KALAM (BERBICARA) TERMASUK  SIFAT KESEMPURNAAN ALLÂH[1]

Allâh Azza wa Jalla memiliki sifat berbicara semenjak azali, yakni sifat berbicara Allâh Azza wa Jalla tidak bermula setelah penciptaan makhluk, tetapi Allâh Azza wa Jalla sudah memiliki sifat itu semenjak dahulu. Dan Allâh Azza wa Jalla berbicara dengan kehendak-Nya, dengan pembicaraan yang Dia kehendaki, dengan cara yang Dia kehendaki, dengan pembicaraan yang hakiki (sebenarnya, bukan kiasan), dengan huruf dan dengan suara, sesuai dengan kebesaran dan keagungan-Nya. Allâh Azza wa Jalla memperdengarkan pembicaraan-Nya kepada sebagian makhluk-Nya yang Dia kehendaki. Dan sifat berbicaranya Allâh tidak seperti berbicaranya makhluk. Inilah sikap as-Salafus Shalih terhadap sifat kalam bagi Allâh secara ringkas

Berbicara Adalah Sifat Kesempurnaan Allâh

As-Salafus Shalih mengetahui bahwa sifat kalam (berbicara) termasuk sifat kamal (kesempurnaan), sedangkan kebalikannya, yaitu bisu, termasuk sifat naqsh (kekurangan). Orang-orang yang berakal tidak berbeda pendapat tentang hal ini. Kita mengetahui bahwa sesembahan bani Israil yang mereka buat dari perhiasan mereka dicela karena tidak bisa berbicara, bahkan itu sebagai bukti bahwa ia bukan sesembahan yang benar. Allâh Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

وَاتَّخَذَ قَوْمُ مُوسَىٰ مِنْ بَعْدِهِ مِنْ حُلِيِّهِمْ عِجْلًا جَسَدًا لَهُ خُوَارٌ ۚ أَلَمْ يَرَوْا أَنَّهُ لَا يُكَلِّمُهُمْ وَلَا يَهْدِيهِمْ سَبِيلًا

Dan kaum Musa, setelah kepergian Musa (ke gunung Thur) membuat dari perhiasan-perhiasan (emas) mereka anak lembu yang bertubuh dan bersuara. Apakah mereka tidak mengetahui bahwa anak lembu itu tidak dapat berbicara dengan mereka dan tidak dapat (pula) menunjukkan jalan kepada mereka? [Al-A’râf/7:148][2]

Sifat Berbicara Allâh Adalah Hakiki, Bukan Majaz

Dalil bahwa Allâh Azza wa Jalla berbicara banyak sekali dalam al-Qur’an, antara lain firman Allâh Subhanahu wa Ta’ala :

تِلْكَ الرُّسُلُ فَضَّلْنَا بَعْضَهُمْ عَلَىٰ بَعْضٍ ۘ مِنْهُمْ مَنْ كَلَّمَ اللَّهُ 

Rasul-rasul itu Kami lebihkan sebagian (dari) mereka atas sebagian yang lain. Di antara mereka ada yang Allâh berkata-kata (langsung dengan dia). [Al-Baqarah/2: 253]

 Ayat ini dengan nyata menunjukkan bahwa Allâh Azza wa Jalla berbicara kepada sebagian rasul-Nya secara langsung. Lebih jelas lagi dalam ayat lain, Allâh Azza wa Jalla berfirman:

وَكَلَّمَ اللَّهُ مُوسَىٰ تَكْلِيمًا

Dan Allâh telah berbicara kepada Musa dengan langsung. [An-Nisâ/4:164]

Ini merupakan dalil yang paling kuat. Karena Allâh memberitakan bahwa Dia berbicara kepada Nabi Musa Alaihissallam, kemudian menguatkan dengan mashdar (kata kerja yang dibendakan) yang menetapkan hakekat serta menolak kiasan, dan ini adalah gaya bahasa yang terkenal dalam bahasa Arab.

Allâh Berbicara Dengan Suara

Dalil bahwa pembicaraan Allâh Azza wa Jalla dengan suara yaitu firman-Nya Azza wa Jalla :

وَاذْكُرْ فِي الْكِتَابِ مُوسَىٰ ۚ إِنَّهُ كَانَ مُخْلَصًا وَكَانَ رَسُولًا نَبِيًّا ﴿٥١﴾ وَنَادَيْنَاهُ مِنْ جَانِبِ الطُّورِ الْأَيْمَنِ وَقَرَّبْنَاهُ نَجِيًّا

Dan ceritakanlah (hai Muhammad kepada mereka), kisah Musa di dalam al-Kitab (al-Quran) ini. Sesungguhnya ia adalah seorang yang dipilih dan seorang rasul dan nabi. Dan Kami telah memanggilnya dari sebelah kanan gunung Thur dan Kami telah mendekatkannya kepada Kami di waktu dia munajat (kepada Kami). [Maryam/19: 51-52]

Firman Allâh Azza wa Jalla , “Dan Kami telah memanggilnya”, memanggil di sini bahasa Arabnya adalah nida’. Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah t berkata, “

” النِّدَاءُ ” فِي لُغَةِ الْعَرَبِ هُوَ صَوْتٌ رَفِيعٌ؛ لَا يُطْلَقُ النِّدَاءُ عَلَى مَا لَيْسَ بِصَوْتٍ لَا حَقِيقَةً وَلَا مَجَازًا وَإِذَا كَانَ النِّدَاءُ نَوْعًا مِنَ الصَّوْتِ فَالدَّالُّ عَلَى النَّوْعِ دَالٌّ عَلَى الْجِنْسِ بِالضَّرُورَةِ

Nida’ dalam bahasa Arab adalah suara yang tinggi atau keras. Istilah nida’ tidak dipergunakan pada sesuatu yang tidak ada suaranya, baik hakiki maupun majaz (kiasan). Jika nida’ adalah jenis suara (yaitu suara yang keras-pen), maka sesuatu yang menunjukkan kepada jenis otomatis menunjukkan jenis tersebut. [Majmû’ Fatâwâ, 6/531]

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah juga berkata, “Allâh Azza wa Jalla telah memberitakan nida’ (panggilan)-Nya kepada para hamba-Nya dalam al-Qur’an pada sepuluh tempat lebih. Dan nida’ itu tidak terjadi kecuali dengan suara berdasarkan kesepakatan ahli bahasa dan seluruh manusia.” [Minhajus Sunnah, 5/423]

Tentang pembicaraan Allâh dengan suara yang didengar juga disebutkan di dalam hadits-hadits shahih, antara lain:

عَنْ أَبِي سَعِيدٍ الخُدْرِيِّ، قَالَ: قَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: ” يَقُولُ اللَّهُ عَزَّ وَجَلَّ يَوْمَ القِيَامَةِ: يَا آدَمُ، يَقُولُ: لَبَّيْكَ رَبَّنَا وَسَعْدَيْكَ، فَيُنَادَى بِصَوْتٍ: إِنَّ اللَّهَ يَأْمُرُكَ أَنْ تُخْرِجَ مِنْ ذُرِّيَّتِكَ بَعْثًا إِلَى النَّارِ، قَالَ: يَا رَبِّ وَمَا بَعْثُ النَّارِ؟ قَالَ: مِنْ كُلِّ أَلْفٍ – أُرَاهُ قَالَ – تِسْعَ مِائَةٍ وَتِسْعَةً وَتِسْعِينَ

Dari Abu Sa’iid al-Khudri Radhiyallahu anhu, dia berkata: Nabi  Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Allâh akan berfirman pada hari kiamat, ‘Hai Âdam!’ Âdam menjawab, ‘Aku penuhi panggilan-Mu’. Kemudian Âdam dipanggil dengan suatu suara: ‘Sesungguhnya Allâh memerintahkanmu untuk mengirimkan sebagian anak cucumu menuju neraka’. Âdam berkata, ‘Wahai Rabb-ku, apakah kiriman ke neraka itu?’ Allâh menjawab: ‘Untuk setiap seribu orang, dikirim 999’. [HR. Al-Bukhâri, no. 4741]

Pembicaraan Allâh Dengan Huruf

Syaikh Muhammad bin Shalih al-‘Utsaimin rahimahullah berkata, “Dalil Ahlus Sunnah bahwa pembicaraan Allâh Azza wa Jalla dengan huruf adalah firman Allâh Azza wa Jalla :

وَقُلْنَا يَا آدَمُ اسْكُنْ أَنْتَ وَزَوْجُكَ الْجَنَّةَ

Dan Kami berfirman: “Hai Adam, diamilah oleh kamu dan isterimu surga ini. [Al-Baqarah/2:35]

Karena perkataan yang dikatakan di sini adalah huruf. (Syarah Aqidah Wasithiyah karya Syaikh Muhammad bin Shalih al-‘Utsaimin)

Allâh Berbicara Sesuai Dengan Kehendaknya

Syaikh Muhammad bin Shalih al-‘Utsaimin berkata, “Dalil mereka (Ahlus Sunnah) bahwa pembicaraan Allâh dengan kehendak-Nya adalah firman Allâh Subhanahu wa Ta’ala :

وَلَمَّا جَاءَ مُوسَىٰ لِمِيقَاتِنَا وَكَلَّمَهُ رَبُّهُ

Dan tatkala Musa datang untuk (munajat dengan Kami) pada waktu yang telah Kami tentukan dan Tuhan telah berfirman (langsung) kepadanya. [Al-A’râf/7: 143]

Karena pembicaraan Allâh terjadi setelah kedatangan Nabi Musa Alaihissallam.

Pembicaraan Allah Berbeda Dengan Pembicaraan Manusia

Sebagian orang menolak sifat berbicara bagi Allâh Azza wa Jalla dengan alasan: menetapkan sifat bagi Allâh berarti menyamakan Allâh Azza wa Jalla dengan makhluk. Padahal penetapan sifat bagi Allâh Azza wa Jalla merupakan bentuk keimanan kepada berita Allâh Azza wa Jalla , dan menetapkannya adalah menurut kehendak Allâh, yaitu dengan tidak menyamakan dengan sifat makhluk, sebagaimana firman Allâh Azza wa Jalla :

لَيْسَ كَمِثْلِهِ شَيْءٌ ۖ وَهُوَ السَّمِيعُ الْبَصِيرُ

Tidak ada sesuatupun yang serupa dengan Dia, dan Dia-lah yang Maha Mendengar dan Melihat. [Asy-Syura/42: 11]

Ayat ini menunjukkan kewajiban menolak tamtsîl (menyerupakan dengan makhluk), dan wajib menetapkan nama dan sifat yang telah Allâh Azza wa Jalla beritakan.

Di antara perbedaan dengan pembicaaran manusia adalah bahwa pembicaraan Allâh adalah dengan suara yang didengar oleh orang yang berada ditempat yang jauh, sebagaimana didengar oleh orang yang di berada di dekat.

أَنَّ جَابِرَ بْنَ عبد الله حَدَّثَهُ قَالَ خَرَجْتُ إِلَى الشَّامِ إلى عبد الله بْنِ أُنَيْسٍ الأَنْصَارِيِّ فَقَالَ: سَمِعْتُ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُولُ: يَحْشُرُ اللَّهُ تَعَالَى الْعِبَادَ أَوْ قَالَ يَحْشُرُ اللَّهُ النَّاسَ قَالَ وَأَوْمَى بِيَدِهِ إِلَى الشَّامِ عُرَاةً غُرْلا بُهْمًا قَالَ قُلْتُ مَا بُهْمًا قَالَ لَيْسَ مَعَهُمْ شَيْءٌ فَيُنَادِي بِصَوْتٍ يَسْمَعُهُ مَنْ بَعُدَ كَمَا يَسْمَعُهُ مَنْ قَرُبَ أَنَا الْمَلِكُ أَنَا الدَّيَّانُ لا يَنْبَغِي لأَحَدٍ مِنْ أَهْلِ الْجَنَّةِ أَنْ يَدْخُلَ الْجَنَّةَ وَأَحَدٌ مِنْ أَهْلِ النَّارِ يُطَالِبُهُ بِمَظْلَمَةٍ وَلا يَنْبَغِي لأَحَدٍ مِنْ أَهْلِ النَّارِ أَنْ يَدْخُلَ النَّارَ وَأَحَدٌ مِنْ أَهْلِ الْجَنَّةِ يُطَالِبُهُ بِمَظْلَمَةٍ قَالُوا وَكَيْفَ وَإِنَّا نَأْتِي اللَّهَ عُرَاةً غُرْلا بُهْمًا قَالَ بِالْحَسَنَاتِ والسيئات“.

Bahwa Jabir bercerita: Aku keluar menuju Syam kepada Abdullah bin Unais al-Anshari, dia berkata: Aku telah mendengar Rasûlullâh n bersabda, “Allâh akan mengumpulkan semua hamba-Nya –beliau mengisyaratkan tangannya ke arah Syam- dalam keadaan telanjang, belum dikhitan, dan tidak membawa apapun. Lalu Allâh akan berseru dengan suara yang didengar oleh orang yang berada di jauh, sebagaimana didengar oleh orang yang di berada di dekat, “Aku adalah Raja, Aku adalah Pemberi balasan. Tidak seorangpun dari penduduk surga pantas masuk surga, sedangkan ada seseorang dari penduduk neraka menuntutnya dengan sebab kezhalimannya. Tidak seorangpun dari penduduk neraka pantas masuk neraka, sedangkan ada seseorang dari penduduk sorga menuntutnya dengan sebab kezhalimannya. Para sahabat bertanya, “Bagaimana itu, sedangkan kita akan menghadap Allâh dalam keadaan telanjang, belum dikhitan, dan tidak membawa apapun. Beliau menjawab, “Akan dibalas dengan kebaikan atau keburukan”. [HR. Ibnu Abi ‘Ashim di dalam As-Sunnah, no. 514; Dihasankan oleh al-Albani di dalam Ta’liq ‘alas Sunnah, no. 514]

Para Ulama juga menjelaskan bahwa sifat kalam bagi Allâh Azza wa Jalla merupakan sifat dzat, dilihat dari asalnya, yaitu sifat yang tidak lepas dari Allâh Azza wa Jalla . Karena Allâh Azza wa Jalla semenjak dahulu dan terus selama-lamanya mampu berbicara. Juga merupakan sifat fi’il (perbuatan Allâh), dilihat dari satu persatu pembicaraan Allâh. Karena Allâh pembicaraan Allâh berkaitan dengan kehendakNya, yaitu kapanpun Allâh berkehendak, maka Dia berbicara.

Semoga penjelasan ini menambah ilmu kita tentang sifat-sifat Allâh yang sebenarnya, dan menyelamatkan kita dari keyakinan atau kepercayaan yang tidak benar, wallâhu a’lam bish shawwab.

[Disalin dari majalah As-Sunnah Edisi 06/Tahun XX/1437H/2016M. Diterbitkan Yayasan Lajnah Istiqomah Surakarta, Jl. Solo – Purwodadi Km.8 Selokaton Gondangrejo Solo 57183 Telp. 0271-858197 Fax 0271-858196.Kontak Pemasaran 085290093792, 08121533647, 081575792961, Redaksi 08122589079]
_______
Footnote
[1] Disadur oleh Abu Isma’il Muslim al-Atsari dari kitab Tas-hîl al-‘Aqîdah al-Islâmiyyah, hlm. 114-115, penerbit: Darul ‘Ushaimi lin nasyr wa tauzi’, karya Prof. Dr. Abdullah bin Abdul ‘Aziz bin Hammaadah al-Jibrin dengan tambahan dari beberapa rujukan yang lain.

[2] Lihat: Ash-Shifat Ilahiyah fil Kitab was Sunnah fii Dhauil Itsbât wat Tanzîh, hlm. 263, karya Syaikh Aman al-Jami

Berlangganan artikel Situs Sunnah melalui email, RSS, atau Telegram.