانِ الرَّجِيمِ

“A’uudzu billaahis Samii’il ‘Aliim minasy Syaithaanir rajiim”, sangatlah pantas untuk berharap dengan harapan yang sangat besar agar dikabulkan doanya dengan dilindungi oleh Allah dari kejahatan setan yang terkutuk, karena ia beristi’adzah dengan menyebut nama Allah.

[Bersambung]

Penulis: Sa’id Abu Ukkasyah
Artikel: Muslim.or.id

Berlangganan artikel Situs Sunnah melalui email, RSS, atau Telegram.