DISKUSI TENTANG MAULID NABI BERSAMA TEUNGKU SYAIKH ZULKARNAIN,MA. (WASEKJEND MUI PUSAT).

Oleh: Abu Husein At-Thuwailibi


Diskusi itu memang indah, apalagi secara langsung meski tidak bertatap muka...diskusi dengan berupaya ilmiah dan penuh cinta, sehingga perbedaan hanyalah disikapi sebagai sebuah dinamika.

Diskusi ini hanyalah diskusi santai sebagai antara anak dengan ayahanda atau antara guru dengan murid...tidak lebih dari itu, dan tentulah kebenaran yang di cari sebagai capai akhir dari sebuah perjuangan sang pencari kebenaran, wallahu a'lam.

To the point saja, pada kesempatan kali ini kami nukilkan (apa adanya) dialog kami via WhatsApp dengan Teungku Syaikh Zulkarnain,MA (wasekjend MUI pusat) yang berkenaan dengan peringatan maulid Nabi. bukan niat untuk menonjolkan diri, Demi Allah tidak demikian. Karena memang tidak ada yang menonjol dalam diri ini, akan tetapi lebih kepada sekedar share dan berbagi...semoga Allah merahmati...

Sebenarnya diskusi kami panjang lebar dan berkenaan dengan masalah yang banyak, namun disini hamba hanya akan memfokuskan pada pembicaraan mengenai peringatan maulid Nabi. Tujuannya agar kita bisa bersikap adil untuk berlapang dada menerima hujjah dan argumentasi saudara-saudara kita yang berbeda pendapat dengan kita dalam masalah-masalah tertentu. Demikianlah akhlaq salaful ummah. Sebab mau sampai kapan kita mengakhiri polemik ini dan menjalin ukhuwah islamiyah dalam naungan sunnah nabawiyah, kalau terus-terusan memperuncing masalah yang sebenarnya bisa di diskusikan,, ? Apakah sampai pisau-pisau dan belati-belati Syi'ah Rafidhah menyembelih kita ?? Atau menyembelih anak-anak kita ? Disadari atau tidak pertikaian panjang ini justru melemahkan barisan kita untuk menghadapi musuh yang sama... Disinilah letak esensional yang mesti kita fikirkan dan pertimbangkan, selebihnya Allahul Musta'an.

Diskusi ini di ikuti oleh ustadz-ustadz yang lain dan saya akan nukilkan apa adanya...

Silahkan menyimak....

Abu Husein At-Thuwailibi: Afwan, Tolong perhatian sebentar...

Dari tadi sore sebelum asar saya simak pembahasan tuan-tuan yang mulia dan para Asatidzah... Bukannya hendak menyudutkan yang mulia Teungku Syaikh Zulkarnain,MA atau MUI dsb.... Kalla Billaahi...

Tapi saya hanya ingin menegaskan bahwa Saya berani angkat bicara (walau tdk punya wewenang) untuk membela yang patut di bela.

Untuk kasus "Fatwa sesat Salafi oleh MPU" itu betul-betul FITNAH DAN KONSPIRASI kaum dayah saja.... Laa Ilaaha Illallah... Saya ini tinggal di aceh. Famili masih banyak di aceh. Saya tau betul bagaimana kulutur masyarakat aceh yg hampir rata2 itu ANTI-WAHABI. Dan sudah cukup banyak cerita dan sejarah para da'i yang berafiliasi pada dakwah Sunnah (seperti Muhammadiyah, Salafi, Baik Salafi kopar kapir maupun yang revivalis) di aceh yang mengalami penentangan yang sangat2 keras dari masyarakat aceh !!

Masyarakat aceh saya nilai JUMUD !!! KOLOT !! BODOH !! Dan TIDAK MODERAT !! Mereka betul2 Jumud mi'ah bil-mi'ah !

Sudah banyak cerita tentang du'at ahlus sunnah (versi Salafi) yang habis-habisan di serang baik secara opini ataupun fisik oleh masyarakat aceh.

Saya kasih contoh, dulu ada teman saya namanya Ustadz Tirmizi, dia Salafi. Dia di utus dakwah kalau nggak salah ke Sigli apa ke mana saya lupa, singkat cerita, krn mengumandangkan Aqidah Muhammad Bin Abdul Wahab, Jenggot, celana di atas mata kaki, dsb, dia di serang masyarakat, rumahnya di bakar, dia di seret dan di arak keliling kampung, jenggotnya di tarik seperti kambing... Dst...

Ini terjadi. Fakta !! Hanya saja tak satu pun media yang mengangkatnya...

Ada lagi, Ustadz Dr.Nurrsanjaya Abdullah, (ada di grup ini) yang mana beliau di undang di acara Maulid Nabi, lalu dalam ceramah itu justru beliau menerangkan dari kutub syafi'iyyah bahwa perayaan maulid ini tidak ada Sunnahnya dari Nabi dan beliau akan ikuti kalau ada dalil nya, lantas beliau di teriaki jamaah, di turunkan dari mimbar, sepeda motornya di rusak, dan beliau pulang dalam keadaan memprihatinkan. !

Demikian lah akhlaq kaum Dayah yang KOLOT ! JUMUD ! GOBLOK ! Dan tidak moderat !

Dan dalam hal ini, MPU hanya berpegang pada kaum dayah dan tdk tabayyun ke fihak yg di fitnah.

Dalil-dalil membolehkan PERINGATAN (ceremonial) maulid sudah ditulis banyak ulama termasuk imam Suyuthi dalam Al hawi li fatawa misalnya. Juga imam ibnu Katsir memasukkan nama Malik Muzhaffar pemuka peringatan maikid sebagai rijal yg terpuji dalm kitab bidayah annihayah beliau. Wallahu a'lam.

Ustadz Hepi Andi Bustomi:  Nyimak...

Sayyid Hasan Taram​ : Peringatan atau perayaan yang berulang terus tiap tahun, bukankah itu yang disebut dengan 'ied..?

Islam memberikan kepada kita dua ied untuk diperingati tiap tahun dan satu ied pekanan.

Tidak ada lagi selainnya.

Afwan.

Abu Husein At-Thuwailibi: Teungku Syaikh Zulkarnain, boleh kah kami tanggapi pernyataan antum tentang maulid Nabi di atas ??

begini teungku, baarakallahufiik...

Pertama, malam kelahiran Rasul shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak diketahui secara pasti kapan. Bahkan sebagian ulama masa kini menyimpulkan hasil penelitian mereka bahwa sesungguhnya malam kelahiran beliau adalah pada tanggal 9 Robi’ul Awwal dan bukan malam 12 Robi’ul Awwal. Oleh sebab itu maka menjadikan perayaan pada malam atau tanggal 12 Robi’ul Awwal tidak ada dasarnya dari sisi latar belakang historis sejarah. Bahkan sejarah mencatat, bahwa Perayaan Maulid Nabi itu diadakan dan diciptakan pertama kali oleh Kaum Ubaid (Dinasti Syi'ah Fathimiyah) saat mereka berkuasa di mesir pada tahun 362-567 Hijriyah. Disamping itu orang-orang Syi'ah Isma'iliyah ini (yakni Syi'ah dinasti Fathimiyah) juga mengadakan maulid Ali, maulid Hasan, Maulid Husein dan Maulid Fathimah. Lalu datangnya Sulthon Sholahuddin Al-Ayyubi menguasai mesir menjadi berkah bagi kaum Muslimin. Beliau berjuang keras mengembalikan haluan rakyat mesir kepangkuan ahlus sunnah. Caranya, beliau lakukan pendekatan kultural, bukan dengan pedang dan pertumpahan darah.untuk merintis perubahan ini,beliau sisakan perayaan Maulid Nabi bagi rakyat mesir,tujuannya MENUMPAS KAUM SYI'AH FATHIMIYAH YANG TELAH MENGUASAI MESIR KALA ITU.

Kedua, dari sisi tinjauan syariat maka merayakannya pun tidak ada dasarnya. Karena apabila hal itu memang termasuk bagian syariat Allah maka tentunya Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam melakukannya atau beliau sampaikan kepada umatnya. Dan jika beliau pernah melakukannya atau menyampaikannya maka mestinya ajaran itu terus terjaga, sebab Allah ta’ala berfirman yang artinya, “Sesungguhnya Kamilah yang menurunkan Al Quran dan Kami lah yang menjaganya.” (QS. Al-Hijr ayat 9). Sedangkan Nabi saja tidak melaksanakan lalu mengapa Teungku Zulkarnain memaksa ummat untuk melaksanakan...??

Sehingga tatkala ternyata sedikit pun dari kemungkinan tersebut tidak ada yang terbukti maka dapat dimengerti bahwasanya hal itu memang bukan bagian dari ajaran agama Allah. Sebab kita tidaklah diperbolehkan beribadah kepada Allah ‘azza wa jalla dan mendekatkan diri kepada-Nya dengan cara-cara yang baginda Nabi tidak ajarkan. Kalau lah memang Teungku Syaikh Zulkarbain cinta kepada Nabi, maka kenapa tidak mencintai Nabi dengan cara yang di ajarkan oleh Nabi itu sendiri. ?? Apabila Allah ta’ala telah menetapkan jalan untuk menuju kepada-Nya melalui jalan tertentu yaitu ajaran yang dibawa oleh Rasul shallallahu ‘alaihi wa sallam maka bagaimana mungkin kita diperbolehkan dalam status kita sebagai hamba yang biasa-biasa saja kemudian kita berani menggariskan suatu jalan sendiri menurut kemauan kita sendiri demi mengantarkan kita menuju Allah ?? Sebagaimana Teungku Zukarnain memaksa ummat Muhammad untuk melaksanakan satu perkara agama yang tidak diajarkan oleh Nabi Muhammad itu sendiri ?? Apakah Teungku secara tidak langsung mengaku dirinya lebih baik dan lebih tahu tentang syari'at daripada Rasulullah ? Atau ia menganggap dirinya Nabi ?? Hal ini termasuk tindakan jahat dan pelecehan terhadap hak Allah ‘azza wa jalla tatkala kita berani membuat syariat di dalam agama-Nya dengan sesuatu ajaran yang bukan bagian darinya. Sebagaimana pula tindakan ini tergolong pendustaan terhadap firman Allah ‘azza wa jalla:

الْيَوْمَ أَكْمَلْتُ لَكُمْ دِينَكُمْ وَأَتْمَمْتُ عَلَيْكُمْ نِعْمَتِي

“Pada hari ini Aku telah sempurnakan bagi kalian agama kalian dan Aku telah cukupkan nikmat-Ku kepada kalian.” (QS. Al-Maa’idah ayat 3)

Oleh sebab itu saya katakan bahwasanya apabila perayaan ini termasuk dari kesempurnaan agama maka pastilah dia ada dan diajarkan sebelum wafatnya Rasul ‘alaihish shalatu wa salam dan diamalkan oleh para Khalifah sesudahnya, dan jika dia bukan bagian dari kesempurnaan agama ini maka tentunya dia bukan termasuk ajaran agama, karena Allah ta’ala berfirman, “Pada hari ini Aku telah sempurnakan bagi kalian agama kalian.”

Sehingga, barang siapa yang mengklaim acara maulid ini termasuk kesempurnaan agama dan ternyata ia terjadi setelah wafatnya Rasul shallallahu ‘alaihi wa sallam maka sesungguhnya ucapannya itu mengandung pendustaan terhadap ayat yang mulia ini. Dan tidaklah diragukan lagi kalau orang-orang yang merayakan kelahiran Rasul ‘alaihis shalatu was salam hanya bermaksud mengagungkan Rasul ‘alaihis shalatu wa salam. Mereka ingin menampakkan kecintaan kepada beliau serta memompa semangat agar tumbuh perasaan cinta kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam melalui diadakannya perayaan ini. Dan itu semua termasuk perkara ibadah. Kecintaan kepada Rasul shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah ibadah. Bahkan tidaklah sempurna keimanan seseorang hingga dia menjadikan Rasul shallallahu ‘alaihi wa sallam sebagai orang yang lebih dicintainya daripada dirinya sendiri, anaknya, orang tuanya dan bahkan seluruh umat manusia. Demikian pula pengagungan Rasul shallallahu ‘alaihi wa sallam termasuk perkara ibadah. Begitu pula membangkitkan perasaan cinta kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam juga termasuk bagian dari agama karena di dalamnya terkandung kecenderungan kepada syariatnya.

Apabila demikian, maka merayakan maulid Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam rangka mendekatkan diri kepada Allah serta untuk mengagungkan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah suatu bentuk ibadah. Dan apabila hal itu termasuk perkara ibadah maka sesungguhnya tidak diperbolehkan sampai kapan pun menciptakan ajaran baru yang tidak ada sumbernya dari agama Allah. Oleh sebab itu merayakan maulid Nabi adalah bid’ah dan diharamkan menurut kesepakatan Ulama Salaf.

Dan sebenarnya sudah bisa saya tebak, hujjah ini memang sudah biasa di jadikan landasan oleh para penyeru maulid nabi, dalil dari apa yang dia katakan tidak lain adalah perkataan Imam As-Suyuthy dalam Kitab Al-Hawy, 

Imam As-Suyuthi berkata,“…lalu saya melihat Imamul Qurro`, Al-Hafizh Syamsuddin Ibnul Jauzy berkata dalam kitab beliau yang berjudul ‘Urfut Ta’rif bil Maulid Asy-Syarif,“Telah diperlihatkan Abu Lahab setelah meningalnya di dalam mimpi. Dikatakan kepadanya, “Bagaimana keadaanmu?”, dia menjawab, “Di dalam Neraka, hanya saja diringankan bagiku (siksaan) setiap malam Senin dan dituangkan di antara dua jariku air sebesar ini -dia berisyarat dengan ujung jarinya- karena saya memerdekakan Tsuwaibah ketika dia memberitahu kabar gembira kepadaku tentang kelahiran Nabi -Shollallahu ‘alaihi wa ‘ala alihi wasallam- dan karena dia telah menyusuinya-”. Jika Abu Lahab yang kafir ini, yang Al-Qur`an telah turun mencelanya, diringankan (siksaannya) di Neraka dengan sebab kegembiraan dia dengan malam kelahiran Nabi -Shollallahu ‘alaihi wa ‘ala alihi wasallam-, maka bagaimana lagi keadaan seorang muslim yang bertauhid dari kalangan ummat Nabi -Shollallahu ‘alaihi wa ‘ala alihi wasallam- yang gembira dengan kelahiran beliau dan mengerahkan seluruh kemampuannya dalam mencintai beliau Shallallahu ‘alaihi wa ‘ala alihi wasallam ?!, saya bersumpah bahwa tidak ada balasannya dari Allah Yang Maha Pemurah, kecuali Dia akan memasukkannya berkat keutamaan dari-Nya ke dalam surga-surga yang penuh kenikmatan”.

Kisah ini memang ma'ruf, wajar kalau teungku menggunakan kisah ini. karena kisah ini juga dipakai berdalil oleh Muhammad bin ‘Alwi Al-Maliky dalam kitabnya Haulal Ihtifal bil Maulid dan disandarkan pada Imam Bukhori.

Na'am, disinilah letak kesalahfahfaham kita, karena penyandaran kisah di atas kepada Imam Al-Bukhari adalah suatu kedustaan yang nyata sebagaimana yang dikatakan oleh Syaikh At-Tuwaijiry dalam Kitan Ar-Roddul Qowy hal. 56. Karena tidak ada dalam riwayat Al-Bukhari sesuatupun yang disebutkan dalam kisah di atas, silahkan buktikan.

Berikut ini saya paparkan konteks hadits ini dalam riwayat Imam Al-Bukhary dalam Kitab Shohihnya di nomor 4711 secara mursal [Hadits Mursal adalah perkataan seorang tabi’in, “Rasululullah -Shollallahu ‘alaihi wa ‘ala alihi wasallam- bersabda ….”, atau ia (tabi’in) menyandarkan sesuatu kepada Nabi -Shollallahu alaihi wasallam-. Hadits mursal termasuk dalam bagian hadits lemah menurut pendapat paling kuat di kalangan para ulama] dari ‘Urwah bin Zubair -rahimahullah-:

“‘Tsuwaibah, dulunya adalah budak wanita Abu Lahab. Abu Lahab membebaskannya, lalu dia menyusui Nabi -Shollallahu ‘alaihi wa ‘ala alihi wasallam-. Tatkala Abu Lahab mati, dia diperlihatkan kepada sebagian keluarganya (dalam mimpi) tentang jeleknya keadaan dia. Dia (keluarganya ini) berkata kepadanya, “Apa yang engkau dapatkan?”, Abu Lahab menjawab, “Saya tidak mendapati setelah kalian kecuali saya diberi minum sebanyak ini (Yakni jumlah yang sangat sedikit) karena saya memerdekakan Tsuwaibah”.

Syubhat ini dibantah dari beberapa sisi:

Hadits tentang diringankannya siksa Abu Lahab ini telah dikaji oleh para ulama dari zaman ke zaman. Akan tetapi tidak ada seorangpun di antara mereka yang menjadikannya sebagai dalil disyari’atkannya perayaan maulid.

Ini adalah hadits mursal sebagaimana yang dikatakan oleh Al-Hafizh dalam kitab Al-Fath karena ‘Urwah tidak menyebutkan dari siapa dia mendengar kisah ini. Sedangkan hadits mursal adalah termasuk golongan hadits-hadits dho’if (lemah) yang tidak bisa dipakai berdalil.

Ok, anggaplah hadits ini shohih maushul (yakni bersambung), maka yang tersebut dalam kisah ini hanyalah mimpi. Sedangkan mimpi -selain mimpinya para Nabi- bukanlah wahyu yang bisa diterima sebagai hujjah syar'iyyah, sebagaimana Maulana Ilyas dan Yusuf Al-Kandahlawi bermimpi mengenai dakwah dan ummat, hingga berdirilah 4 Tarekat Naqsabandi dan melebur menjadi satu manhaj Shufi gaya baru yang sekarang kita kenal dengan "Jama'ah Tabligh" yang berpusat di Hindia itu.

Bahkan disebutkan oleh sebagian ahlul ilmi bahwa yang bermimpi di sini adalah Al-‘Abbas bin ‘Abdil Muththolib dan mimpi ini terjadi sebelum beliau masuk Islam alias saat masih KAAFIRR.

Sehingga, apa yang dinukil oleh As-Suyuthy dari Ibnul Jauzy di atas bahwa Abu Lahab memerdekakan Tsuwaibah karena memberitakan kelahiran Nabi Shallallahu ‘alaihi wa ‘ala alihi wasallam dan karena dia menyusui Nabi Shallallahu ‘alaihi wa ‘ala alihi wasallam adalah menyelisihi apa yang telah tetap di kalangan para ulama siroh (sejarah). Karena dalam buku-buku siroh ditegaskan bahwa Abu Lahab memerdekakan Tsuwaibah jauh setelah Tsuwaibah menyusui Nabi Shollallahu ‘alaihi wa ‘ala alihi wasallam.

Al-Hafizh Ibnu ‘Abdil Barr Rahimahullah berkata dalam Al-Isti’ab ketika beliau membawakan biografi Nabi Shallallahu ‘alaihi wa ‘ala alihi wasallam setelah menyebutkan kisah menyusuinya Nabi Shollallahu ‘alaihi wa ‘ala alihi wasallam kepada Tsuwaibah, beliau menyatakan, “… dan Abu Lahab memerdekakannya setelah Nabi ‘alaihi wa ‘ala alihi wasallam berhijrah ke Madinah”.

Lihat juga Kitab Ath-Thobaqot karya Muhammad bin Sa’ad bin Mani`Az-Zuhri Rahimahullah.

Sehingga orang berakal bisa menyimpulkan bahwa kandungan kisah ini menyelisihi zhohir Al-Qur`an yang menegaskan bahwa orang-orang kafir tidak akan mendapatkan manfaat dari amalan baiknya sama sekali di akhirat, akan tetapi hanya dibalas di dunia.

Allah Subhanahu wa Ta’ala menegaskan:

“Dan Kami hadapi segala amal yang mereka kerjakan, lalu Kami jadikan amal itu (bagaikan) debu yang berterbangan”. (QS. Al-Furqon ayat 23), kecuali Abu Thalib yang diringankan siksanya karena membela Nabi, sebagaimana dalam riwayat Imam Muslim. Jelas terdapat riwayat Shahih yang menetapkannya.

Kegembiraan yang dirasakan oleh Abu Lahab hanyalah kegembiraan yang sifatnya tabi’at manusia biasa karena Nabi Shollallahu ‘alaihi wa ‘ala alihi wasallam adalah keponakannya. Sedangkan kegembiraan manusia tidaklah diberikan pahala kecuali bila kegembiraan tersebut muncul karena Allah Subhanahu wa Ta’ala. Buktinya, setelah Abu Lahab mengetahui kenabian keponakannya, diapun memusuhinya dan melakukan tindakan-tindakan yang kasar padanya,bahkan berniat membunuhnya. Ini bukti yang kuat menunjukkan bahwa Abu Lahab bukan gembira karena Allah, tapi gembira karena lahirnya seorang keponakan. Gembira seperti ini ada pada setiap orang ya jelas wajar.

Kesimpulan, masalah maulid Nabi,maka jelas ini adalah perkara yang benar-benar dipaksakan oleh Teungku Syaikh Zulkarnain.

Teungku Syaikh Zulkarnain,MA: Beda pandangan ya aba hussein.... Dalam risalah antum itu masih saja peringatan maulid dianggap sebuah "peribadatan baru" (ritual), padahal maulid itu di sisi syafi'iyah indonesia hanya ceremonial belaka bukan ritual (alias PERIBADATAN). Coba baca di mana-mana, spanduk bunyinya :"Hadirilah PERINGATAN maulid NABI...." tidak ada yang bunyinya :" hadirilah PERIBADATAN Maulid nabi..." makanya tidak ada syarat dan rukunnya itu peringatan maulid. Kenapa...? karena maulid bukan ibadah!

Kutipan antum bahwa peringatan maulid dibuat pertama kali oleh dinasti fathimiyah syiah sesat adalah kutipan dhoif. Hehe. Kutipan shohih nya lihat ibnu katsir dalam kitab al-bidayah wan nihayah jilid 13 tentang malik muzhaffar. Raja Irbil Iraq inilah pemerakarsa pertama perayaan maulid nabi untuk membangkitkan semangat pemuda muslim yang sudah loyo tidak berani perang melawan Tar Tar. Disembelih 300 ribu ekor ayam, 100 ribu ekor kambing dan dibacakanlah riwayat hidup nabi kita dari lahir perang dan wafat. Hasilnya semangat perang menggelora dan kita saat itu memenangkan perang melawan Tar Tar...( begitu menurut ibnu Katsir dll). 

Ya Aba hussein... mimpi mukmin itu seperempat puluh wahyu...( hadis nabi, bukan...?). Al quran yg mukia memberikan contoh paad kita bahwa mimpi orang kafir hisa diamalkan juga kok.. hehe. Lihat kisah nabi Yusuf. Bukankah mimpi tentang 7 sapi itu mimpi raja Mesir yang Kafir? Kita tidak lebih pandai dari nabi Yusuf apalagi dari al quran... hehe. Azan juga berasal dari mimpi abdullah bin zaid.

Jadi jangan alergi amat dengan mimpi. Jika tidak melawan syariat atau membuat ibadah baru apa salahnya?

Banyak orang berkata bahwa MAULID NABI ITU menghidupkan bid'ah dan membunuh SUNNAH. Kami jadi ingin bertanya; Sunnah nabi yang mana yang terbunuh gara-gara memperingati maulid nabi?

Adapun soal Tsuaibah, terlepas dimerdekakan saat sebelum nabi lahir atau sesudah nabi lahir tidak bisa dipungkiri bahwa beliau, Tsuaibah adalah orang yang menyusui nabi sebelum ibunda Halimah. Tapi ya aba husein, jika saja Tsuaibah sudah dimerdekakan sebelumnya, kira kira bisakah abu lahab memerintahkan beliau untuk menyusui nabi lagi? Bukankah Tsuaibah sudah merdeka alias bukan budak abu lahab lagi yang bisa seenaknya diperintah-perintah.? Begitupun tidak apa lah. Paling tidak yang memerintahkan dan membayar upah Tsuaibah menyusui nabi tetap aja Abu Lahab bukan? Muncul pertanyaan : " Apakah orang yang memerintahkan wanita untuk menyusui keponakannya dan membayar upahnya bukan orang yang SAYANG pada ponakannya itu...?" Abu Lahab itu sangat sayang pada nabi dan nabi pun sangat sayang pada abu lahab. Kalau tidak pastilah nabi tidak akan mengawinkan kedua puteri beliau tercinta yakni Ummi Kultsum dan Ruqayyah pada Utaibah dan Utbah bin Abu Lahab... ( khusus pembahasan ini bukan dalil maulid. Tapi hanya membuka wawasan betapa nabi dan abu lahab saling cinta. Sampai diangkatnya Baginda jadi Rasul).

Abu Husein At-Thuwailibi: Ok Teungku Syaikh Zulkarnain.. Kita tutup perbincangan seputar Maulid Nabi... Pada intinya, kami menyatakan itu bid'ah bila hal itu dijadikan suatu 'ibaadatun mu'ayyan (peribadatan tertentu). Apalagi di sertai keyakinan kalau nggak ngerjakan Maulid Nabi setiap tahun maka nggak afdhol.

Atau yang lebih parah ada anggapan yang tidak merayakan Maulid Nabi berarti tidak cinta Nabi. Nah ini yang kami sesalkan. Kalau lah itu hanya terjadi di kalangan awam asy'ariyyah atau muqallid asy'ariy, itu wajar, tapi setidaknya tokohnya atau ulama_nya (semisal Tuan Syaikh Zulkarnain) bisa menjelaskan agar tidaka ada saling hina dan caci maki...

Silahkan mengadakan maulid Nabi, kami tidak larang, dan kami tidak anggap itu Bi'ah bila hanya di lakukan atas dasar seremonial (peringatan) bukan Peribadatan/Taqarrub Ilallah, kami anggap itu bid'ah apabila dianggap sebagai Ibadah atau Taqarrub Ila llah... Apalagi sampai menganggap bahwa "Wahabi anti Maulid menunjukkan wahabi tidak cinta Nabi", . Nah ini anggapan GOBLOK !!

Ukuran Cinta Nabi menurut orang berakal bukanlah pada peringatan Maulid Nabi, kalau pikiran mereka bahwa mengadakan Maulid Nabi tanda. Cinta Nabi, maka mafhum mukholafahnya (konseskuensi logisnya) yang tidak merayakan Maulid berarti tidak cinta Nabi dong, kalau gitu Para Sahabat, Tabi'in, dan Bahkan Imam Syafi'i sendiri TIDAK CINTA NABI ?? Kan mereka tak ada satupun yang merayakan hari lahirnya Nabi (maulid Nabi); baik atas dasar Peringatan atau Peribadatan. ! Intinya, tak satu pun diantara mereka YANG MENGADAKANNYA.

Kalau alasan Teungku Syaikh Zulkarnain bahwa Nabi marayakan hari lahirnya dengan melaksanakan Puasa pada hari senin, maka saya jawab: Nabi merayakan hari lahirnya dgn Puasa setiap senin, bukan setiap tahun !!

Kalau memang cinta Nabi ya silahkan rayakan Hari lahir Nabi dengan puasa tiap hari senin sebagaimana amalan Nabi, bukan setahun sekali. Gitu loh...

Ustadz Abu Akmalia: Kalo ana baca tulisan-tulisan Ustadz Tengku Zulkarnain bisa-bisa ana jadi pemandu peringatan 2 maulid lagi. kitab kitab dhiba' dan nashor yang isinya cerita campur aduk itu,ada karut,ada marut,juga sedikit keshahihanya,bahkan bahkan.afwan kitab andalan ana waktu jahil.

Teungku Syaikh Zulkarnain,MA: Sudah klop lah jika antum bisa nerima maulid setakat itu. Itu sudah bagus lah. Soal mengingatkan awam bahwa maulid bukan ibadah itu sudah berjalan dan bahkan sudah difahami oleh umat. Bukti spanduknya semuanya berbunyi "hadirilah PERINGATAN maulid nabi...". adapun puasa, itu syukran.... tapi syukran lillah tidak "wajib" hanya degan puasa saja. Bisa dengan sedekah bisa degan umrah bisa dengan tabligh akbar bisa dengan sedekah dll. 

jika nabi syukuran dengan puasa, maka umat bisa syukuran dengan sedekah,ngaji, sholawatan dll. Namanya syukuran. 

Mengenai puasa senin Kalaupun ada yang puasa senin setahun sekali pun boleh juga kan? Berbeda dengan nabi yang tiap senin puasa. Dan ini bukan satu kesalahan juga, bukan?. 

Soal syukuran, ada Berapa banyak hadis nabi yang memperbolehkan orang bersyukur pada Allah dengan banyak cara. Salah satunya saja ya dengan puasa. Nabi musa alaihissalam saat bersama kaumnya berhasil nyebrang laut merah juga " "tashumunahu syukran lillah" . Dan beliau perintahkan umatnya puasa syukuran pula tiap tahun sampai zaman nabi kita 2 ribu kemudian. Saat nabi kita mengetahui syukuran nyebrang lautnya nabi musai maka nabi bersabda "wa nahnu ahaqqu bi musa minkum". (HR.Muslim). Jadi umat bersyukur atas lahirnya nabi dengan bergembira sholawatan, baca alquran, tabligh akbar, sedekah, khiatan masal dll sah-sah saja lah. Asal tidak dianggap sebagai ibadah mahdhah yang baru....

Ustadz Al Fauzy Al Makassary​: Nyimak..lanjutkan para guru kami..diskusi yang banyak membuka cakrawala..barakallahu fiikum..

Abu Husein At-Thuwailibi: ok lah kalau begitu hamba terima,namun hamba hendak menanggapi pernyataan Ayahanda Yang Mulia Teungku Syaikh Zulkarnain kemarin malam.

Teungku Syaikh Zulkarnain mengatakan begini:

Tanggapan Kami:

1. Demi Allah yang jiwa saya berada di genggamannya, saya mengaji dan belajar dgn guru2 Salafi, mulai dari Salafi Ekstrim sampek Salafi yang tidak ekstim; Tidak ada dan tidak pernah mereka menyatakan kalimat berlebihan "Tuhan duduk di arsy,siapa tidak percaya itu maka Kafir", Wallahi Billahi Tallahi TIDAK ADA !! Tunjukkan orang nya ke saya, yang mengaku Salafi lantas mengeliuarkan pernyataan seperti itu ! Saya butuh bukti, atau saksi, dan tertuduh di mintai Sumpah. Kalau mau tau ajaran salafi sebaiknya masuk dulu kajian salafi , baru tau... sebagaimana saya pernah mengaji tarekat dan tauhid sifat 20.

Aqidah Salafiyah yg pernah saya pelajari tentang Zat Allah adalah begini, tolong perhatikan baik-baik: Dzat Allah bersemayam di atas 'Arsy maha tinggi diatas seluruh Makhluqnya sebagaimana yang Allah firmankan dalam Qur'an, dan sebagaimana Hadits Rasulullah tatkala memerdekan Budak Jariyah yg tertera dalam Shahih Muslim. Mu'tazilah menolak hadits ini dgn alasan Derajatnya Ahad bukan Mutawatir. Thoyyib, kembali ke Istawa', cara bersemayamnya Allah tidak ada yang tau kecuali Allah, iman padanya adalah Wajib, menanyakan Takyif nya (yakni bagaimana nya) adalah Bid'ah ! Ini qaul Malik Bin Anas yang di nukil Oleh Buya Hamka dalam Tafsirnya Tafsir Al-Azhar !

Nah, Allah maha tinggi diatas seluruh makhluqnya ! Adapun penglihatannya, kasih sayangnya, kekuasaannya meliputi segala sesuatu, meliputi semua tempat, meliputi alam semesta, adapun zat nya Maha Tinggi bersemayam diatas Arsy-Nya dengan segala keagungannya, dan bersemayamnya Allah di atas 'Arsy TIDAK SAMA dengan bersemayamnya Makhluq ! Jadi jangan di bayang-bayangkan . Gitu loh...

Khalas ??

Nah, adapun mereka yang meyakini bahwa Allah tidak bersemayam di atas arsy dgn segala keagungannya, baik karena Takwil atau Tafwidh, maka TIDAK KAFIR. Hanya saja mereka terjatuh dalam kekeliruan memalingkan makna ayat Al-Qur'an kepada makna lain yang bukan makna sebenarnya. Itu saja. ... Nah, nggak ada yang kafir. Untuk urusan kafir-mengkafirkan ini rumit lagi bahasannya. Ndak segampang itu.., !

Khalas.. ???

Thoyyib....

2. Kemudian perkataan: "qunut shubuh bid'ah dan sesat",

Darimana perkataan ini ??? Wallahi ini bukan keluar dari lisan seorang Salafi .... !

Yang saya pelajari tentang Qunut. Subuh dalam ajaran Salafi adalah: Qunut Subuh itu Khilaf Mu'tabar dikalangan para 'Ulama. Menurut Jumhur Ulama, Hadits tentang Qunut Subuh itu Dha'if krn ada Rawi bernama Ja'far Ar-Razi di dalam sanadnya sebagaimana yg di terangkan Sayyid Sabiq dalam Fiqhus Sunnah dan Al-Albani dalam Tamamul Minnah. Nah, Dha'ifnya Hadits itu menjadikan amal itu Bid'ah, namun bukan berarti pelakunya adalah Ahlul Bid'ah, Sesat, Masuk Neraka ! Tidak ! Wallahi Tidak...

Sebagian Ulama Salafi semisal Syaikh Muqbil menganjurkan Ikut Qunut apabila ber-Imam dengan Imam Yang Qunut, dgn dalil 'aam (umum) Hadits Nabi "Ju'ilal Imaam Li-Yu'tama Bih". Ini Ulama Salafi loh ya yang menyatakan demikian...

Jadi nggak pernah ada yg mengatakan baca Qunut sesat masuk Neraka. Bagi saya, Hadits tentang Qunut Subuh itu ada dua pandangan Ulama terhadapnya, pertama: Dha'if, kedua: Hasan.

Bagi yang mau Qunut silahkan... Bagi yang tak mau Qunut jangan anda tuduh "Wahabi", . Karena Ulama Indonesia yang tidak berqunut pun (yakni Prof.Dr.Buya Hamka) kadang-kadang berqunut bila ber-makmum dengan Imam yang membaca Qunut.

Untuk urusan Qunut, ini Khilaf Mu'tabar dikalangan Ulama. Di nafikan darinya Vonis Bid'ah.

3. Perkataan berlebihan: "Zikir dgn Jahar selesai sholat fardhu bid'ah sesat masuk neraka".

Wallahi tidak seperti ini yang saya pelajari di kalangan Salafi.

Yang saya pelajari ttng zikir dan do'a ba'da shalat fardhu adalah: Dzikir dgn jahar sesudah shalat Fardhu dengan tujuan mengajarkan jamaah kaum mulimin, li-ta'liminnaas, adalah Sunnah Nabawiyyah !! Setelah ummat tau bacaan dzikir yang shahihah makImam di sunnahkan melirihkan bacaan dzikirnya tanpa perlu teriak-teriak pekek Microfon,karena Allah itu tidak tuli.

Zikir dan Do'a dgn Jahar pernah dilakukan Nabi Li-Ta'liminnaas (Untuk Mengajarkan Manusia).

Adapun zikir dgn jahar secara terus-menerus apalagi di komandoi seorang imam, (ingat: secara terus menerus) inilah yang BID'AH !!! Yang bid'ah bukan amal dzikirnya, tapi kaifiyatnya (caranya). Gitu loh...

Itu pun tidak serta merta lantas pelaku zikir jahar ba'da shalat fardhu langsung jadi sesat dan masuk neraka ! Ini LEBAY namanya !!!!

Unutk dalil-dalil qunut shubuh sikakan baca majmu' annawawi ada 60an halaman pembahasan beliau panjang lebar dgn banyak hadis hadis lain. Semoga bisa menambah wawasan kita semuanya. amin.

Adapun yang mengkafirkan orang yang tidak mempercayai sifat sifat Tuhan versi salafy masih banyak ya aba hussein... tidak bisa dipungkiri. Cobalah jalan-jalan dan baca lah banyak buku versi indonesia. Pasti ketemu.... saya ini tidak memfitnah. Dan dua pertiga usia saya habis jalan jalan dakwah dari aceh sampai papua. dari canada sampai australia... Dari Eropah sampai Kamboja. di sini, di amerika saya jumpa juga satu dua orang yang "kofar kafir itu". Kami diskusi. Ada yang marah pergi tidak terima. Tapi ada juga yang bisa menerima perbedaan dan berubah sikap. Alhamdulillah. Semoga kiranya umat ini mau bersatu. Saya rindu suasana itu. Semoga sebelum datang ajal menjemput paling tidak saya sudah melihatnya walau sedikit. .......  Ya Allah istajib ya ALLAH...

Abu Husein At-Thuwailibi: Ya salahkan orangnya, jangan salahkan ajarannya...

Kalau orang tabligh semuanya cerdas dan alim seperti Teungku Zulkarnain, niscaya Al-AlBani dan Bin Baz tidak akan memfatwakan jamaah tabligh sesat. Tapi karen jamaah tabligh umumnya orang-orangnya bodoh-bodoh, jahil, dan muqallid, tidak seperti tuan syaikh zulkarnain yang alim rabbani, ya jangan salahkan ada fatwa jamaah tabligh menyimpang.

Selesai.

Demikianlah dialog santai dengan Ulama indonesia yang mewakili kaum asy'ariyyah atau yang disebut NU atau "aswaja", semoga dialog ini membuka masing-masing cakrawala kita untuk semakin maju ke depan, belajar dan cerdas menyikapi realita perbedaan...Adapun ujung pangkal dari dialog ini, silahkan nilai sendiri, Allahu A'lam

Berlangganan artikel Situs Sunnah melalui email, RSS, atau Telegram.