بسم الله الرحمن الرحيم

Allah berfirman :

وَأَذَانٌ مِنَ اللَّهِ وَرَسُولِهِ إِلَى النَّاسِ
“dan ini adalah seruan dari Allah dan Rasul-Nya kepada umat manusia” (QS. At Taubah: 3)

Barakallahu fikum, saudaraku inilah tuntunan indah nan ilmiyah dari Islam lewat petunjuk Nabi Shallallahu’alaihi wasallam bahwa ketika safar pun kita masih dianjurkan untuk melakukan adzan dan iqamah.

Berikut dalil-dalil tentang hal tersebut
Hadits yang mulia:
عَنْ أَبِي سُلَيْمَانَ مَالِكِ بْنِ الحُوَيْرِثِ، قَالَ: أَتَيْنَا النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، وَنَحْنُ شَبَبَةٌ مُتَقَارِبُونَ، فَأَقَمْنَا عِنْدَهُ عِشْرِينَ لَيْلَةً، فَظَنَّ أَنَّا اشْتَقْنَا أَهْلَنَا، وَسَأَلَنَا عَمَّنْ تَرَكْنَا فِي أَهْلِنَا، فَأَخْبَرْنَاهُ، وَكَانَ رَفِيقًا رَحِيمًا، فَقَالَ: «ارْجِعُوا إِلَى أَهْلِيكُمْ، فَعَلِّمُوهُمْ وَمُرُوهُمْ، وَصَلُّوا كَمَا رَأَيْتُمُونِي أُصَلِّي، وَإِذَا حَضَرَتِ الصَّلاَةُ، فَلْيُؤَذِّنْ لَكُمْ أَحَدُكُمْ، ثُمَّ لِيَؤُمَّكُمْ أَكْبَرُكُمْ»
✏Dari Abi Sulaiman Malik bin Al Huwairits, beliau berkata : Kami mendatangi Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersama beberapa orang dari kerabatku, kemudian kami tinggal di sisinya selama 20 hari. Beliau (shallallahu’alaihi wasallam menduga bahwa kami merasa rindu kepada keluarga kami, dan beliau bertanya kepada kami dengan siapa keluarga kami dititipkan kemudian kami memberitahukan kepada beliau, Dan Beliau shallallahu’alaihi wasallam adalah pribadi yang lembut lagi penyayang, maka Beliau berkata : “Pulanglah kalian kepada keluarga kalian, dan ajarilah mereka (agama Islam) serta shalatlah kalian sebagaimana kalian melihatku sholat. Apabila datang waktu shalat, maka hendaklah salah seorang dari kalian mengumandangkan adzan lalu orang yang paling dituakan mengimami shalat kalian” (HR Al-Bukhari dalam Shahih-nya, kitab Al Adzan, Bab Bad’u Al Adzan, no. 6008)

✏Al-Imam Bukhari rahimahullah membuat judul untuk hadits di atas pada kitab Shohihnya, bab
الأذان للمسافر إذا كانوا جماعة والإقامة وكذلك بعرفة
“Azan dan Iqamat bagi Musafir Apabila Mereka Berjamaah dan demikian juga di Arofah”.

Sebagaimana yang telah disampaikan oleh Syaikh Sholih al-Masy’ari hafizahullah ketika membahas Kitab Fathul Bari Syarah Shohih Al-Bukhori, bahwa
“ققه البخاري في تبويبه “
✏Fiqih Imam al-Bukhori tercermin dari judul babnya.
Dan ini menunjukkan bahwa bagi musafir dianjurkan untuk  melakukan adzan dan iqamah.

Hadits yang mulia lainnya adalah:
عَنْ أَبِي الدَّرْدَاءِ، قَالَ: سَمِعْتُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُولُ: «مَا مِنْ ثَلَاثَةٍ فِي قَرْيَةٍ وَلَا بَدْوٍ (لَا يُؤَذَّنُ) لَا تُقَامُ فِيهِمُ الصَّلَاةُ إِلَّا قَدِ اسْتَحْوَذَ عَلَيْهِمُ الشَّيْطَانُ   فَعَلَيْكَ بِالْجَمَاعَةِ فَإِنَّمَا يَأْكُلُ الذِّئْبُ الْقَاصِيَةَ»
✏Dari Abi Darda’ radhiallahu’anhu, beliau berkata, “Aku pernah mendengar Rasulullah Shallallahu’alaihi wasallam bersabda: “Tidak ada tiga orang di satu desa atau lembah (yang tidak ada adzan – riwayat Ahmad) dan tidak ditegakkan pada mereka shalat berjam’ah, kecuali setan telah menguasai mereka. Oleh karena itu tetaplah kalian (bersatu) dalam jama’ah karena sesungguhnya serigala itu hanya akan memakan kambing yang menyendiri. (HR. Abu Dawud no. 547, Ahmad, no. 21710, An-Nasaa-I no. 847,  Hadits Hasan, lihat Shohih Abi Dawud – Al- Umm no. 556)

Dalil berikutnya adalah hadits yang mulia berikut:
عَنْ عُقْبَةَ بْنِ عَامِرٍ، قَالَ: سَمِعْتُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُولُ: ” يَعْجَبُ رَبُّكُمْ مِنْ رَاعِي غَنَمٍ فِي رَأْسِ شَظِيَّةٍ بِجَبَلٍ، يُؤَذِّنُ بِالصَّلَاةِ، وَيُصَلِّي، فَيَقُولُ اللَّهُ عَزَّ وَجَلَّ: انْظُرُوا إِلَى عَبْدِي هَذَا يُؤَذِّنُ، وَيُقِيمُ الصَّلَاةَ، يَخَافُ مِنِّي، قَدْ غَفَرْتُ لِعَبْدِي وَأَدْخَلْتُهُ الْجَنَّةَ ”
✏Dari ‘Uqbah bin ‘Amir (radhiallahu’anhu), beliau berkata, Aku pernah mendengar Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam, bersabda,
“Rabb kalian kagum terhadap seorang penggembala kambing yang berada di puncak bukit. Ia mengumandangkan azan dan melaksanakan shalat. Lalu Allah Shallallahu ‘alaihi wasallam berfirman, ‘Lihatlah hamba- Ku ini. Ia mengumandangkan adzan dan melaksanakan shalat karena takut kepada-Ku. Sungguh, Aku telah memberikan ampunan untuknya dan Aku akan memasukkannya ke dalam surga’.”
(HR. Abu Dawud no. 1203, Ahmad no. 17312, At-Thobroni dalam al-Mu’jamul Kabiir no. 855, Hadits ini dinyatakan shahih oleh Syaikh al-Albani rahimahullah dalam Silsilah Ahaadits ash-Shahihah  no. 41).

✏Al-Imam Abu Dawud rahimahullah membuat judul untuk hadits di atas,

بَابُ الْأَذَانِ فِي السَّفَرِ
“Bab Adzan ketika Safar.”

✏Syaikh Al-Albani rahimahullah juga mengatakan di akhir hadits tersebut:
وفي الحديث من الفقه استحباب الأذان لمن يصلي وحده، وبذلك ترجم له النسائي،
وقد جاء الأمر به وبالإقامة أيضا في بعض طرق حديث المسيء صلاته، فلا ينبغي التساهل بهما.
✏Dalam hadits tersebut terdapat pemahaman tentang Dianjurkannya Adzan bagi orang yang sholat sendirian dan demikianlah yang dicantumkan oleh Imam An-Nasa-i (dalam kitab sunannya), dan juga terdapat juga perintah untuk melakukan iqamah ( lihat penjelasan dibawahnya) di beberapa jalan dari hadits orang yang jelek sholatnya (terdapat dalam Shohih al-Bukhori no. 757 dan Muslim no. 397 serta yang lainnya. ) maka selayaknya tidak menganggap enteng tentang adzan dan iqamah.(selesai nukilan dari Syaikh Al-Albani rahimahullah)

✏Maksud perkataan Syaikh Al-Albani “di beberapa jalan dari hadits orang yang jelek sholatnya adalah: termaktub dalam hadits berikut:
إِذَا قُمْتَ إِلَى الصَّلَاةِ فَتَوَضَّأْ   كَمَا أَمَرَكَ اللَّهُ، ثُمَّ تَشَهَّدْ، فَأَقِمْ ثُمَّ كَبِّرْ
✏Apabila engkau ingin melakukan sholat maka berwudhu’lah sebagaimana Allah telah perintahkan kepadamu, kemudian bertasyahudlah (membaca doa setelah wudhu), (setelah itu) maka kumandangkanlah iqamah dan bertakbirlah. (HR. Ibnu Khuzaimah dalam kitab Shohihnya no. 545, Isma’il bin Ja’far dalam kitabnya Hadits Ali bin Hujr as-Sa’di ‘An Isma’il bin Ja’far al-Madani 1/499)

Syaikh Al Albani rahimahullah juga menjelaskan lebih detail lagi dalam kitab Tamamul Minnah:
فإن القول بأن الأذان مندوب لا نشك مطلقا في بطلانه كيف وهو من أكبر الشعائر الإسلامية التي كان عليه الصلاة. والسلام إذا لم يسمعه في أرض قوم أتاهم ليغزوهم وأغار عليهم فإن سمعه فيهم كف عنهم كما ثبت في “الصحيحين” وغيرهما وقد ثبت الأمر به في غير ما حديث صحيح والوجوب يثبت بأقل من هذا فالحق أن الأذان فرض على الكفاية وهو الذي صححه شيخ الإسلام ابن تيمية في “الفتاوى” 1 / 67 – 68 و4 / 20 بل وعلى المنفرد
✏“Sungguh, pendapat yang menyatakan adzan hanyalah Sunnah jelas merupakan kekeliruan. Bagaimana bisa, padahal ia termasuk syi’ar Islam yang terbesar, yang jika Nabi shallallahu’alaihi wasallam tidak mendengarnya di negeri suatu kaum yang akan beliau perangi, maka beliau akan memerangi mereka. Jika mendengar adzan pada mereka, beliau menahan diri, sebagaimana telah diriwayatkan dalam Shahihain dan selainnya. Dan perintah adzan sudah ada dalam hadits shahih lainnya. Padahal hukum wajib dapat ditetapkan dengan dalil yang lebih rendah dari ini. MAKA YANG SHAHIH, adzan adalah fardhu kifayah, sebagaimana dirajihkan Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah dalam Al Fatawa (1/67-68 dan 4/20). Bahkan juga bagi seseorang yang shalat sendirian”. (Lihat Tamamul Minnah Fi Ta’liq ‘Ala Fiqhi As Sunnah, halaman 144, Cet. Th. 1409 H, Dar Raayah, Riyadh.)

✅FAWAID:
1⃣   Islam itu agama Indah dan Ilmiyah serta semua hal pernik-pernik kecil termasuk adzan dan iqamah dalam safar pun dijelaskan secara jelas dan gamblang
2⃣   Bagi yang safar dengan pesawat, kereta, dan kapal serta kendaraan lainnya tetap dianjurkan untuk mengumandangkan adzan dan iqamah.
3⃣    Adzan dan iqamah adalah syiar agama Islam yang agung, semestinya bagi setiap muslim untuk berani mengaplikasikannya baik ketika safar maupun mukim
4⃣ Orang yang sholat sendirian pun dianjurkan untuk melakukan adzan dan iqamah bukan hanya iqamah saja
5⃣  Orang yang telah mendengar adzan dari hp atau radio atau alarm tetap harus mengumandangkan adzan karena adzan yang didengarnya adalah rekaman.

Semoga Bermanfaat
Zaki Abu Kayyisa
〰〰〰〰〰〰〰〰
Silahkan Bergabung via WA
FAWAID
Al MUWATHTHO
wa Zaidah

Akhwat : +971 566921 841
                 +6282122630645
Ikhwan : +971 563000 370

Berlangganan artikel Situs Sunnah melalui email, RSS, atau Telegram.