Hukum Khutbah Jum’at

Aug 21, 2017Adab dan Akhlaq

HUKUM KHUTBAH JUM’AT

Menurut pendapat yang rajih, khutbah Jum’at merupakan satu kewajiban dalam shalat Jum’at, dengan dalil sebagai berikut:

Firman Allah Subhanahu wa Ta’ala, yang artinya: “Hai orang-orang yang beriman, apabila diseru untuk menunaikan shalat pada hari Jum’at, maka bersegeralah kamu kepada mengingat Allah dan tinggalkanlah jual-beli. Yang demikian itu lebih baik bagimu jika kamu mengetahui.” (QS. Al Jum’ah: 9)

Dalam ayat ini, Allah memerintahkan kepada kita agar bersegera mengingat Allah Subhanahu wa Ta’ala sejak mendengar adzan, dan setelah adzan ada khutbah (Baca: Sholat Jumat). Dengan demikian firman Allah meliputi khutbah juga. Apabila bersegera mendengar khutbah merupakan kewajibam, maka tentunya khutbah menjadi wajib, karena bersegera datang mendengar khutbah merupakan wasilah dan tujuannya adalah khutbah. Sehingga menurut kaidah yang baku, bila wasilahnya wajib, maka tentu yang dituju menjadi pasti wajibnya.

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam melarang berbicara ketika imam berkhutbah. Ini menunjukkan wajib mendengarkannya dan hal ini menunjukkan kewajiban khutbah. Nabi senantiasa berkhutbah dalam shalat Jum’at, dan sekalipun tidak pernah meninggalkanya. Hal ini menunjukkan juga wajibnya khutbah dalam shalat Jum’at. Seandainya khutbah tidak diwajibkan, maka tidak ada bedanya dengan shalat-shalat lainnya, dan orang tidak dapat mengambil manfaat dari pertemuan tersebut.

APAKAH MENGHADIRI KHUTBAH MENJADI SYARAT SAH SHALAT JUM’AT

Dalam masalah ini, para ulama terbagi menjadi dua pendapat.
Pertama. Tidak disyaratkan menghadiri khtubah. Seandainya seseorang hanya mendapat shalat Jum’atnya saja, maka dianggap sah dan sudah mencukupi Jum’atnya. Demikianlah pendapat Ibnu Mas’ud, Ibnu Umar, Anas bin Malik, Sa’id bin Al Musayyab, Al Hasan Al Bashri, Alqamah, Al Aswad, Urwah, Az Zuhri, An Nakha’i, Ats Tsauri, Ishaq, Abu Tsaur, Imam Malik, Abu Hanifah, Asy Syafi’i dan Ahmad.

Kedua. Disyariatkan menghadiri khutbah. Sehingga seseorang yang tidak menghadiri khutbah, maka harus shalat empat raka’at. Demikian pendapat Atha, Thawus, Mujahid, Makhul dan riwayat kedua dari imam Malik. Mereka berdalil, bahwa khutbah adalah syarat sahnya Jum’at, sehingga tidak sah Jum’at seseorang yang tidak mendapati khutbah.

Ibnu Qudamah merajihkan pendapat pertama dengan dalil hadits Abu Hurairah yang berbunyi,

مَن أَدْرَكَ من صَلَاة الجُمُعَة ركْعَةَ فَقَدْ أَدرك

“Barangsiapa yang mendapatkan satu raka’at dari shalat Jum’at, maka ia mendapatkannya.”

(HR. Nasa’i dalam Sunan-nya, kitab Al Jum’ah, Bab Man Adraka Shalat Rak’atan Min Shalat Al Jum’ah no. 1408 dengan sanad yang shahih. Hadits ini dishahihkan Al Albani di dalam Al Ajwibah An Nafi’ah, op cit, hlm. 48)

Demikian ini pendapat yang rajih, insya Allah.

Oleh Abu Asma Kholid bin Syamhudi

Sumber:  Majalah As-Sunnah Edisi 2 Tahun VIII 1425/2004

 

Related

Berlangganan artikel Situs Sunnah melalui email, RSS, atau Telegram.