MEMOHON KETEGUHAN DI ATAS ISLAM

يَا وَلِيَّ الْإسْلَامِ وَأَهْلِهِ مَسِّكْنِي الْإسْلَامَ حَتَّى أَلْقَاكَ عَلَيْهِ

Ya Allâh! Wahai Dzat Yang melindungi Islam dan pemeluknya! Kokohkanlah kami di atas Islam sampai kami menemui-Mu dengan membawanya

Syaikh al-Albani rahimahullah setelah memperbincangkan sanad hadits ini dalam Silsilatul Ahâdîts Ash-Shahîhah 3/463-465, no. 1476, beliau berkesimpulan bahwa sanad hadits tersebut hasan. Beliau juga berkata dalam takhrij Syarh ath-Thahawiyyah, hlm. 373,  bahwa hadits ini diriwayatkan pula oleh adh-Dhiya’ al-Maqdisi dalam al-Ahâdîts Al-Mukhtârah; ia meriwayatkannya dari jalur ath-Thabrani dengan sanadnya dari Anas bin Malik. Beliau menyatakan bahwa isnad hadits ini jayyid.

Allâh Azza wa Jalla adalah sebaik-baik pelindung dan sebaik-baik penolong. Dialah Yang memelihara Islam dan melindungi para pengikutnya. Maka tak ada kata putus asa, bagaimanapun keadaannya.

Memohon agar dikokohkan di atas Islam hingga ajal tiba adalah sesuatu yang sangat urgen. Ketegaran di atas Islam ini terwujud dengan teguh berlandaskan pada al-Kitab dan as-Sunnah. Dan Islam tidak bisa kokoh pada diri seseorang, kecuali dengan ilmu yang bermanfaat dan amal shalih. Dua hal inilah yang dibawa oleh Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam, seperti dalam firman-Nya.

هُوَ الَّذِي أَرْسَلَ رَسُولَهُ بِالْهُدَىٰ وَدِينِ الْحَقِّ لِيُظْهِرَهُ عَلَى الدِّينِ كُلِّهِ

Dialah yang telah mengutus Rasul-Nya (dengan membawa) petunjuk (Al-Quran) dan agama yang benar untuk dimenangkanNya atas segala agama. [At-Taubah/ 9: 33]

Para Nabi dan kaum shalih pun meminta ketegaran dan agar diwafatkan di atas Islam. Seperti halnya doa Nabi Yûsuf Alaihissallam :

تَوَفَّنِي مُسْلِمًا وَأَلْحِقْنِي بِالصَّالِحِينَ

Wafatkanlah aku dalam keadaan Islam dan gabungkanlah aku dengan orang-orang yang saleh. [Yûsuf /12:101].

Demikian pula doa para penyihir firaun yang beriman kepada Nabi Musa Alaihissallam setelah bertaubat.

رَبَّنَا أَفْرِغْ عَلَيْنَا صَبْرًا وَتَوَفَّنَا مُسْلِمِينَ

Ya Rabb kami! Limpahkanlah kesabaran kepada kami dan wafatkanlah kami dalam keadaan berserah diri (kepada-Mu).” [Al-A’raf /7:126].

Tidak boleh seseorang terpedaya dengan ilmunya, sehingga merasa aman dari kesesatan dan ketergelinciran. Justru ia harus takut dari kesesatan dan su’ul khatimah, terlebih lagi pada masa menyeruaknya fitnah, di mana seseorang pada waktu pagi masih dalam Islam, namun pada sore hari telah berubah kafir, atau sebaliknya karena menjual agamanya dengan kesenangan dunia. Maka haruslah memohon kekokohan iman, terutama di zaman fitnah. Nabi Ibrahim Alaihissallam pun mengkhawatirkan diri dan keturunannya, padahal beliau yang menghancurkan berhala-berhala dengan tangannya sendiri. Beliau berdoa :

وَاجْنُبْنِي وَبَنِيَّ أَنْ نَعْبُدَ الْأَصْنَامَ

dan jauhkanlah aku beserta anak cucuku daripada menyembah berhala-berhala. [Ibrahim/ 14: 35]

Semua perkara, termasuk datang dan perginya hidayah, semuanya ada di tangan Allâh. Maka dari itu mintalah kepada Allâh Azza wa Jalla agar tegar di atas Islam hingga ajal tiba.

(Lihat At-Ta’lîqât Al-Mukhtasharah Alâ Matn Al-Aqîdah Ath-Thahâwiyyah 161, Syarh Al-Aqîdah Ath-Thahâwiyyah  darul fikr al-‘arabi 360)

[Disalin dari majalah As-Sunnah Edisi 06/Tahun XX/1437H/2016M. Diterbitkan Yayasan Lajnah Istiqomah Surakarta, Jl. Solo – Purwodadi Km.8 Selokaton Gondangrejo Solo 57183 Telp. 0271-858197 Fax 0271-858196.Kontak Pemasaran 085290093792, 08121533647, 081575792961, Redaksi 08122589079]

Berlangganan artikel Situs Sunnah melalui email, RSS, atau Telegram.