Download

 

Lanjutan kisah Aisyah dituduh selingkuh dan gali pelajarannya di sini.

 

Tafsir Surah An-Nuur Ayat 11

إِنَّ الَّذِينَ جَاءُوا بِالْإِفْكِ عُصْبَةٌ مِنْكُمْ لَا تَحْسَبُوهُ شَرًّا لَكُمْ بَلْ هُوَ خَيْرٌ لَكُمْ لِكُلِّ امْرِئٍ مِنْهُمْ مَا اكْتَسَبَ مِنَ الْإِثْمِ وَالَّذِي تَوَلَّى كِبْرَهُ مِنْهُمْ لَهُ عَذَابٌ عَظِيمٌ

Sesungguhnya orang-orang yang membawa berita bohong itu adalah dari golongan kamu juga. Janganlah kamu kira bahwa berita bohong itu buruk bagi kamu bahkan ia adalah baik bagi kamu. Tiap-tiap seseorang dari mereka mendapat balasan dari dosa yang dikerjakannya. Dan siapa di antara mereka yang mengambil bahagian yang terbesar dalam penyiaran berita bohong itu baginya azab yang besar.” (QS. An-Nuur: 11)

 

Kisah Lanjutan Turunnya Ayat

Aisyah radhiyallahu ‘anha mengatakan,

“Kemudian kami sampai ke Madinah. Ketika kami telah sampai di Madinah aku sakit selama sebulan. Sedangkan orang-orang menyebarluaskan ucapan para pembohong. Aku tidak tahu mengenai  hal tersebut sama sekali. Itulah yang membuatku penasaran, bahwa sesungguhnya aku tidak melihat kekasihku Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam yang biasanya aku lihat dari beliau ketika aku sakit. Beliau hanya masuk, lalu mengucap salam dan berkata, ‘Bagaimana keadaanmu?’ Itulah yang membuatku penasaran, tetapi aku tidak mengetahui ada sesuatu yang buruk sebelum aku keluar rumah.”

“Lalu aku dan Ummu Mis-thah berangkat. Dia adalah putri Abi Ruhm bin Abdul Muththalib bin Abdi Manaf. Ibunya adalah puteri Shakhr bin Amr, bibi Abu Bakar Ash-Shiddiq radhiyallahu ‘anha. Anaknya bernama Mis-thah bin Utsa-tsah bin Ubbad bin Abdul Muththalib bin Abdu Manaf. Lantas aku dan putri Abu Ruhm, Ummu Mis-thah terpeleset dengan pakaian wol yang dikenakannya. Kontan ia berujar, ‘Celakalah Mis-thah.’ Lantas aku berkata kepadanya, ‘Alangkah buruknya ucapanmu. Kamu mencela seorang lelaki yang ikut serta dalam perang Badr.’ Ia berkata, ‘Apakah engkau belum mendengar apa yang telah ia katakan?’ Aku bertanya, ‘Memang apa yang ia katakan?’ Ia pun menceritakan kepadaku mengenai ucapan para pembuat berita bohong (bahwa Aisyah telah berzina). Aku pun akhirnya bertambah sakit.”

“Ketika aku pulang ke rumah, aku berkata, ‘Bawalah aku kepada kedua orang tuaku!”

Aisyah radhiyallahu ‘anha melanjutkan kisahnya,

“Ketika itu aku ingin mengetahui secara pasti berita tersebut dari kedua orang tuaku. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mengizinkanku datang kepada kedua orang tuaku. Lantas aku bertanya kepada ibuku, ‘Wahai Ibu! Apa yang sedang hangat dibicarakan oleh orang-orang?’ Ibuku menjawab, ‘Wahai putriku! Tidak ada apa-apa. Demi Allah, jarang sekali seorang perempuan cantik yang dicintai oleh suaminya sementara ia mempunyai banyak madu melainkan para madu tersebut sering menyebut-nyebut aibnya.’ Lantas aku berkata, ‘Subhanallah (Mahasuci Allah)! Berarti orang-orang telah memperbincangkan hal ini.’ Maka, aku menangis pada malam tersebut sampai pagi. Air mataku tiada henti dan aku tidak tidur sama sekali. Kemudian di pagi hari pun aku masih menangis.”

Aisyah radhiyallahu ‘anha melanjutkan kisahnya,

“Kemudian Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam memanggil Ali bin Abi Thalib radhiyallahu ‘anhu dan Usamah bin Zaid radhiyallahu ‘anhu ketika wahyu tidak segera turun. Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam bertanya kepada keduanya dan meminta pendapat kepada keduanya perihal menceraikan istrinya.”

Aisyah radhiyallahu ‘anha melanjutkan,

“Sedangkan Usamah radhiyallahu ‘anhu memberi pendapat kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dengan apa yang ia ketahui akan jauhnya istri beliau dari perbuatan tersebut dan dengan apa yang ia ketahui tentang kecintaannya kepada beliau. Usamah mengatakan, ‘Wahai Rasulullah! Mereka adalah istri-istrimu, menurut pengetahuan kami mereka hanyalah orang-orang yang baik.”

“Sedangkan Ali bin Abi Thalib berpendapat, ‘Wahai Rasulullah! Allah tidak akan memberikan kesempitan kepadamu. Perempuan selain Aisyah masih banyak. Jika engkau bertanya kepada seorang budak perempuan, pasti ia akan berkata jujur kepadamu.”

Aisyah radhiyallahu ‘anha melanjutkan,

“Kemudian Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam memanggil Barirah radhiyallahu ‘anhu. Beliau bertanya, ‘Hai Barirah! Apakah kamu melihat ada sesuatu yang mengutusmu dengan kebenaran. Aku tidak melihat sesuatu pun pada dirinya yang dianggap cela lebih dari bahwa dia adalah perempuan yang masih belia yang terkadang tertidur membiarkan adonan roti keluarganya, sehingga binatang piarannya datang, lalu memakan adonan rotinya.”

“Lantas Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam berdiri di atas mimbar seraya bersabda, ‘Wahai kaum muslimin! Siapakah yang sudi membelaku dari tuduhan laki-laki yang telah menyakiti keluargaku? Demi Allah, aku tidak mengetahui tentang keluargaku kecuali kebaikan. Dan mereka juga menuduh seorang laki-laki yang sepanjang pengetahuanku adalah orang baik-baik, ia tidaklah datang menemui keluargaku kecuali bersamaku.”

“Selanjutnya Sa’ad bin Mu’adz Al-Anshari radhiyallahu ‘anhu berdiri lalu berkata, ‘Aku akan membelamu wahai Rasulullah! Jika ia dari kabilah Aus, maka akan kami tebas batang lehernya. Jika ia dari kalangan saudara-saudara kami kalangan Khazraj, maka apa yang engkau perintahkan kepada kami, pastilah kami melaksanakan perintahmu.” [Masih berlanjut kisah ini] (HR. Bukhari, no. 2661 dan Muslim, no. 2770)

 

Pelajaran dari Lanjutan Kisah Aisyah Dituduh Selingkuh
  1. Dianjurkan menjenguk orang sakit.
  2. Dianjurkan menanyakan keadaan orang sakit ketika menjenguknya.
  3. Tidak boleh mencela orang dengan doa celaka, apalagi orang yang dicela asalnya adalah orang-orang yang mulia.
  4. Orang-orang baik disikapi dengan berhusnuzhan dulu padanya, tidak boleh menyakitinya.
  5. Hadits ini menunjukkan keutamaan orang-orang yang mengikuti perang Badar (Ahlu Badr) dan mereka harus dibela sebagaimana pembelaan Aisyah pada mereka.
  6. Bisa jadi kita difitnah dan karena fitnahan tersebut membuat kita jatuh sakit seperti yang dialami Aisyah. Tugas kita, sabar dalam menghadapi fitnahan ini.
  7. Apabila seorang perempuan hendak keluar untuk memenuhi kebutuhannya, maka disunnahkan baginya ditemani oleh perempuan lain yang dapat membuatnya nyaman dan tidak diganggu oleh orang lain.
  8. Seorang istri boleh pergi ke rumah orang tuanya asalkan dengan izin suaminya.
  9. Di antara para istri (yang dipoligami) pasti ada rasa cemburu serta kebencian satu dan lainnya.
  10. Di rumah tangga yang penuh keshalihan seperti pada keluarga Rasulullah ditemukan ada masalah, maka perlu menghadapinya dengan tenang dan pasti selalu ada jalan keluar untuk menyelesaikan masalah.
  11. Aisyah itu cantik dan dicintai oleh suaminya (Rasulullah shallallahu ‘alahi wa sallam).
  12. Boleh mengucapkan SUBHANALLAH (Mahasuci Allah) sebagai ungkapan takjub.
  13. Dianjurkan bagi seorang suami untuk meminta pendapat kepada orang terdekatnya, keluarganya, dan teman-temannya mengenai persoalan yang dihadapinya.
  14. Istri Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah orang-orang yang baik.
  15. Istri dianjurkan mengabdi kepada suami dengan mengurus rumah, seperti memasak, menyiapkan segala keperluan suami dan kebutuhan suami lainnya.
  16. Istri yang masih muda kadang lalai dalam mengurus rumah, mungkin karena usianya yang belum matang dan belum sangat dewasa.
  17. Boleh mencari tahu kebenaran berita yang didengar yang terkait dengan kita. Adapun selain itu terlarang dan termasuk tajassus (mencari-cari kesalahan orang) dan termasuk sikap berlebihan.
  18. Boleh seorang imam berkhutbah dan membicarakan masalah yang terjadi di tengah-tengah rakyatnya.
  19. Para sahabat Nabi radhiyallahu ‘anhum begitu semangat dalam membela nabinya dan menjalankan perintahnya.

Semoga jadi pelajaran yang bermanfaat. Masih berlanjut insya Allah.

 

Referensi:

Al-Minhaj Syarh Shahih Muslim bin Al-Hajjaj. Cetakan pertama, Tahun 1433 H. Yahya bin Syarf An-Nawawi. Penerbit Dar Ibnu Hazm. 17:106-107.

Disusun di Pesantren Darush Sholihin, Jumat pagi , 21  Shafar 1439 H

Oleh: Muhammad Abduh Tuasikal

Artikel Rumaysho.Com

Berlangganan artikel Situs Sunnah melalui email, RSS, atau Telegram.