Seorang imam masjid suatu ketika tatkala mengimami shalat bacaan suratnya kacau dan seringkali salah. Padahal biasanya beliau fasih dan lancar saat membacanya dalam shalat. Ada apa gerangan dengan sang imam ?.

Ternyata beliau tengah menghadapi suatu masalah hingga bacaan Al-Qur’annya kacau. Subhanallah..setelah berlalunya waktu dan permasalahan rumah tangganya selesai, sang imam tak lagi galau dalam memimpin shalat jama’ah.

Peristiwa serupa pernah pula dialami seorang imam dan bacaan al-Qur’annya ketika shalat di luar kebiasaan, dengan kata lain sering salah dan sangat kacau. Saat itu ada jama’ahnya yang memiliki kedudukan lagi kaya raya. Orang tersebut bergumam, “Mungkin sang imam lagi lagi banyak masalah”. Dia kemudian mengutus seseorang untuk menyerahkan sejumlah harta kepada imam yang lagi masghul tersebut. Dugaan orang itu ternyata benar, beliau sedang mengalami kesulitan harta lantaran sebentar lagi istrinya mau melahirkan. Setelah permasalahan finansialnya teratasi, alhamdulillah bacaan sang imam kembali menggema dengan indah dan tak lagi kacau.

Begitulah manusia, ujian hidup yang merupakan sunnatullah seringkali membuat hati galau dan pikirannya tak konsentrasi. Hati yang suntuk karena fokus memikirkan sesuatu sangat mungkin terbawa saat shalat, seperti pengakuan seorang ummahat yang justru saat-saat bermunajat pada Rabb-nya dia terlalaikan dari mengingat-Nya. Urusan bisnis yang belum tuntas dan ingat pesanan barang sering membuyarkan konsentrasi saat sholat. Ada pula seorang yang hobi jahit-menjahit pernah terlintas dalam shalatnya urusan baju yang belum dikerjakannya, padahal saat diluar shalat dia tak mengingatnya.

Orang hatinya disibukkan dengan dunia niscaya dia kurang menyadari betapa selama ini banyak hal yang terlupakan untuk kehidupan akhiratnya. Sebagaimana ungkapan bijak, “Orang yang disibukkan dengan kebaikan dia tak ada waktu untuk sibuk dalam kemaksiatan”. Orang mukmin yang orientasi dan tujuan hidupnya untuk kebahagiaan akhirat, dia akan menjalani kehidupan dunianya seperlunya tanpa berlebih-lebihan hingga melalaikan kampung akhirat.

Dan untuk istiqomah dalam keadaan sempit maupun lapang tak mudah. Setan selalu mengincar dan membisikkan ke hati manusia untuk lalai mengingat Allah ‘Azza Wa Jalla. Hawa nafsu tak kalah sengit menggoda hati untuk condong pada kenikmatan sementara yang justru bisa membinasakannya. Disinilah peran do’a sangat dibutuhkan untuk menguatkan iman dan membuat hati kokoh meski seribu satu masalah datang silih berganti.

Ummu Salamah pernah ditanya, ”Wahai Ummu Salamah, do’a apa yang sering dibaca oleh Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam selama beliau berada di sisimu?”. Dia menjawab, ”Do’a yang sering dibaca adalah :

<يَا مُقَلِّبَ اْلقُلُوْبِ ثَبِّتْ قَلْبِيْ عَلَى دِْينِكَ

Wahai Allah yang mampu membolak – balikkan hati, teguhkan hatiku berada di dalam agama-Mu“.

Dia berkata : “Saya bertanya kepada beliau, ”Wahai Rasulullah, betapa sering kau membaca do’a itu”. Beliau menjawab :

 يَا أُمُّ سَلَمَةَ إِنَّهُ لَيْسَ أَ دَ مِيٌّ إِلاَّ وَقّلْبُهُ بَيْنَ أُُُصْبٍُعَيْنِ مِنْ أَصَابِعِ اللهِ فَمَنْ شَاءَ أَقاَ مَ وَمَنْ شاَءَ أَقَامَ وَمَنْ شَاءَ أزَاغَ

Wahai Ummu Salamah sesungguhnya tidaklah anak keturunan Adam ( manusia ) itu kecuali hatinya berada diantara dua jemari Allah. Kalau Dia mau akan Dia teguhkan dan kalau Dia mau akan Dia gelincirkan”.

(Hadits ini diriwayatkan oleh Tirmidzi dan dia nilai hasan hadits ini . Lihat kitab Jami’u Al-Ushul Shahihu Sunani Tirmidzi hadits No. 3768 dan No. 2368).

Selain banyak berdo’a, ada pula terapi lain dari hati yang galau yakni dengan minta nasehat kepada orang ahli. Umar pernah berkata kepada Abu Musa,” minta nasehatlah kepada Abu Musa,” Minta nasehalah kepada orang –orang yang takut kepada Allah”.

Ada ungkapan syair yang bagus: “Minta nasehatlah kepada teman akrabmu ketika menemui kesulitan. Terimalah nasehat dari orang yang baik-baik lagi mulia”.

Semoga Allah jadikan hati kita selalu berhias dengan iman dan istiqomah dijalan-Nya.

Referensi :

1. Do’a dan shalat istikharah (terjemah). Samir Qorni Muhammad Rizq, Media Hidayah, Yogyakarta 1423 U.

2. Sebagian dinukil dari kajian rutin Utshul Tsalasah, Ustadz Zaid Susanto, Lc pada tanggal 27 Maret 2017 di Kampung Santri Jamilurrohman.

***

Penulis: Isruwanti Ummu Nashifa

Artikel Muslimah.or.id

Berlangganan artikel Situs Sunnah melalui email, RSS, atau Telegram.