Permasalahan mengenai waktu puasa arofah (apakah berdasarkan rukyatul hilal di masing negeri atau mengikuti waktu wukufnya jama’ah haji di padang arofah) merupakan permasalahan yang di perselisihkan ulama, masing-masing memiliki dalil dan hujjah yang kuat.

Yang perlu diperhatikan adalah, bahwa permasalahan ini merupakan permasalahan ijtihadiyah, yang seyogyanya seorang muslim untuk bersikap legowo dan toleran terhadap saudaranya yang berbeda pendapat. Bukan tempatnya untuk saling memaksakan dan saling menyalahkan. …

Untuk sahabat sekalian yang memilih pendapat ulama yang mengatakan bahwa puasa arofah ikut jama’ah haji wukuf di arofah, kebetulan puasa arafahnya bertepatan dengan hari jum’at.

Lalu bagaimana hukumnya; karena terdapat hadis yang menerangkan larangan puasa di hari jumat?

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, “Janganlah kalian khususkan hari Jum’at dengan berpuasa, dan tidaklah pula malamnya untuk ditegakkan (shalat)”. (HR Muslim 1144).

Pertanyaan ini dibacakan di majelis Syekh Abdulmuhsin Al-’Abbad -hafidzohullah- semalam di masjid Nabawi.

Jawaban beliau: Tidak mengapa puasa arofah di hari jum’at. Meskipun ia tidak mendahului puasanya di hari-hari sebelumnya; jadi ia hanya puasa di hari itu saja.

Karena yang ia maksudkan bukan puasa di hari jumatnya, akan tetapi yang ia maksudkan adalah puasa arafahnya. Larangan dalam hadis tersebut ditujukan kepada mereka yang memaksudkan puasa di hari jumat. Walaupun seandainya ia berpuasa selama sembilan hari pertama bulan dzulhijjah, itu lebih baik..

Allahu ta’ala a’lam. ___

penulis: Ahmad Anshori (Mahasiswa Universitas Islam Madinah)

Kota Nabi -shallallahu ‘alaihi wa sallam-, 04 Dzulhijah 1435 H / 29 September 2014 M

Berlangganan artikel Situs Sunnah melalui email, RSS, atau Telegram.