Oleh Ustadz Ari Wahyudi Abu Mushlih

Semua orang tentu mendambakan keselamatan dan kebahagiaan, sehingga apabila ada bencana yang mengancam mereka pun berusaha menangkalnya. Dan jika bencana sudah menimpa, maka berbagai cara pun ditempuh untuk menghilangkannya. Dalam keadaan seperti ini, orang yang tidak memiliki pemahaman tauhid yang benar sangat rawan terjerumus dalam kesyirikan.

Hanya Alloh sumber keselamatan
Seorang muslim harus yakin bahwasanya hanya Alloh lah yang menguasai seluruh kebaikan dan madharat, baik yang belum menimpa maupun yang sudah menimpa. Alloh Ta’ala berfirman, “Katakanlah : Maka terangkanlah kepadaku tentang apa yang kamu seru selain Alloh, jika Alloh hendak mendatangkan kemudhratan kepadaku, apakah berhala-berhalamu itu dapat menghilangkan kemudharatan itu, atau jika Alloh hendak memberi rahmat kepadaku, apakah mereka dapat menahan rahmat-Nya ? Katakanlah : Cukuplah Alloh bagiku, kepada-Nya lah bertawakkal orang-orang yang berserah diri” (Az Zumar : 38).
Ayat ini dan ayat-ayat yang semacamnya memupus ketergantungan hati kepada selain Alloh dalam meraih kebaikan atau menolak madharat, dan menunjukkan bahwasanya ketergantungan hati kepada selain Alloh itu termasuk perbuatan mempersekutukan-Nya.

Prinsip Penting dalam Pengambilan Sebab
Seorang yang ingin meraih manfaat atau menolak madaharat tentunya berusaha menempuh sebab demi tercapainya keinginannya. Dalam menempuh sebab ini ada tiga pedoman yang harus diperhatikan :
1. Sebab yang ditempuh harus diijinkan oleh syari’at, baik yang terbukti dengan jalan wahyu maupun yang diperoleh berdasarkan pengalaman
2. Tidak boleh bersandar kepada sebab, tetapi harus senantiasa menyandarkan hati kepada pencipta dan penguasa sebab yaitu Alloh ‘Azza wa Jalla, dengan tetap bersemangat mencari sebab-sebab yang bermanfaat
3. Harus diyakini bahwa sekuat apapun sebab tetap ditentukan oleh takdir dari Alloh. Bisa jadi hukum sebab akibat itu dibiarkan berjalan sebagaimana biasa dan bisa juga sebaliknya.

Bergantung kepada selain Alloh
Suatu saat Nabi shollallohu ‘alaihi wa sallam melihat ada seseorang yang mengenakan gelang dari bahan kuningan, maka Nabi pun bertanya kepadanya, “Apa ini ?”, orang itu menjawab, “Ini aku pakai karena aku sakit”. Maka Nabi bersabda, “Lepaskan saja itu, karena ia tidak akan menambah kepadamu kecuali kelemahan, sungguh jika engkau mati sementara gelang itu masih kau kenakan niscaya engkau tidak akan selamat selama-lamanya” (HR. Ahmad).
Pelajaran yang bisa dipetik dari hadits ini adalah bahwasanya orang yang mengenakan gelang dan semacamnya dalam rangka menolak bala atau menghilangkannya termasuk perbuatan syirik karena Nabi bersabda, “jika engkau mati sementara gelang itu masih kau kenakan niscaya engkau tidak akan selamat selama-lamanya”, ditepisnya keselamatan menunjukkan bahwa orang yang melakukannya pasti mendapatkan kebinasaan dan kerugian.

Hukum Mengalungkan Tamimah
Tamimah adalah sesuatu yang dikalungkan untuk menolak bala, orang Arab dahulu biasa memakaikannya pada anak-anak untuk menjaga mereka dari gangguan mata jahat (‘ain). ‘Ain ini bila menimpa seseorang dapat membuatnya jatuh sakit secara tiba-tiba. Bahan tamimah bisa terbuat dari kerang, batu, kayu, akar, kulit, kain atau bahan apapun yang dipakai untuk tujuan tolak bala.
Rosululloh shollallohu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Barangsiapa yang mengalungkan tamimah maka dia telah berbuat syirik” (Hadits shohih, diriwayatkan oleh Imam Ahmad). Dan hukum mengenakan tamimah menjadi syirik akbar jika pelaku meyakini bahwa benda yang dipakainya itu bisa memberikan pengaruh sediri diluar kehendak Alloh. Adapun jika dia meyakini bahwa itu sekedar sebab saja maka hukumnya syirik asghor. Namun seseorang tidak boleh meremehkan syirik ashghor, karena tingkah polah hati seringkali cenderung bersandar kepada sebab. Terlebih lagi syirik ashghor yang penampakannya sangat samar adalah dosa terbesar seorang muslim, yang kadarnya lebih berat daripada dosa berzina, mencuri dan semacamnya maka tidak ada kata lain kecuali waspada.

Muslim Tetapi Musyrik
Orang yang memakai tamimah atau jimat tergolong musyrik dengan jenis syirik ashghor, tapi statusnya masih muslim. Karena hanya dosa syirik akbar dan yang sederajatlah yang dapat membatalkan keislaman seseorang. Dalam sebuah riwayat yang dibawakan Ibnu Abi Hatim diceritakan bahwa suatu saat Hudzaifah melihat ada seseorang yang memakai tali untuk mengobati demam yang dideritanya, maka beiau pun memutus tali tersebut sambil membaca firman Alloh, “Dan sebagian besar mereka tidak beriman kepada Alloh melainkan dalam keadaan mempersekutukan-Nya” (Yusuf : 106). Maksudnya adalah mereka beriman dengan rububiyah Alloh tetapi mengingkari uluhiyyah Alloh.
Ayat di atas tidak mesti digunakan sebagai hujjah untuk mengingkari syirik akbar, akan tetapi bisa dipakai untuk mengingkari syirik ashghor. Hal ini karena syirik ashghor dan syirik akbar sama-sama dari jenis syirik, sehingga tepatlah Hudzaifah rodhiyallohu ‘anhu berdalil dengan memakai ayat ini.

Berserah diri hanya kepada Alloh
Apabila kita cermati baik-baik maka ternyata kunci utama agar kita terbebas dari ketergantungan kepada selain Alloh adalah dengan bertawakkal kepada-Nya. Oleh karena itulah Alloh memerintahkan untuk mengatakan, “Cukuplah Alloh bagiku” dan Alloh tegaskan bahwa orang yang bertawakkal itu senantiasa meyerahkan urusannya kepada Alloh Ta’ala. Ini artinya orang yang tidak bertawakkal kepada-Nya maka tidaklah ia disebut orang yang bertawakkal. Bahkan dia telah kehilangan kesempurnaan atau bahkan seluruh imannya, sebagaimana diisyaratkan oleh Alloh dalam firman-Nya, “Kepada Alloh lah orang-orang yang beriman menyerahkan diri” (At Taubah : 51). Dan barangsiapa yang menyerahkan urusan kepada selain-Nya maka dia akan dihinakan dan tidak akan mendapatkan apa yang diharapkannya.
Memang demikianlah keadaannya, segala yang dijadikan sandaran oleh manusia untuk mengatasi permasalahannya adalah justeru berbalik menjadi sebab kelemahannya kecuali jika yang dijadikan sandaran adalah Alloh ‘Azza wa Jalla, karena memang hanya Alloh lah yang pantas. Dia lah satu-satunya Dzat yang menguasai langit dan bumi, kehidupan dan kematian serta keselamatan dan kebinasaan. Oleh karena itu marilah kita cermati hati kita masing-masing apakah selama ini kita memiliki ketergantungan hati kepada selain-Nya, jangan-jangan kita berkubang syirik namun kita tidak sadar dan merasa aman-aman saja. Padahal keamanan dan petunjuk hanya akan diperoleh jika kita senantiasa mejaga keimanan agar tidak terkotori kesyirikan. Wallohu a’lam bish showaab.

Sebarkan Artikel ini, Berpahala Insya Allah

Berlangganan artikel Situs Sunnah melalui email, RSS, atau Telegram.