QAWA’ID FIQHIYAH
Kaidah Ke Enam Puluh Delapan

كُلُّ فِعْلٍ تَوَفَّرَ سَبَبُهُ عَلَى عَهْدِ النَّبِيِّ  صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَلَمْ يَفْعَلْهُ فَالْمَشْرُوْعُ تَرْكُهُ

Setiap perbuatan yang sebabnya ada di zaman Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam namun Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak mengerjakan perbuatan tersebut maka yang disyariatkan adalah meninggalkan perbuatan (yang tidak dilakukanoleh Nabi) itu.

Perbuatan Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam termasuk rujukan dalam penetapan hukum syar’i, apabila Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam mengerjakan perbuatan tersebut dalam rangka pensyariatan. Demikian juga, apa yang Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam tinggalkan pun menjadi rujukan dalam pensyariatan. Dan kaidah yang sedang kita bahas ini berkaitan dengan apa-apa yang Beliau tinggalkan tersebut.

Kaidah ini menjelaskan bahwa perbuatan yang seharusnya bisa dan mudah dikerjakan oleh Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam , namun Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak melakukannya tanpa unsur paksaan, maka kita juga harus meninggalkan perbuatan itu dalam rangka beribadah kepada Allâh Subhanahu wa Ta’ala . Karena apabila perbuatan tersebut disyariatkan tentu Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak meninggalkannya.

Sesungguhnya Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam telah menyampaikan syari’at kepada ummatnya dengan tuntas dan jelas. Allâh Azza wa Jalla juga telah menyempurnakan agama ini dengan perantaraan Nabi-Nya. Sehingga tidak ada satu kebaikan pun kecuali Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam telah menunjukkannya, dan tidak ada satu keburukan pun kecuali Beliau telah memperingatkan umat darinya. Oleh karena itu, tindakan Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam yang meninggalkan suatu perbuatan itu juga merupakan salah satu bentuk pensyari’atan sebagaimana tindakan Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam yang mengerjakan sesuatu. Sebagaimana kita mengikuti Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam perbuatan Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam maka kita juga mencontoh Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam dengan meninggalkan apa yang Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam tinggalkan, terutama perbuatan yang Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam mampu mengerjakannya namun ternyata Beliau tinggalkan padahal tidak ada yang menghalangi Beliau dari melakukannya. Karena Beliau adalah contoh, suri teladan dan pemimpin kita. Allâh Azza wa Jalla berfirman :

لَقَدْ كَانَ لَكُمْ فِي رَسُولِ اللَّهِ أُسْوَةٌ حَسَنَةٌ لِمَنْ كَانَ يَرْجُو اللَّهَ وَالْيَوْمَ الْآخِرَ وَذَكَرَ اللَّهَ كَثِيرًا

Sesungguhnya telah ada pada (diri) Rasûlullâh itu suri teladan yang baik bagimu (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allâh dan (kedatangan) hari kiamat dan dia banyak menyebut Allâh. [Al-Ahzâb/33:21]

Syaikh Abdurrahman bin Nashir as-Sa’di rahimahullah berkata ketika menafsirkan ayat ini, “Maka keteladanan yang baik itu ada pada diri Rasul Shallallahu ‘alaihi wa sallam, sesungguhnya orang yang mengikuti beliau telah menempuh jalan yang mengantarkan kepada kemuliaan di sisi Allah Subhanahu wa Ta’ala, dan itulah jalan yang lurus.”[1]

Kaidah ini bisa diaplikasikan dalam banyak permasalahan. Berikut ini sekedar beberapa contoh darinya

  1. Sebagian pengikut tarekat shufiyah dan pengagung kuburan mendakwakan bahwa thawaf di sekitar kuburan termasuk ibadah yang disyari’atkan. Kita katakan bahwa di zaman Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam telah ada kuburan, bahkan Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam melakukan ziarah kubur, dan mengucapkan salam kepada penghuninya. Akan tetapi Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak pernah thawaf (mengelilingi) kuburan, padahal sebab dan pendorongnya telah ada ketika itu. Ketika Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak mengerjakannya, ini menunjukkan bahwa yang disyari’atkan adalah tidak thawaf di kuburan. Jika perbuatan itu termasuk ibadah tentu Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak akan meninggalkannya. Tatkala Beliau tidak mengerjakannya, itu menunjukkan bahwa perbuatan tersebut bukan ibadah yang disyari’atkan, bahkan masuk dalam keumuman firman Allâh Azza wa Jalla :

أَمْ لَهُمْ شُرَكَاءُ شَرَعُوا لَهُمْ مِنَ الدِّينِ مَا لَمْ يَأْذَنْ بِهِ اللَّهُ

Apakah mereka mempunyai sesembahan-sesembahan selain Allah yang mensyari’atkan untuk mereka agama yang tidak diizinkan Allah? [Asy-Syûra/42:21]

  1. Sebagian orang menyatakan tentang disyari’atkannya dzikir jama’i, yaitu dzikir yang dilakukan bersama-sama dengan satu suara. Jika kita perhatikan, amalan tersebut termasuk amalan yang ada sebabnya di zaman Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam yaitu Beliau dan para shahabat melaksanakan shalat berjama’ah kemudian berdzikir setelahnya. Namun tidak pernah dinukil bahwa Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam memerintahkan para Shahabat untuk berdzikir secara bersama-sama dengan satu suara. Sekiranya perbuatan tersebut termasuk amal ibadah yang disyari’atkan tentu Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam mengerjakan dan memerintahkannya. Tatkala Beliau tidak mengerjakannya, ini menunjukkan bahwa amalan tersebut tidak termasuk ibadah yang disyari’atkan.
  2. Sebagian orang beranggapan bahwa bersiwak ketika memasuki masjid secara khusus disunnahkan.[2] Apabila kita cermati, amalan tersebut telah ada sebabnya di masa Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam karena ketika itu siwak telah ada dan Beliau sangat sering memasuki masjid, namun bersamaan dengan itu tidak ada nukilan yang menjelaskan bahwa Beliau bersiwak ketika masuk   Oleh karena itu tidak sepantasnya meyakini keutamaan bersiwak ketika itu secara khusus. Bahkan bersiwak disunnahkan di setiap waktu. Sebagaimana disebutkan dalam hadits ‘Aisyah Radhiyallahu anhuma, Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :

السِّوَاكُ مَطْهَرَةٌ لِلْفَمِ مَرْضَاةٌ لِلرَّبِّ

Siwak itu menyucikan mulut dan mendatangkan keridhaan Allâh. [3]

  1. Sebagian makmum dalam shalat mengucapkan ( اِسْتَعَنَّا بِاللهِ ) atau ( بِاللهِ أَسْتَعِيْنُ ) ketika imam membaca (إِيَّاكَ نَعْبُدُ وَإِيَّاكَ نَسْتَعِينُ ). Jika kita perhatikan, ucapan tersebut telah ada pendorongnya di zaman Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam , karena Beliau biasa melaksanakan shalat berjama’ah bersama para Shahabat, namun Beliau tidak pernah memerintahkan Shahabat untuk mengucapkannya. Seandainya perkataan tersebut termasuk sunnah tentulah Beliau memerintahkan dan mengerjakannya. Ketika Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak memerintahkan dan tidak pula mengerjakannya, itu menunjukkan bahwa yang diyari’atkan adalah tidak melakukannya.
  1. Sebagian orang melaksanakan puasa pada bulan Rajab seluruhnya atau sebagiannya dengan meyakini keutamaan khusus padanya. Ini adalah suatu amalan yang telah ada sebabnya di zaman Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam, namun tidak pernah dinukil bahwa Beliau mengerjakannya, ini menunjukkan bahwa yang disyari’atkan adalah meninggalkannya.[4]

Dengan beberapa contoh di atas kiranya substansi kaidah ini telah menjadi jelas. Intinya ketika seseorang mendapati suatu amalan yang didakwakan sebagai amalan yang bisa mendekatkan kepada Allâh Azza wa Jalla maka hendaklah ia melihat apakah amalan itu pernah dilakukan oleh Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam ? Jika Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah melakukannya atau memerintahkannya maka tidak ada masalah jika dia mengamalkannya. Namun jika ternyata tidak pernah dilakukan Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam dan tidak pernah Beliau perintahkan padahl sebab pendorongnya telah ada maka hal itu menunjukkan bahwa yang disyari’atkan adalah meninggalkan amalan tersebut.[5]

Wallahu a’lam.

[Disalin dari majalah As-Sunnah Edisi 11/Tahun XVIII/1436H/2015. Diterbitkan Yayasan Lajnah Istiqomah Surakarta, Jl. Solo – Purwodadi Km.8 Selokaton Gondangrejo Solo 57183 Telp. 0271-858197 Fax 0271-858196.Kontak Pemasaran 085290093792, 08121533647, 081575792961, Redaksi 08122589079 ]
_______
Footnote
[1] Taisîr al-Karîm ar-Rahmân fi Tafsîr Kalâm al-Mannân, Syaikh Abdurrahman bin Nashir as-Sa’di, Cet. I, Tahun 1423 H/202 M, Muassasah ar-Risalah, Beirut, Hlm. 661.

[2] Sebagian Ulama’ madzhab Hanabilah berpendapat akan disunnahkannya bersiwak ketika masuk masjid dengan dalil qiyas terhadap kesunnahan bersiwak ketika masuk rumah. (Lihat Syarh Zâd al-Mustaqni’ karya Syaikh Hamd bin Abdillah al-Hamd, di http://al-zad.net/imgsit/mp_1403078399.pdf)

[3] HR. Al-Bukhâri secara mu’allaq, an-Nasa’i no. 5, Ibnu Majah no. 289, Ahmad no. 23072. Hadits ini dishahihkan oleh Syaikh Muhammad Nashiruddin al-Albani dalam al-Jâmi’ ash-Shaghîr no. 6008.

[4] Mengkhususkan bulan Rajab untuk berpuasa hukumnya makruh karena hal itu termasuk syi’ar orang-orang jahiliyah. Mereka dahulu sangat mengagungkan  bulan Rajab. Apabila seseorang berpuasa pada bulan Rajab disertai puasa pada bulan lainnya, maka tidak dimakruhkan, karena ketika itu ia tidak dianggap mengkhususkan bulan tersebut untuk berpuasa. (Kitab al-Fiqh al-Muyassar fi Dhau’ al-Kitab wa as-Sunnah, Nukhbah min al-‘Ulama’, 1424 H, Majma’ al-Malik Fahd li Taba’at al-Mus-haf as-Syarif, al-Madinah al-Munawwarah, hlm. 164-165).

[5] Diangkat dari Talqîh al-Afhâm al-‘Aliyyah bi Syarh al-Qawâ’id al-Fiqhiyyah, Syaikh Walid bin Rasyid as-Sa’idan, Kaidah Ke-6.

Berlangganan artikel Situs Sunnah melalui email, RSS, atau Telegram.