Dikeluarkan oleh Imam Ahmad dalam Musnad-nya (23958)  dan Ibnu Hibban dalam Shahih-nya (4862) :

حَدَّثَنَا عَلِيُّ بْنُ إِسْحَاقَ ، قَالَ : حَدَّثَنَا عَبْدُ اللَّهِ ، قَالَ : أَنْبَأَنَا لَيْثٌ ، قَالَ : أَخْبَرَنِي أَبُو هَانِئٍ الْخَوْلَانِيُّ ، عَنْ عَمْرِو بْنِ مَالِكٍ الْجَنْبِيِّ ، قَالَ : حَدَّثَنِي فَضَالَةُ بْنُ عُبَيْدٍ ، قَالَ : قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فِي حَجَّةِ الْوَدَاعِ : ” أَلَا أُخْبِرُكُمْ بِالْمُؤْمِنِ ؟ مَنْ أَمِنَهُ النَّاسُ عَلَى أَمْوَالِهِمْ وَأَنْفُسِهِمْ ، وَالْمُسْلِمُ مَنْ سَلِمَ النَّاسُ مِنْ لِسَانِهِ وَيَدِهِ ، وَالْمُجَاهِدُ مَنْ جَاهَدَ نَفْسَهُ فِي طَاعَةِ اللَّهِ ، وَالْمُهَاجِرُ مَنْ هَجَرَ الْخَطَايَا وَالذَّنُوبَ “

Ali bin Ishaq menuturkan kepadaku, ia berkata: Abdullah (bin Mubarak) menuturkan kepadaku, ia berkata: Laits mengabarkanku, ia berkata: Abu Hani’ Al Khaulani mengabarkanku, dari Amr bin Malik Al Janbi, ia berkata: Fadhalah bin Ubaid menuturkan kepadaku, ia berkata: Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam bersabda ketika haji Wada’: ““Maukah aku kabarkan kalian tentang ciri seorang mukmin? Yaitu orang yang orang lain merasa aman dari gangguannya terhadap harta dan jiwanya. Dan muslim, adalah orang yang orang lain merasa selamat dari gangguan lisan dan tangannya. Dan mujahid, adalah orang yang berjihad terhadap nafsunya untuk ketaatan kepada Allah. Dan muhajir (orang yang hijrah), adakah orang yang meninggalkan kesalahan-kesalahan dan dosa”.

Derajat hadits

Sanad riwayat ini shahih, semua perawinya tsiqah. Dikeluarkan juga oleh Ibnu Majah (3934) dari jalan Abdullah bin Wahb dari Abu Hani’ :

حَدَّثَنَا أَحْمَدُ بْنُ عَمْرِو بْنِ السَّرْحِ الْمِصْرِيُّ , حَدَّثَنَا عَبْدُ اللَّهِ بْنُ وَهْبٍ , عَنْ أَبِي هَانِئٍ , عَنْ عَمْرِو بْنِ مَالِكٍ الْجَنْبِيِّ , أَنَّ فَضَالَةَ بْنَ عُبَيْدٍ حَدَّثَهُ , أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ , قَالَ : ” الْمُؤْمِنُ مَنْ أَمِنَهُ النَّاسُ عَلَى أَمْوَالِهِمْ وَأَنْفُسِهِمْ , وَالْمُهَاجِرُ مَنْ هَجَرَ الْخَطَايَا وَالذُّنُوبَ “

Ahmad bin Amr bin Sarh Al Mishri menuturkan kepadaku: Abdullah bin Wahb menuturkan kepadaku: dari Abu Hani’: dari Amr bin Malik Al Janbi: bahwa Fadhalah bin Ubaid pernah menuturkan kepadanya: bahwa Nabi Shallallahu’alaihi Wasallam bersabda: “Seorang mukmin adalah orang yang orang lain merasa aman dari gangguannya terhadap harta dan jiwanya. Dan muhajir (orang yang hijrah), adakah orang yang meninggalkan kesalahan-kesalahan dan dosa”.

Sanad riwayat ini juga shahih, semua perawinya tsiqah.

Kesimpulannya hadits ini shahih. Sebagaimana dishahihkan Al Albani dalam Silsilah Ash Shahihah (549).

Ashl hadits ini terdapat dalam Shahih Bukhari (11) dan Shahih Muslim (66) :

عَنْ أَبِي مُوسَى رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ، قَالَ: قَالُوا يَا رَسُولَ اللَّهِ، أَيُّ الإِسْلاَمِ أَفْضَلُ؟ قَالَ: «مَنْ سَلِمَ المُسْلِمُونَ مِنْ لِسَانِهِ، وَيَدِهِ»

“Dari Abu Musa radhiallahu’anhu ia berkata: para sahabat bertanya: wahai Rasulullah, amalan Islam apa yang paling utama? Beliau menjawab: barangsiapa yang kaum Muslimin selamat dari keburukan lisannya dan tangannya”

Faedah hadits:

  1. Yang dimaksud dalam hadits ini adalah mukmin yang sempurna, muslim yang sempurna, mujahid yang sempurna dan muhajir yang sempurna. Al Munawi rahimahullah mengatakan:

    يعني المؤمن من حقه أن يكون موصوفا بذلك

    “Maksudnya mukmin yang sejati semestinya memiliki sifat demikian” (Faidhul Qadir, 6/252).
    As Suyuthi rahimahullah mengatakan:

    الْمُؤمن من امنه النَّاس أَي الْكَامِل لِأَن مَادَّة الْإِيمَان الامن وَهَكَذَا فِي المُهَاجر لِأَن الْهِجْرَة من دَار الْكفْر الى دَار الْإِسْلَام جملَة مِنْهَا

    “Mukmin adalah orang lain yang merasa aman terhadap dirinya. Maksudnya mukmin yang sempurna. Karena substansi dari keimanan adalah keamanan. Demikian juga muhajir di sini maksudnya muhajir yang sempurna. Karena hijrah dari negeri kafir ke negeri Islam juga termasuk substansi keimanan” (Syarah Sunan Ibni Majah, 1/282).

  2. Oleh karena itu, ketika kita memaknai hadits-hadits yang membicarakan sifat mukmin dan sifat muslim, bahwa mukmin adalah yang demikian dan demikian, dan Muslim adalah yang demikian dan demikian, ini tidak melazimkan orang yang tidak bersifat demikian menjadi bukan Mukmin dan bukan Muslim. Namun keimanannya dan keislamannya menjadi kurang sempurna. Karena kata “mukmin”, “muslim”, “mujahid”, dan “muhajir” di sini merupakan ismu jinsin (isim jenis). Ar Raghib Al Asfahani rahimahullah menjelaskan:

    كل اسم نوع فإنه يستعمل على وجهين: أحدهما: دلالته على المسمى وفصلا بينه وبين غيره. والثاني: لوجود المعنى المختص به، وذلك هو الذي يمدح به، وذلك أنَّ كل ما أوجده الله  ي هذا العالم جعله صالحًا لفعل خاص، ولا يصلح لذلك العمل سواه، كالفرس للعَدْوِ الشديد، والبعير لقطع الفلاة البعيدة، والإنسان ليعلم ويعمل

    “Setiap isim jenis digunakan dalam dua makna:
    Pertama, menunjukkan terhadap hal yang dinamai tersebut, serta membedakan ia dengan yang selainnya.
    Kedua, untuk menunjukkan suatu makna yang khusus, yang dengan makna khusus ini istilah tersebut menjadi istilah yang terpuji. Sebab semua yang Allah ciptakan di alam ini Allah jadikan ia baik dengan adanya suatu aksi khusus, yang aksi ini tidak dimiliki oleh selainnya. Seperti isim jenis “kuda” ia menjadi kuda baik jika memiliki sifat “lari kencang”. “unta” ia menjadi baik jika memiliki sifat “bisa menempuh perjalanan jauh di gurun”. “manusia” menjadi baik jika ia memiliki sifat “bekerja dan belajar”” (dinukil dari Quutul Mughtadzi ‘ala Jami At Tirmidzi, 2/649).
    Artinya kuda seakan-akan bukanlah kuda jika ia tidak bisa lari kencang, namun ia tetap kuda namun bukan kuda yang baik. Unta seolah seperti bukan unta jika tidak bisa berjalan jauh di gurun, namun ia tetap unta namun bukan unta yang sempurna. Maka demikian pula seorang Mukmin seakan bukan mukmin jika tidak memiliki sifat-sifat Mukmin, namun ia tetap Mukmin meskipun tidak sempurna.

  3. Diantara sifat seorang Mukmin adalah ia menjauhkan diri dari perbuatan yang membuat orang lain merasa tidak aman, apalagi jika sampai mengganggu, menyakiti, merenggut harta dan nyawa. Dan ini adalah perkara yang serius dan fatal bila dilanggar. Sebagaimana dijelaskan dalam hadits lain, Nabi Shallallahu’alaihi Wasallam bersabda:

    إِنَّ دِمَاءَكُمْ وَأَمْوَالَكُمْ حَرَامٌ عَلَيْكُمْ، كَحُرْمَةِ يَوْمِكُمْ هَذَا فِي شَهْرِكُمْ هَذَا، فِي بَلَدِكُمْ هَذَا

    Sesungguhnya darah dan harta kalian, haram bagi sesama kalian. Sebagaimana haramnya hari ini, haramnya bulan ini di negeri kalian ini…‘“ (HR. Bukhari – Muslim).

    Juga hadits Abu Musa Al Asy’ari radhiallahu’anhu di atas:

    أَيُّ الإِسْلاَمِ أَفْضَلُ؟ قَالَ: «مَنْ سَلِمَ المُسْلِمُونَ مِنْ لِسَانِهِ، وَيَدِهِ

    wahai Rasulullah, amalan Islam apa yang paling utama? Beliau menjawab: barangsiapa yang kaum Muslimin selamat dari keburukan lisannya dan tangannya

    Juga hadits Abu Hurairah radhiallahu’anhu, Nabi Shallallahu’alaihi Wasallam bersabda:

    واللَّهِ لا يؤمنُ واللَّهِ لا يؤمنُ واللَّهِ لا يؤمنُ قالوا وما ذاكَ يا رسولَ اللَّهِ قالَ الجارُ لا يأمنُ جارُهُ بوائقَهُ قالوا يا رسولَ اللَّهِ وما بَوائقُهُ قالَ شرُّهُ

    “Demi Allah tidak beriman, Demi Allah tidak beriman, Demi Allah tidak beriman”. Para sahabat bertanya: siapa itu wahai Rasulullah? Nabi menjawab: “Seseorang yang tetangganya merasa tidak aman dari bawaiq-nya”. Para sahabat bertanya: apa bawaiq itu wahai Rasulullah? Nabi menjawab: “keburukannya” (HR. Ahmad 14/262, dishahihkan Al Albani dalam Shahih At Targhib no. 2550).

    Mula Ali Al Qari rahimahullah menjelaskan hadits Fadhalah bin Ubaid di atas:

    يَعْنِي جَعَلُوهُ أَمِينًا وَصَارُوا مِنْهُ عَلَى أَمْنٍ (عَلَى دِمَائِهِمْ وَأَمْوَالِهِمْ) لِكَمَالِ أَمَانَتِهِ وَدِيَانَتِهِ، وَعَدَمِ خِيَانَتِهِ، وَحَاصِلُ الْفِقْرَتَيْنِ إِنَّمَا هُوَ التَّنْبِيهُ عَلَى تَصْحِيحِ اشْتِقَاقِ الِاسْمَيْنِ، فَمَنْ زَعَمَ أَنَّهُ مُتَّصِفٌ بِهِ يَنْبَغِي أَنْ يُطَالِبَ نَفْسَهُ بِمَا هُوَ مُشْتَقٌّ مِنْهُ، فَإِنْ لَمْ يُوجَدْ فِيهِ فَهُوَ كَمَنْ زَعَمَ أَنَّهُ كَرِيمٌ وَلَا كَرَمَ لَهُ

    “Maksud hadits ini hendaknya seorang Mukmin menjadikan mukmin yang lain merasa aman terhadap darahnya dan juga hartanya. Yang merupakan hasil dari sempurnanya amanah dan kesempurnaan agamanya serta jauhnya ia dari sifat khianat. Keterikatan antara dua hal ini (iman dan aman) adalah bahwa memberikan rasa aman menunjukkan shahihnya iman. Maka barangsiapa yang mengaku memiliki sifat-sifat Mukmin maka hendaknya ia memaksa jiwanya untuk melaksanakan apa yang jadi turunan dari keimanan. Jika itu tidak diwujudkan maka sebagaimana orang yang mengaku sebagai orang dermawan namun tidak pernah berlaku dermawan” (Mirqatul Mafatih Syarah Misykatul Mashabih, 1/107).

  4. Jika sifat-sifat yang disebutkan di atas merupakan sifat-sifat kesempurnaan, bukan berarti hukumnya hanya anjuran saja. Bahkan hukumnya tetap wajib, hanya saja jika tidak terwujud maka tidak menafikan keseluruhannya. Misalnya, mewujudkan rasa aman pada saudaranya semuslim hukumnya wajib. Jika seseorang tidak bisa mewujudkan rasa aman pada saudaranya semuslim, maka ia tetap mukmin yang tidak sempurna imanya dan tidak dinafikan keimanannya secara keseluruhan (sehingga menjadi kafir). Ibnu Rajab rahimahullah menjelaskan:

    والمراد بذلك المسلم الكامل الإسلام، فمن لم يسلم المسلمون من لسانه ويده فإنه ينتفي عنه كمال الإسلام الواجب، فإن سلامة المسلمين من لسان العبد ويده واجبة، فإن أذى المسلم حرام باللسان

    “Yang dimaksud hadits ini adalah Muslim yang sempurna keislamannya.Barangsiapa yang kaum Muslimin tidak merasa aman dari keburukan lisan dan tangannya maka dinafikan darinya kesempurnaan Islam yang wajib. Karena seseorang menjamin keselamatan seorang Muslim lainnya dari keburukan tangan dan lisannya itu wajib. Jika ia mengganggu Muslim yang lain, hukumnya haram, baik dengan lisan ataupun dengan tangan” (Fathul Baari libni Rajab, 1/38).

  5. Segala bentuk gangguan yang dilakukan seorang Muslim kepada Muslim yang lain, baik berupa perkataan maupun perbuatan, maka itu mengurangi keimanannya.
  6. Ibnu Rajab rahimahullah mengatakan:

    وباليد، فأذى اليد: الفعل، وأذى اللسان القول

    “Gangguan dengan tangan maksudnya dengan perbuatan, dengan lisan maksudnya dengan perkataan” (Fathul Baari libni Rajab, 1/38).
    Maka gangguan dengan tangan mencakup melukai, menyakiti, membunuh, merampok, mencuri, memperkosa, dan semua gangguan yang berupa perbuatan.
    Gangguan dengan lisan mencakup mencaci, mengghibahi, berdusta atas nama orang lain, ingkar janji, mengancam, meneror, dan semua gangguan yang berupa perkataan.

  7. Mujahid yang sejati adalah yang berjihad melawan hawa nafsunya. Ibnu Rajab mengatakan:

    وَكَذَلِكَ جِهَادُ الْعَدُوِّ الْبَاطِنِ، هُوَ جِهَادُ النَّفْسِ وَالْهَوَى، فَإِنَّ جِهَادَهُمَا مِنْ أَعْظَمِ الْجِهَادِ، كَمَا قَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: «الْمُجَاهِدُ مَنْ جَاهَدَ نَفْسَهُ فِي اللَّهِ»

    “Demikian juga jihad melawan musuh yang abstrak yaitu jihad melawan hawa nafsu. Karena jihad melawan keduanya adalah jihad yang paling agung. Sebagaimana sabda Nabi Shallallahu’alaihi Wasallam: mujahid adalah orang yang berjihad terhadap nafsunya dalam ketaatan kepada Allah” (Jami’ Al Ulum wal Hikam, 1/489).

    As Suyuthi rahimahullah mengatakan:

    “المجاهد من جاهد نفسه” يريد أنَّ هذا أفضل الجهاد

    mujahid adalah orang yang berjihad terhadap nafsunya, maksudnya bahwa ini adalah jihad yang paling utama” (Quutul Mughtadzi ‘ala Jami At Tirmidzi, 1/418).

  8. Bukan berarti jihad fisik (perang) tidak lebih utama dari jihad melawan hawa nafsu. Namun orang yang berjihad dalam perang di jalan Allah hendaknya ia terlebih dahulu berjihad melawan hawa nafsunya. Karena jika tidak demikian maka jihadnya di jalan Allah akan ternodai dengan kecacatan seperti niat yang tidak ikhlas, menjadi pujian, menjadi harta, atau menempuh cara jihad yang tidak dibenarkan syariat. Semua itu dikarenakan ia gagal berjihad melawan hawa nafsunya. Al Munawi rahimahullah mengatakan;

    فهو نفسه الأمارة بالسوء على ما فيه رضا الله من فعل الطاعات وتجنب المخالفات وجهادها أصل جهاد العدو الخارج فإنه ما لم يجاهد نفسه لتفعل ما أمرت به وتترك ما نهيت عنه لم يمكنه جهاد العدو الخارج وكيف يمكنه جهاد عدوه وعدوه الذي بين جنبيه قاهر له متسلط عليه؟ وما لم يجاهد نفسه على الخروج لعدوه لا يمكنه الخروج

    “Yang dimaksud nafsu di sini adalah nafsu yang mengarahkan kepada keburukan dalam aktifitas yang diharapkan padanya ridha Allah berupa ketaatan dan menjauhi pelanggaran syariat. Dan jihad terhadap hawa nafsu adalah landasan dari jihad (fisik) terhadap musuh. Karena jika seseorang tidak berjihad terhadap hawa nafsunya dengan menjalankan apa yang diperintahkan atau meninggalkan apa yang dilarang maka tidak mungkin ia bisa berjihad (fisik) melawan musuh. Dan bagaimana mungkin ia bisa memenangkan jihad melawan musuhnya atau musuh dari pasukannya (jika tidak berjihad terhadap hawa nafsunya dahulu)? Dan selama ia tidak berjihad melawan hawa nafsunya ia tidak akan bisa berhasil mengusir musuhnya!”(Faidhul Qadir, 6/262).

  9. Kata “النفس ” memiliki dua makna.

    <قال حجة الإسلام: النفس تطلق لمعنيين أحدهما المعنى الجامع لقوة الغضب والشهوة في الإنسان وهو المراد هنا وهو الغالب على استعمال الصوفية فهم يريدون بالنفس الأصل الجامع للصفات المذمومة من الإنسان فيقولون لا بد من مجاهدة النفس والثاني اللطيفة الإنسانية التي هي الإنسان بالحقيقة وهي نفس الإنسان وذاته لكنها توصف بأوصاف مختلفة بحسب اختلاف أحوالها وبهذا الاعتبار قسموها إلى مطمئنة ولوامة وأمارة وغير ذلك

    “Hujjatul Islam (Al Ghazali) mengatakan: kata النفس  memiliki dua makna:
    Pertama, istilah yang mencakup semua bentuk kemarahan dan syahwat yang memuncak pada diri manusia. Dan inilah yang digunakan di sini, dan juga merupakan penggunaan yang paling umum digunakan oleh kaum Sufi bahwa nafsu adalah istilah yang mencakup sifat-sifat tercela pada diri manusia. Sehingga mereka mengatakan: wajib bagi kita untuk berjihad terhadap nafsu
    Kedua, maknanya: jiwa manusia, yang ia merupakan bentuk hakiki dari seorang manusia karena manusia terdiri dari nafsu (jiwa) dan fisiknya. Namun nafsu dalam makna ini disifati dengan sifat yang berbeda-beda tergantung keadaannya. Maka dengan konteks ini, nafsu dibagi menjadi nafsun muthmainnah, nafsun lawwamah, nafsun ammarah, dan yang lainnya” (Faidhul Qadir, 6/262).

  10. Hijrah pada hakikatnya adalah meninggalkan keburukan dan dosa menuju ketaatan. Namun bukan berarti hijrah berupa pindah ke tempat yang lebih baik itu tidak penting. Bahkan bisa jadi mustahab atau wajib jika keadaan agama seseorang dikhawatirkan rusak ketika tidak berpindah tempat. Oleh karena itu Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam melarang seorang Muslim tinggal di negeri kafir dan tidak berhijrah tanpa ada kebutuhan. Beliau bersabda,

    أَنا بريءٌ من كلِّ مسلمٍ يُقيمُ بينَ أظهرِ المشرِكينَ

    Aku berlepas diri dari setiap Muslim yang tinggal di antara mayoritas kaum Musyrikin” (HR. Abu Daud 2645, dishahihkan Al Albani dalam Shahih Abi Daud).

Wallahu a’lam.

Terkait

Berlangganan artikel Situs Sunnah melalui email, RSS, atau Telegram.