MENGHADAPI TIPU DAYA ORANG KAFIR

Oleh

Ustadz Said Yai Ardiansyah Lc. MA*

Allah Azza wa Jalla berfirman:

إِنْ تَمْسَسْكُمْ حَسَنَةٌ تَسُؤْهُمْ وَإِنْ تُصِبْكُمْ سَيِّئَةٌ يَفْرَحُوا بِهَا ۖ وَإِنْ تَصْبِرُوا وَتَتَّقُوا لَا يَضُرُّكُمْ كَيْدُهُمْ شَيْئًا ۗ إِنَّ اللَّهَ بِمَا يَعْمَلُونَ مُحِيطٌ

Jika kalian memperoleh kebaikan, niscaya mereka bersedih hati, tetapi jika kalian mendapat bencana, mereka bergembira karenanya. Jika kalian bersabar dan bertakwa, niscaya tipu daya mereka sedikit pun tidak mendatangkan ke-mudharat-an kepada kalian. Sesungguhnya Allâh mengetahui segala apa yang mereka kerjakan.” [Ali ‘Imrân/3:120]

TAFSIR RINGKAS

Jika kalian memperoleh kebaikan,” maksudnya adalah kalian, wahai orang-orang yang beriman, ketika memperoleh kemenangan dari musuh kalian, ghanîmah (harta rampasan perang) yang kalian dapatkan dari mereka, maka banyak orang yang berbondong-bondong masuk ke dalam agama kalian dan kemakmuran di dalam kehidupan kalian, niscaya mereka bersedih hati,” yaitu hal tersebut membuat mereka sedih. Tetapi jika kalian mendapat bencana,” yaitu kalian mendapatkan keburukan berupa kekalahan dan sebagian kalian ditawan atau terjadi perselisihan di antara kalian, atau kalian ditimpa kekeringan dan musibah, maka mereka bergembira karenanya.”

Apabila kalian bersabar atas apa-apa yang menimpa kalian dan kalian bertakwa kepada Allâh Azza wa Jalla dalam melaksanakan perintah dan menjauhi larangan-Nya… maka tipu daya mereka tidak akan bisa me-mudharat-kan atau membahayakan kalian sedikit pun”. Karena Allâh Azza wa Jalla adalah penolong kalian dan melihat seluruh gerak-gerik mereka dan seluruh apa yang mereka lakukan. Allâh Subhanahu wa Ta’ala akan membatalkan semua tipu daya tersebut. Kemudian Allâh Azza wa Jalla mengatakan, Sesungguhnya Allâh meliputi segala apa yang mereka kerjakan. Meliputi maksudnya mengetahui.[1]

PENJABARAN AYAT

Firman Allâh Azza wa Jalla :

إِنْ تَمْسَسْكُمْ حَسَنَةٌ تَسُؤْهُمْ وَإِنْ تُصِبْكُمْ سَيِّئَةٌ يَفْرَحُوا بِهَا

Jika kalian memperoleh kebaikan, niscaya mereka bersedih hati, tetapi jika kalian mendapat bencana, mereka bergembira karenanya.

Di dalam dua ayat sebelum ayat ini, Allâh Azza wa Jalla berfirman:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لَا تَتَّخِذُوا بِطَانَةً مِنْ دُونِكُمْ لَا يَأْلُونَكُمْ خَبَالًا وَدُّوا مَا عَنِتُّمْ قَدْ بَدَتِ الْبَغْضَاءُ مِنْ أَفْوَاهِهِمْ وَمَا تُخْفِي صُدُورُهُمْ أَكْبَرُ ۚ قَدْ بَيَّنَّا لَكُمُ الْآيَاتِ ۖ إِنْ كُنْتُمْ تَعْقِلُونَ ﴿١١٨﴾ هَا أَنْتُمْ أُولَاءِ تُحِبُّونَهُمْ وَلَا يُحِبُّونَكُمْ وَتُؤْمِنُونَ بِالْكِتَابِ كُلِّهِ وَإِذَا لَقُوكُمْ قَالُوا آمَنَّا وَإِذَا خَلَوْا عَضُّوا عَلَيْكُمُ الْأَنَامِلَ مِنَ الْغَيْظِ ۚ قُلْ مُوتُوا بِغَيْظِكُمْ ۗ إِنَّ اللَّهَ عَلِيمٌ بِذَاتِ الصُّدُورِ

Wahai orang-orang yang beriman! Janganlah kalian menjadikan orang-orang yang di luar kalanganmu sebagai teman kepercayaan kalian (karena) mereka tidak henti-hentinya (menimbulkan) kemudharatan bagi kalian. Mereka menyukai apa yang menyusahkan kalian. Telah nyata kebencian dari mulut-mulut mereka, dan apa yang disembunyikan oleh hati mereka adalah lebih besar lagi. Sungguh telah Kami terangkan kepada kalian ayat-ayat (Kami), jika kalian memahaminya. Inilah kalian. Kalian menyukai mereka, padahal mereka tidak menyukai kalian, dan kalian beriman kepada kitab-kitab semuanya. Apabila mereka menjumpai kalian, mereka berkata “Kami beriman”, dan apabila mereka menyendiri, mereka menggigit ujung jari lantaran marah bercampur benci terhadap kalian. Katakanlah (kepada mereka): ‘Matilah kalian karena kemarahan kalian itu.’ Sesungguhnya Allâh mengetahui segala isi hati.” [Ali ‘Imrân/3:118-119]

Pada dua ayat ini Allâh Azza wa Jalla mengabarkan akan kebencian mereka terhadap orang-orang yang beriman.

KEBENCIAN ORANG KAFIR TERHADAP ORANG ISLAM

Kebencian orang kafir terhadap kaum Muslimin adalah realita yang sangat jelas, walaupun sebagian mereka tidak menampakkan hal tersebut dengan penampilan zahirnya. Allâh Azza wa Jalla berfirman:

وَلَنْ تَرْضَىٰ عَنْكَ الْيَهُودُ وَلَا النَّصَارَىٰ حَتَّىٰ تَتَّبِعَ مِلَّتَهُمْ ۗ قُلْ إِنَّ هُدَى اللَّهِ هُوَ الْهُدَىٰ ۗ وَلَئِنِ اتَّبَعْتَ أَهْوَاءَهُمْ بَعْدَ الَّذِي جَاءَكَ مِنَ الْعِلْمِ ۙ مَا لَكَ مِنَ اللَّهِ مِنْ وَلِيٍّ وَلَا نَصِيرٍ

Orang-orang Yahudi dan Nasrani tidak akan senang kepada kamu hingga kamu mengikuti agama mereka. Katakanlah, “Sesungguhnya petunjuk Allâh itulah petunjuk (yang benar)”. Dan sesungguhnya jika kamu mengikuti kemauan mereka setelah pengetahuan datang kepadamu, maka Allâh tidak lagi menjadi pelindung dan penolong bagimu. [Al-Baqarah/2:120]

Begitu pula firman Allâh Azza wa Jalla :

لَتَجِدَنَّ أَشَدَّ النَّاسِ عَدَاوَةً لِلَّذِينَ آمَنُوا الْيَهُودَ وَالَّذِينَ أَشْرَكُوا ۖ وَلَتَجِدَنَّ أَقْرَبَهُمْ مَوَدَّةً لِلَّذِينَ آمَنُوا الَّذِينَ قَالُوا إِنَّا نَصَارَىٰ ۚ ذَٰلِكَ بِأَنَّ مِنْهُمْ قِسِّيسِينَ وَرُهْبَانًا وَأَنَّهُمْ لَا يَسْتَكْبِرُونَ

Sesungguhnya kamu dapati orang-orang yang paling keras permusuhannya terhadap orang-orang yang beriman ialah orang-orang Yahudi dan orang-orang musyrik. Dan sesungguhnya kamu dapati yang paling dekat persahabatannya dengan orang-orang yang beriman ialah orang-orang yang berkata, “Sesungguhnya kami ini orang Nasrani.” Yang demikian itu disebabkan karena di antara mereka itu (orang-orang Nasrani) terdapat pendeta-pendeta dan rahib-rahib, (juga) karena sesungguhnya mereka tidak menyombongkan diri.” [Al-Mâidah/5:82]

Sehingga sangat wajar ketika terjadi hal-hal yang sangat memprihatinkan pada kaum Muslimin saat mereka di bawah kekuasaan kaum kafirin.

BERBAGAI BENTUK KEBENCIAN MEREKA

Di antara bentuk kebencian orang-orang kafir terhadap orang-orang Islam terdapat pada ayat yang sedang kita bahas ini. Allâh Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

إِنْ تَمْسَسْكُمْ حَسَنَةٌ تَسُؤْهُمْ وَإِنْ تُصِبْكُمْ سَيِّئَةٌ يَفْرَحُوا بِهَا

Jika kalian memperoleh kebaikan, niscaya mereka bersedih hati, tetapi jika kalian mendapat bencana, mereka bergembira karenanya. [Ali Imran/3:120]

Para ulama berselisih dalam mengungkapkan makna “hasanah” atau kebaikan juga makna “saiyi’ah” atau bencana/keburukan dalam ayat ini. Akan tetapi perselisihan ini sebenarnya bukanlah perselisihan, tetapi hanya perbedaan dalam memisalkan atau menggambarkan makna saja. Di antara pendapat yang disebutkan oleh para Ulama ahli tafsir adalah sebagai berikut:

  1. Qatâdah rahimahullah mengatakan, “Apabila mereka melihat keharmonisan, persatuan dari orang-orang Islam serta tampak lebih tinggi dari musuh mereka, maka mereka marah dan ini membuat mereka sedih. Apabila mereka melihat pada diri orang-orang Islam perpecahan, perselisihan atau ada sebagian dari orang-orang Muslim terkena musibah maka mereka bergembira.”
  2. Ar-Rabî’ rahimahullah mengatakan, “Mereka adalah orang-orang munafik.” Kemudian beliau menafsirkan seperti yang ditafsirkan oleh Qatâdah rahimahullah di atas.[2]
  3. Al-Baghawi rahimahullah mengatakan, “Maksudnya adalah kalian, wahai orang-orang yang beriman, ketika memperoleh kemenangan di atas musuh kalian, ghanîmah (harta rampasan perang) yang kalian dapatkan dari mereka, berbondong-bondongnya manusia masuk ke dalam agama kalian dan kemakmuran di dalam kehidupan kalian, niscaya mereka bersedih hati,” yaitu hal tersebut membuat mereka sedih. Tetapi jika kalian mendapat bencana,” yaitu kalian mendapatkan keburukan dengan memperoleh kekalahan dan ditawannya sebagian kalian atau terjadi perselisihan di antara kalian, atau kalian ditimpa kekeringan dan musibah, maka mereka bergembira karenanya.”[3]
  4. Ibnu Katsir rahimahullah mengatakan, “Apabila orang-orang yang beriman mendapatkan kemakmuran, kemenangan, pertolongan, jumlahnya semakin banyak dan semakin kuat para penolong mereka, maka hal tersebut membuat orang-orang munafik Apabila orang-orang beriman ditimpa kekeringan atau kekurangan (jadb) atau berhasil dikalahkan oleh para musuh mereka -yang mana pada saat itu ada hikmah yang diinginkan oleh Allâh Azza wa Jalla , sebagaimana terjadi ketika perang Uhud- orang-orang munafik senang dengan hal tersebut.”[4]
  5. Asy-Syaukani rahimahullah mengatakan, “Hasanah yaitu kemenangan atas musuh, rezeki dan kebaikan. Saiyi’ah yaitu terbunuh, kekalahan dan kesusahan.”[5]

SEBAGIAN KAUM MUSLIMIN MEMILIKI SIFAT INI?

Sangat disayangkan ada sebagian kaum Muslimin merasa senang dengan keburukan yang menimpa saudara Muslim yang lainnya. Ini merupakan salah satu sifat munafik. Sudah sepantasnya kita menjauhinya.

Syaikh ‘Ali Ramadhan Abul-‘Izz mengatakan, “Sesungguhnya orang-orang munafik membenci kebaikan yang didapatkan oleh orang yang beriman dan mereka mengharapkan keburukan bagi mereka, sebagai bentuk kedengkian dan kebencian. Allâh Azza wa Jalla telah memperingatkan orang-orang beriman akan kebencian dan kedengkian mereka agar orang-orang yang beriman mendapatkan penjelasan tentang keadaan orang-orang munafik dan tidak menjadikan mereka sebagai pelindung sehingga mereka menemui mereka dengan kecintaan.”[6]

Firman Allâh Azza wa Jalla :

وَإِنْ تَصْبِرُوا وَتَتَّقُوا لَا يَضُرُّكُمْ كَيْدُهُمْ شَيْئًا 

Jika kalian bersabar dan bertakwa, niscaya tipu daya mereka sedikit pun tidak mendatangkan ke-mudharat-an kepada kalian.

ARTI“KAIDUHUM”

Saat mengartikan kaiduhum, Imam ath-Thabari t di dalam tafsirnya mengatakan, “Dia adalah keburukan-keburukan yang diinginkan orang-orang kafir agar ditimpakan kepada orang-orang Islam dan tipu daya mereka kepada mereka (orang-orang Islam) untuk menghalangi mereka dari petunjuk dan jalan kebenaran.”[7]

ORANG KAFIR SUKA MELAKUKAN TIPU

rang Kafir Suka Melakukan Tipu Daya

Karena kebencian orang-orang kafir kepada orang-orang Islam yang sangat besar dan mereka tidak akan berbahagia kecuali orang-orang Islam mendapatkan keburukan dan musibah, maka mereka senantiasa melakukan tipu daya dan penipuan kepada kaum Muslimin. Hal ini juga difirmankan oleh Allâh Azza wa Jalla :

أَمْ يُرِيدُونَ كَيْدًا ۖ فَالَّذِينَ كَفَرُوا هُمُ الْمَكِيدُونَ

Ataukah mereka hendak melakukan tipu daya? Maka orang-orang yang kafir itu merekalah yang kena tipu daya. [Ath-Thûr/52:42]

BANYAK AGAMA AKAN MENYERANG ISLAM, BENARKAH?

Tsaubân Radhiyallahu anhu, mantan budak Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata bahwa Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

((يُوشِكُ أَنْ تَدَاعَى عَلَيْكُمُ الأُمَمُ مِنْ كُلِّ أُفُقٍ كَمَا تَدَاعَى الأَكَلَةُ عَلَى قَصْعَتِهَا.)) قَالَ: قُلْنَا: يَا رَسُولَ اللهِ ، أَمِنْ قِلَّةٍ بِنَا يَوْمَئِذٍ؟ قَالَ: ((أَنْتُمْ يَوْمَئِذٍ كَثِيرٌ ، وَلَكِنْ تَكُونُونَ غُثَاءً كَغُثَاءِ السَّيْلِ ، تُنْتَزَعُ الْمَهَابَةُ مِنْ قُلُوبِ عَدُوِّكُمْ ، وَيَجْعَلُ فِي قُلُوبِكُمُ الْوَهْنَ . قَالَ : قُلْنَا : وَمَا الْوَهْنُ ؟ قَالَ : حُبُّ الْحَيَاةِ وَكَرَاهِيَةُ الْمَوْتِ.))

Hampir saja umat-umat (agama-agama) saling menyeru untuk mengepung kalian dari segala penjuru, sebagaimana orang-orang yang makan saling memanggil untuk mengepung nampan makan mereka.” Kami pun mengatakan, “Apakah jumlah kami sedikit ketika itu?” Beliau menjawab, “(Jumlah) kalian pada saat itu banyak. Tetapi kalian seperti buih-buih yang dibawa aliran air.  Rasa takut (kepada kalian) dicabut dari hati-hati para musuh kalian dan Allâh Azza wa Jalla jadikan di hati-hati kalian al-wahn.” Kami pun bertanya, “Apa al-wahn itu?” Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab, “Cinta dunia dan benci kematian.” [8]

HARUSKAH KITA MERASA KETAKUTAN DENGAN APA YANG MEREKA LAKUKAN?

Kita tidak boleh merasa takut dengan apa yang mereka lakukan, kita harus tetap tegar dengan melakukan apa yang Allâh Azza wa Jalla perintahkan dalam ayat yang sedang kita bahas ini. Allâh Azza wa Jalla mengatakan:

فَلَا تَخَافُوهُمْ وَخَافُونِ إِنْ كُنْتُمْ مُؤْمِنِينَ

Janganlah kalian takut kepada mereka dan takutlah kalian kepada-Ku jika kalian beriman! [Ali Imrân/3:175]

 CARA YANG TEPAT UNTUK MENGHADAPI TIPU DAYA MEREKA

Cara yang tepat untuk menghadapi tipu daya mereka adalah dengan selalu bersabar dan bertakwa kepada Allâh Azza wa Jalla sebagaimana yang difirmankan oleh-Nya dalam ayat yang sedang kita bahas ini dan juga firman-Nya:

وُنَّ فِي أَمْوَالِكُمْ وَأَنْفُسِكُمْ وَلَتَسْمَعُنَّ مِنَ الَّذِينَ أُوتُوا الْكِتَابَ مِنْ قَبْلِكُمْ وَمِنَ الَّذِينَ أَشْرَكُوا أَذًى كَثِيرًا ۚ وَإِنْ تَصْبِرُوا وَتَتَّقُوا فَإِنَّ ذَٰلِكَ مِنْ عَزْمِ الْأُمُورِ

Kalian sungguh-sungguh akan diuji terhadap harta kalian dan diri kalian. Dan kalian juga sungguh-sungguh akan mendengar dari orang-orang yang diberi kitab sebelum kalian dan dari orang-orang yang mempersekutukan Allâh, gangguan yang banyak yang menyakitkan hati. Jika kamu bersabar dan bertakwa, maka sesungguhnya yang demikian itu termasuk urusan yang patut diutamakan. [Ali ‘Imrân/3:186]

MENGAPA HARUS BERSABAR UNTUK MENGHADAPI MEREKA?

Kita harus selalu bersabar dengan ujian yang Allâh Azza wa Jalla berikan kepada kita, terutama atas gangguan orang-orang kafir terhadap kaum Muslimin. Rasûlullâh k pernah menegur para Sahabatnya karena gangguan yang dilakukan orang-orang kafir kepada kaum Muslimin. Khabbab bin al-Aratti z pernah menceritakan:

شَكَوْنَا إِلَى رَسُولِ اللهِ -صلى الله عليه وسلم- وَهْوَ مُتَوَسِّدٌ بُرْدَةً لَهُ فِي ظِلِّ الْكَعْبَةِ قُلْنَا لَهُ أَلاَ تَسْتَنْصِرُ لَنَا أَلاَ تَدْعُو اللَّهَ لَنَا قَالَ كَانَ الرَّجُلُ فِيمَنْ قَبْلَكُمْ يُحْفَرُ لَهُ فِي الأَرْضِ فَيُجْعَلُ فِيهِ فَيُجَاءُ بِالْمِنْشَارِ فَيُوضَعُ عَلَى رَأْسِهِ فَيُشَقُّ بِاثْنَتَيْنِ وَمَا يَصُدُّهُ ذَلِكَ عَنْ دِينِهِ وَيُمْشَطُ بِأَمْشَاطِ الْحَدِيدِ مَا دُونَ لَحْمِهِ مِنْ عَظْمٍ، أَوْ عَصَبٍ وَمَا يَصُدُّهُ ذَلِكَ عَنْ دِينِهِ وَاللَّهِ لَيُتِمَّنَّ هَذَا الأَمْرَ حَتَّى يَسِيرَ الرَّاكِبُ مِنْ صَنْعَاءَ إِلَى حَضْرَمَوْتَ لاَ يَخَافُ إِلاَّ اللَّهَ ، أَوِ الذِّئْبَ عَلَى غَنَمِهِ وَلَكِنَّكُمْ تَسْتَعْجِلُون

Dulu kami berkeluh kesah kepada Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam , ketika itu Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam sedang berbaring di atas bajunya di bawah naungan Ka’bah. Kami pun berkata, ‘Bagaimana jika engkau meminta tolong untuk kami? Bagaimana jika engkau berdoa untuk kebaikan kami?’ Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam pun berkata, ‘Dulu ada seorang laki-laki di antara umat sebelum kalian digalikan untuknya lubang di tanah, kemudian dia dimasukkan ke dalamnya. Kemudian dibawakan kepadanya sebuah gergaji dan ditaruh di atas kepalanya dan dibelah tubuhnya menjadi dua bagian. Hal tersebut tidak menghalanginya dari agamanya (tidak murtad). Dan ada yang disisir dengan sisir-sisir besi di dalam dagingnya dan mengenai tulang atau ototnya. Hal tersebut tidak menghalanginya dari agamanya.

Demi Allâh! Allâh Subhanahu wa Ta’ala akan menyempurnakan urusan (agama) ini sehingga orang yang berkendara bisa berjalan dari Shan’aa’ hingga Hadhramaut[9] dalam keadaaan tidak takut kecuali hanya takut kepada Allâh dan seseorang tidak lagi takut serigala memakan kambingnya. Akan tetapi kalian sangat tergesa-gesa.” [HR. Al-Bukhari dalam kitab Shahihnya]

Allâh Azza wa Jalla menolong hamba-Nya yang bersabar dan bertakwa. Allâh Azza wa Jalla mengatakan:

بَلَىٰ ۚ إِنْ تَصْبِرُوا وَتَتَّقُوا وَيَأْتُوكُمْ مِنْ فَوْرِهِمْ هَٰذَا يُمْدِدْكُمْ رَبُّكُمْ بِخَمْسَةِ آلَافٍ مِنَ الْمَلَائِكَةِ مُسَوِّمِينَ

Ya (cukup), jika kalian bersabar dan bertakwa, dan mereka datang menyerang kamu dengan seketika itu juga, niscaya Allâh menolong kalian dengan lima ribu Malaikat yang memakai tanda. [Ali ‘Imrân/3: 125]

MENGAPA HARUS BERTAKWA UNTUK MENGHADAPI MEREKA?

Allâh Azza wa Jalla tidak akan memberikan pertolongan kecuali jika kita bertakwa. Allâh Azza wa Jalla berfirman:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا إِنْ تَتَّقُوا اللَّهَ يَجْعَلْ لَكُمْ فُرْقَانًا وَيُكَفِّرْ عَنْكُمْ سَيِّئَاتِكُمْ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ۗ وَاللَّهُ ذُو الْفَضْلِ الْعَظِيمِ

Wahai orang-orang beriman! Jika kalian bertakwa kepada Allâh, Kami akan memberikan kepada kalian furqân (pertolongan[10]). Dan Kami akan menghapuskan kesalahan-kesalahan kalian, dan mengampuni (dosa-dosa) kalian. Dan Allâh mempunyai karunia yang besar. [Al-Anfâl/8:29]

Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam juga menggambarkan takwa sebagai jalan untuk bisa selamat dari kebinasaan. Diriwayatkan dari An-Nu’man bin Basyir Radhiyallahu anhu, Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

مَثَلُ الْقَائِمِ عَلَى حُدُودِ اللهِ وَالْوَاقِعِ فِيهَا كَمَثَلِ قَوْمٍ اسْتَهَمُوا عَلَى سَفِينَةٍ فَأَصَابَ بَعْضُهُمْ أَعْلاَهَا وَبَعْضُهُمْ أَسْفَلَهَا فَكَانَ الَّذِينَ فِي أَسْفَلِهَا إِذَا اسْتَقَوْا مِنَ الْمَاءِ مرُّوا عَلَى مَنْ فَوْقَهُمْ فَقَالُوا: لَوْ أَنَّا خَرَقْنَا فِي نَصِيبِنَا خَرْقًا وَلَمْ نُؤْذِ مَنْ فَوْقَنَا. فَإِنْ يَتْرُكُوهُمْ وَمَا أَرَادُوا هَلَكُوا جَمِيعًا وَإِنْ أَخَذُوا عَلَى أَيْدِيهِمْ نَجَوْا وَنَجَوْا جَمِيعًا.

Perumpamaan orang yang menjaga batasan-batasan Allâh dan yang melanggarnya seperti suatu kaum yang mengadakan undian untuk menentukan tempat pada sebuah kapal. Sebagian dari mereka mendapat tempat di bagian atas kapal dan sebagian di bagian bawah kapal. Orang yang berada di bawah kapal ketika mereka meminta air, mereka harus melewati orang-orang yang di bagian atas. Mereka berkata, “Seandainya kita membuat sebuah lobang dibagian kita ini (untuk jalan mengambil air-red) dan kita tidak mengganggu orang yang berada di bagian atas.” Apabila mereka (yaitu orang-orang yang di bagian atas) membiarkan mereka melakukan keinginan mereka, maka mereka akan binasa (semuanya). Apabila mereka (yang di bagian atas) menahan mereka, maka mereka akan selamat dan semuanya selamat.[11]

Firman Allâh ta’ala:

إِنَّ اللَّهَ بِمَا يَعْمَلُونَ مُحِيطٌ

Sesungguhnya Allâh meliputi (mengetahui) segala apa yang mereka kerjakan [Ali ‘Imrân/3:120]

ALLAH SUBHANAHU WA TA’ALA TEMPAT BERGANTUNG

Seorang Muslim wajib menggantungkan dirinya (bertawakkal) hanya kepada Allâh Subhanahu wa Ta’ala . Gangguan yang orang-orang kafir lakukan kepada orang-orang Muslim sangatlah banyak, bahkan jika mereka telah memiliki kekuatan maka mereka tidak akan segan-segan untuk membunuh orang Islam.

Mungkin kita sekarang tidak merasakan hal ini dan ini adalah kenikmatan yang harus kita syukuri. Akan tetapi, banyak kejadian di berbagai negara, kaum Muslimin ditindas bahkan dibunuhi dari zaman ke zaman, tanpa ada pemberitaan. Sehingga tidak ada jalan untuk meminta pertolongan kecuali hanya kepada Allâh Azza wa Jalla . Itulah sebabnya Allâh Azza wa Jalla menutup ayat ini dengan firmannya:

إِنَّ اللَّهَ بِمَا يَعْمَلُونَ مُحِيطٌ

Sesungguhnya Allâh meliputi (mengetahui) segala apa yang mereka kerjakan. [Ali Imran/3:120]

Arti “muhiith/meliputi” pada ayat ini adalah Âlim atau mengetahui sebagaimana dijelaskan oleh Imam al-Baghawi rahimahullah di atas.

Jika kita telah bersabar dan bertakwa, maka niscaya Allâh-lah yang membalas tipu daya mereka dan menjadikannya sia-sia, bahkan tipu daya mereka justru akan membahayakan diri mereka sendiri.

Ibnu Katsir rahimahullah berkata, “Allâh Azza wa Jalla memberikan petunjuk kepada mereka (orang-orang Islam) agar bisa selamat dari keburukan di antara keburukan-keburukan mereka dan tipu daya orang-orang yang berdosa dengan menggunakan kesabaran, ketakwaan dan tawakkal kepada Allâh yang Dia-lah yang mengetahui musuh-musuh mereka. Tidak ada daya dan kekuatan untuk mereka kecuali dengan pertolongan dari Allâh Subhanahu wa Ta’ala . Dia adalah yang apabila Dia berkehendak, maka akan terjadi dan jika Dia tidak berkehendak, maka tidak akan terjadi. Dan tidak ada sesuatu yang terjadi kecuali dengan takdir dan kehendak-Nya. Barang siapa yang bertawakkal (bergantung) kepada Allâh, maka Allâh akan cukupkan.”[12]

TIPU DAYA ALLAH SUBHANAHU WA TA’ALA LEBIH HEBAT DARI TIPU DAYA MEREKA

Jika mereka melakukan tipu daya kepada kaum Muslimin, maka kita harus ingat bahwa tipu daya Allâh Azza wa Jalla jauh lebih hebat dari apa yang mereka lakukan.

Allâh Azza wa Jalla berfirman:

وَالَّذِينَ كَذَّبُوا بِآيَاتِنَا سَنَسْتَدْرِجُهُمْ مِنْ حَيْثُ لَا يَعْلَمُونَ ﴿١٨٢﴾ وَأُمْلِي لَهُمْ ۚ إِنَّ كَيْدِي مَتِينٌ

Dan orang-orang yang mendustakan ayat-ayat Kami, nanti Kami akan menarik mereka dengan berangsur-angsur (ke arah kebinasaan), dengan cara yang tidak mereka ketahui. Dan Aku memberi tangguh kepada mereka. Sesungguhnya tipu daya atau rencana-Ku amat teguh. [Al-A’râf/7:182-183]

Ini menunjukkan bahwa Allâh Azza wa Jalla tidak tinggal diam dengan apa yang mereka lakukan.

Begitu pula firman Allâh Azza wa Jalla :

ذَٰلِكُمْ وَأَنَّ اللَّهَ مُوهِنُ كَيْدِ الْكَافِرِينَ

Itulah (karunia Allâh yang dilimpahkan kepadamu), dan sesungguhnya Allâh melemahkan tipu daya orang-orang yang kafir. [Al-Anfâl/8:18]

Dan sangat jelas bagaimana Allâh Azza wa Jalla akan membuat tipu daya untuk mereka, di dalam firman-Nya:

إِنَّهُمْ يَكِيدُونَ كَيْدًا ﴿١٥﴾ وَأَكِيدُ كَيْدًا ﴿١٦﴾ فَمَهِّلِ الْكَافِرِينَ أَمْهِلْهُمْ رُوَيْدًا

Sesungguhnya orang kafir itu merencanakan tipu daya yang jahat dengan sebenar-benarnya. Dan Aku pun membuat tipu daya/rencana (pula) dengan sebenar-benarnya. Karena itu beri tangguhlah orang-orang kafir itu yaitu beri tangguhlah mereka itu barang sebentar. [Ath-Thâriq/86:15-17]

Demikianlah apa yang Allâh Azza wa Jalla akan lakukan kepada mereka, kita diperintahkan untuk selalu bersabar dan bertakwa kepada Allâh Azza wa Jalla .

Kita diperintahkan untuk takut dan bertawakkal hanya kepada Allâh Subhanahu wa Ta’ala dan bukan takut kepada mereka atau bergantung menjadi “penjilat” orang-orang kafir. Adapun mengenai cara menghadapi keburukan-keburukan yang mereka lakukan, maka kita hadapi dengan kesabaran dan ketakwaan sebagaimana telah dijelaskan.

APAKAH AL-MUHIITH SALAH SATU NAMA ALLAH?

Para Ulama berbeda pendapat dalam penetapan nama al-Muhiith (Yang Maha Meliputi) untuk Allâh Azza wa Jalla . Sebagian Ulama menetapkan al-Muhîth sebagai salah satu Nama Allâh Azza wa Jalla[13] sebagaimana disebutkan dalam al-Qur’an, salah satunya adalah ayat yang sedang kita bahas ini dan juga terdapat di dalam hadîts-hadîts yang menyebutkan 99 nama Allâh dalam satu hadits. Sebagian Ulama mengatakan bahwa nama al-Muhiith tidak ada di dalam al-Qur’an dan as-Sunnah kecuali harus dikaitkan dengan perbuatan Allâh Subhanahu wa Ta’ala yang lain dan tidak bisa sendiri (muthlaq) [14], dan tidak ada hadits yang shahih yang mengumpulkan 99 nama Allâh Azza wa Jalla dalam satu hadîts yang di dalamnya ada nama al-Muhîth.

Allâhu a’lam bishshawab. Mengenai pembahasan ini silakan dirujuk di dalam buku-buku yang membahas tentang nama-nama Allâh Azza wa Jalla .

KESIMPULAN

  1. Kebencian orang kafir terhadap kaum Muslimin sangat nyata. Mereka tidak akan berbahagia kecuali orang-orang Islam mendapatkan keburukan dan musibah. Oleh karen itu, mereka senantiasa melakukan tipu daya dan penipuan kepada kaum Muslimin.
  2. Banyak orang kafir dari berbagai agama saling menyeru untuk bersatu menyerang agama Islam.
  3. Tidak ada jalan keluar untuk menghadapi tipu daya orang kafir kecuali dengan bersabar atas gangguan mereka dan bertakwa kepada Allâh Subhanahu wa Ta’ala .
  4. Salah satu sifat munafik adalah senang dengan keburukan yang menimpa saudara Muslim yang lainnya.
  5. Kita tidak boleh merasa takut kepada mereka dan tipu daya mereka dan kita wajib menggantungkan dirinya (bertawakkal) hanya kepada Allâh Subhanahu wa Ta’ala , karena tipu daya Allâh Subhanahu wa Ta’ala kepada mereka lebih hebat dan Allâh-lah yang akan melindungi orang-orang yang beriman.

Demikian tulisan ini. Mudahan bermanfaat dan mudah-mudahan kita senantiasa bisa bersabar dan bertakwa untuk menghadapi segala tipu daya orang kafir. Aamiin.

DAFTAR PUSTAKA

  1. Aisarut-Tafâsîr li Kalâm ‘Aliyil-Kabîr wa bihâmisyihi Nahril-Khair ‘AlaAisarit-Tafâsî Jaabir bin Musa Al-Jazaairi. 1423 H/2002. Al-Madinah: Maktabah Al-‘Ulûm wal-hikam.
  2. Al-I’tiqâd Wal-Hidâyah Ilâ Sabîlir-Rasyâd ‘Alâ Madzhâbissalafi Wa Ashhâbil-hadîts. Ahmad bin Al-Husain Al-Baihaqi. 1401 H. Beirut: Dar-Al-Aafaaq Al-Jadiidah.
  3. Asmâ’ Allâh al-Husnâ at-Tsâbitah Fil-Kitâb Was-Sunnah. al-Juz’u al-Awwal. Mahmud bin ‘Abdir-Razzaq Ar-Ridhwani. Maktabah Dar Ar-Ridhwan. 1425 H/2004. Mesir.
  4. Fathul-Qadîr al-Jâmi’ Baina Fannai ar-Riwâyah Wa ad-Dirâyah Min ‘Ilmit-TafsîMuhammad bin ‘Ali bin Muhammad Asy-Syaukaani. Beirut: Darul-Ma’rifah.
  5. Haqîqatun-nifâq wa Anwâ’uhu Fi Dhau-i Al-Kitâb Was-Sunnah Wa Fahmi Salafil-Ummah. ‘Ali Ramadhan Abul-‘Izz. Iskandariyah: Darul-Iiman.
  6. Jâmi’ul-bayân fii ta’wîlil-Qur’ân. Muhammad bin Jariir Ath-Thabari. 1420 H/2000 M. Beirut: Muassasah Ar-Risaalah.
  7. Ma’âlimut-tanzîl. Abu Muhammad Al-Husain bin Mas’uud Al-Baghawi. 1417 H/1997 M. Riyaadh: Daar Ath-Thaibah.
  8. Tafsîr al-Qur’ân Al-‘Adzhîm. Isma’iil bin ‘Umar bin Katsiir. 1420 H/1999 M. Riyaadh: Daar Ath-Thaibah.
  9. Dan lain-lain. Sebagian besar telah tercantum di footnotes.

[Disalin dari majalah As-Sunnah Edisi 04/Tahun XX/1437H/2016M. Diterbitkan Yayasan Lajnah Istiqomah Surakarta, Jl. Solo – Purwodadi Km.8 Selokaton Gondangrejo Solo 57183 Telp. 0271-858197 Fax 0271-858196.Kontak Pemasaran 085290093792, 08121533647, 081575792961, Redaksi 08122589079]
_______
Footnote
* Pengajar di Darul-Qur’an Wal-Hadits OKU Timur, Sumatera Selatan dan pengasuh kajiansaid.wordpress.com & kuncikebaikan.com (website resmi Yayasan Kunci Kebaikan OKU Timur).

[1] Lihat Tafsiir al-Baghawi II/96 dan Aisarut-Tafâsîr hlm. 201.

[2] Tafsir ath-Thabari VII/155-156.

[3] Lihat Tafsiir Al-Baghawi II/96.

[4] Tafsir Ibni Katsîr II/109.

[5] Fathul-Qadîr II/18.

[6] Haqîqatunnifâq wan anwâ’uhu, hlm. 34.

[7] Tafsiir At-Thabari VII/156.

[8] HR Ahmad no. 22397.

[9] Yaitu dua kota di negara Yaman

[10] Lihat Tafisr Ibnu katsir tentang makna al-furqan-red

[11] HR. Al-Bukhâri no. 2493.

[12] Tafsîr Ibni Katsiir II/109.

[13] Di antara ulama yang menetapkannya adalah: Imam Al-Baihaqi dalam ‘Al-I’tiqaad Wal-Hidaayah’ hal. 68, Syaikh ‘Abdurrahman As-Sa’di dalam ‘Tafsiir Asmaa’ Allah Al-Husnaa’ hal. 82, Syaikh Muhammad bin Shalih Al-‘Utsaimin dalam ‘Al-Qawaa-‘id Al-Mustslaa’ hal. 15, Syaikh ‘Abdur-Razzaq bin ‘Abdil-Muhsin Al-‘Abbad  dalam ‘Fiqh Al-Asmaa’ Al-Husnaa’ hal. 162 dan banyak lagi yang lainnya.

[14] Lihat Asmaa’ Allah Al-Husnaa At-Tsaabitah Fil-Kitaab Was-Sunnah Juz I/113-114.

Berlangganan artikel Situs Sunnah melalui email, RSS, atau Telegram.