بسم الله الرحمن الرحيم

PARA SALAF SAAT MENJELANG RAMADHAN

Mu’alla bin al-Fadhl rahimahullâhu berkata :

كانوا يدعون الله تعالى ستة أشهر أن يبلغهم رمضان،ويدعونه ستة أشهر أن يتقبل منهم

“Dahulu para salaf berdoa kepada Allah selama 6 bulan agar Allah mengantarkan mereka bisa mendapati bulan Ramadhan, kemudian mereka berdoa kembali selama 6 bulan agar Allah menerima amal-amal mereka (selama Ramadhan).

[Lathâ’if al-Ma’ârif hal. 148]

Yahyâ bin Abî Katsîr rahimahullâhu pernah berdoa :

اللهم سلمني إلى رمضان وسلم لي رمضان وتسلمه مني متقبلا

Ya Allah, antarkanlah diriku agar bisa menemui Ramadhan dan izinkan Ramadhan agar bisa mendapatiku serta terimalah dariku amal-amalku (di dalam bulan Ramadhan).

[Lathâ’if al-Ma’ârif hal. 148]

 

Abû Dzar Radhiyallâhu anhu pernah menasehatkan :

يَأَيُّهَا النَّاسُ، إِنِّي لَكُمْ نَاصِحٌ، إِنِّي عَلَيْكُمْ شَفِيقٌ، صَلُّوا فِي ظَلامِ اللَّيْلِ لِوَحْشَةِ الْقُبُورِ، وَصُومُوا فِي حَرِّ الدُّنْيَا لِحَرِّ يَوْمِ النُّشُورِ

Wahai sekalian manusia, sesungguhnya saya hanyalah ingin menasehati kalian, karena saya sangat sayang dengan kalian semua. Sholatlah kalian di tengah kegelapan malam sebagai persiapan menghadapi kuburan yang mencekam dan berpuasalah kalian di tengah teriknya dunia sebagai persiapan menghadapi panasnya hari kebangkitan.

[Târikh Dimasyqi 66/214]

 

Dari Mâlik bin Dînâr bahwa ada sekelompok kaum penduduk Basrah membeli seorang budak wanita ketika mendekati bulan Ramadhan.

فرأتهم يشترون المأكول والمشروب، فقالت لهم: ما تصنعون بهذا؟! فقالوا لها: لشهر رمضان، فقالت لهم:

Lalu budak wanita tersebut melihat mereka berbelanja makanan dan minuman. Diapun bertanya : “Apa yang anda semua lakukan ini?” Mereka menjawab : “Untuk persiapan Ramadhan.” Lalu budak wanita itu menimpali :

أنا كنت لقوم كان دهرهم كله شهر رمضان، فوالله, لا أقيم عندكم

“Saya dulu pernah bersama suatu kaum yang seluruh waktunya adalah bulan Ramadhan [maksudnya senantiasa diisi dengan puasa, sholat, tilawah dan amal shalih lainnya, bukan dengan acara makan-makan saat berbuka, pent.], Demi Allah, saya tidak mau tinggal dengan kalian!”

[Shifatush Shofwah I/421]

 

PARA SALAF SAAT DI PENGHUJUNG AKHIR RAMADHAN

Diriwayatkan dari ‘Alî Radhiyallâhu anhu bahwa di malam akhir bulan Ramadhan, beliau berseru :

يا ليت شعري من هذا المقبول فنهنيه ومن هذا المحروم فنعزيه

Aduhai sekiranya kutahu siapa gerangan yang diterima amalnya sehingga kudapat mengucapkan selamat kepadanya, dan siapa gerangan yang tertolak amalnya sehingga kudapat berbela sungkawa kepadanya.

[Lathâ’if al-Ma’ârif hal. 210]

 

Diriwayatkan dari Ibnu Mas’ûd Radhiyallâhu anhu, bahwa beliau pernah keluar di penghujung malam terakhir bulan Ramadhan, lalu berseru :

مَنْ هَذَا الْمَقْبُولُ اللَّيْلَةَ فَنُهَنِّيهِ، وَمَنْ هَذَا الْمَحْرُومُ الْمَرْدُودُ اللَّيْلَةَ فَنُعَزِّيهِ، أَيُّهَا الْمَقْبُولُ هَنِيئًا، وَأَيُّهَا الْمَرْحُومُ الْمَرْدُودُ جَبَرَ اللَّهُ مُصِيبَتَكَ

“Barangsiapa yang diterima amalnya di malam ini, maka kuucapkan selamat padanya. Dan barangsiapa yang tertolak amalnya di malam ini, maka aku berbelasungkawa kepadanya. Wahai orang-orang yang diterima amalnya, selamat! Wahai orang-orang yang tertolak amalnya, semoga Allah mengasihimu di dalam musibahmu.”

[Mukhtashor Qiyâmul Layl karya al-Marrûzi hal. 213]

 

Al-Hasan al-Bashri rahimahullâhu berkata :

إن الله جعل شهر رمضان مضمارا لخلقه، يستبقون فيه بطاعته إلى مرضاته، فسبق قوم ففازوا، وتخلف آخرون فخابوا، فالعجب من اللاعب الضاحك، في اليوم الذي يفوز فيه المحسنون ويخسر فيه المبطلون

“Sesungguhnya Allah menjadikan bulan Ramadhan itu seperti arena pacu bagi hamba-hamba-Nya. Mereka berlomba di dalamnya dengan melaksanakan amal ketaatan untuk meraih ridha Allah. Ada suatu kaum yang berlomba dan menang, ada pula yang tertinggal sehingga mereka kalah. Alangkah anehnya masih saja ada yang bermain-main dan tertawa-tawa, padahal mereka berada di hari yang mana orang-orang yang berbuat ihsan mendapatkan kemenangan dan orang-orang yang berbuat kebatilan mengalami kekalahan.”

[Lathâ’if al-Ma’ârif hal. 210]

 

Diriwayatkan dari Mifdhal bin Lâhiq Abî Bisyr beliau mengatakan : saya mendengar ‘Adî bin Arthah berkhutbah setelah Ramadhan berlalu mengucapkan :

سمعت عدي بن أرطاة, يخطب بعد انقضاء شهر رمضان فيقول: كأن كبدًا لم تظمأ، وكأن عينًا لم تسهر، فقد ذهب الظمأ وأبقى الأجر، فيا ليت شعري! من المقبول منا فنهنئه؟! ومن المردود منا فنعزيه؟! فأما أنت أيها المقبول, فهنيئًا هنيئًا، وأما أنت أيها المردود, فجبر الله مصيبتك

“Layaknya hati yang tak merasa dahaga dan mata yang tak terjaga, maka sesungguhnya dahaga pun telah lenyap yang tersisa hanyalah balasan pahala. Duhai, siapa gerangan diantara kita termasuk yang diterima amalnya, maka kuucapkan selamat padanya!? Dan siapa yang tertolak amalnya maka kuucapkan bela sungkawa padanya!? Adapun anda wahai orang yang diterima amalnya, maka selamat dan selamat bagi anda! Adapun anda wahai orang yang tertolak amalnya, semoga Allah mengasihi atas musibahmu!” Beliaupun lalu menangis dan menangis setelahnya.

[Ash-Shiyâm karya al-Firyâbî hal. 95]

 

Pernah ada yang berkata kepada Bisyr al-Hâfî rahimahullâhu [salah satu sahabat dan murid Fudhail bin Iyadh] :

أن قومًا يتعبدون في رمضان ويجتهدون في الأعمال، فإذا انسلخ تركوا!

Ada sebuah kaum yang beribadah dan bersungguh-sungguh beramal shalih di bulan Ramadhan, namun saat Ramadhan berlalu, mereka tinggalkan ini semua! [yaitu tidak lagi bersungguh-sungguh dalam beribadah].

Maka, Bisyr al-Hâfî pun menimpali :

بئس القوم قوم لا يعرفون الله إلا في رمضان

Mereka adalah seburuk-buruk kaum! Mereka tidak mengenal Allah melainkan hanya di bulan Ramadhan saja!

[Miftâhul Afkâr lit Ta-ahhubi li Dâril Qorôr II/283]

 

Diriwayatkan dari Ka’ab bin Mâlik Radhiyallâhu anhu, bahwa beliau berkata :

مَن صامَ رمضانَ وهو يُحدِّثُ نفسَهُ أنَّه إن أفطر رمضانَ أن لا يعصِي اللَّهَ، دخلَ الجنةَ بغيرِ مسألةٍ ولا حساب، ومَن صامَ رمضانَ وهو يحدِّثُ نفسَه أنَّه إذا أفطر عصَى ربَّه، فصيامُه عليه مردودٌ

Barangsiapa yang berpuasa di bulan Ramadhan, lalu terbetik di dalam hatinya apabila Ramadhan telah berlalu maka ia tidak akan memaksiati Allah, maka ia akan masuk surga tanpa perlu meminta dan hisab. Namun barangsiapa berpuasa Ramadhan, lalu ia berniat di dalam hatinya apabila Ramadhan berlalu, maka ia akan memaksiati Rabb-nya, maka puasanya tertolak.

[Lathâ’if al-Ma’ârif hal. 136-137]

 

Ada sebagian salaf yang mengatakan :

أدركت أقواماً لا يزيد دخول رمضان من أعمالهم شيئاً، ولا ينقص خروجه من أعمالهم شيئاً

“Saya pernah menjumpai ada sebuah kaum yang saat masuk bulan Ramadhan, tidak bertambah amalan mereka sedikitpun. Di sisi lain ada pula kaum yang saat Ramadhan berlalu, tidak berkurang amalan mereka sedikitpun.”

[Muwâsholah al-‘Amal ash-Shôlih Ba’da Ramadhân karya Syaikh Shâlih al-Fauzân]

 

Wahb bin al-Ward pernah melihat suatu kaum yang tertawa-tawa di hari Iedul Fithri, lalu beliau berkata :

إن كان هؤلاء تقبل منهم صيامهم فما هذا فعل الشاكرين وإن كان لم يتقبل منهم صيامهم فما هذا فعل الخائفين

“Apabila mereka termasuk orang yang diterima amalan puasa mereka, maka ini bukanlah termasuk perbuatan orang-orang yang bersyukur. Namun apabila mereka termasuk orang yang tidak diterima amalan puasanya, maka ini bukanlah termasuk perbuatan orang-orang yang takut kepada Allah.”

[Lathâ’if al-Ma’ârif hal. 209]

 

Qotâdah pernah berkata :

من لم يُغفر له في رمضان فلن يغفر له فيما سواه

“Barangsiapa yang tidak diampuni di bulan Ramadhan, maka (besar kemungkinan) ia takkan diampuni di selain bulan Ramadhan.”

[Lathâ’if al-Ma’ârif hal. 211]

 

 

PARA SALAF SAAT DI HARI IED

Sejumlah sahabat Sufyan ats-Tsauri berkata : Kami keluar di hari Ied bersama beliau, lalu beliau berkata :

إِنَّ أَوَّلَ مَا نَبْدَأُ بِهِ فِي يَوْمِنَا هَذَا غَضُّ الْبَصَرِ

“Sesungguhnya hal yang pertama kali kami lakukan di hari Ied ini adalah, menundukkan pandangan.”

[At-Tabshiroh karya Ibnul Jauzî hal 106]

 

Hassân bin Abî Sinân ketika pulang dari sholat Ied ditanya isterinya :

كم من امرأة حسناء قد رأيت؟

“Berapa banyak wanita cantik yang telah kau pandangi?”

Beliau menjawab :

ما نظرت إلا في إبهامي منذ خرجت إلى أن رجعت

“Saya tidak melihat apapun semenjak saya keluar sampai saya balik pulang kecuali melihat jempol kakiku saja.”

[At-Tabshiroh karya Ibnul Jauzî hal 106]

 

Dari Abî Marwân Maula Banî Tamîm, beliau bercerita :

: انصرفت مع صفوان بن سليم من العيد إلى منزله فجاء بخبز يابس فجاء سائل فوقف على الباب وسأل فقام صفوان إلى كوّة في البيت فأخذ منها شيئا فأعطاه فاتّبعت ذلك السائل لأنظر ما أعطاه. فإذا هو يقول: أعطاه الله افضل ما أعطى أحداً من خلْقه فقلت ما أعطاك؟ قال: أعطاني ديناراً

“Saya pernah bersama Shofwan bin Sulaim kembali dari Ied menuju ke rumahnya. Beliau datang dengan menyajikan sepotong kue keras. Tak lama kemudian datang seorang peminta-minta berdiri di atas pintu mengemis. Shofwan pun lalu beranjak ke salah satu lubang di rumahnya mengambil sesuatu, kemudian dia memberikannya kepada peminta-minta tersebut. (Karena penasaran) saya pun mengikuti peminta-minta tersebut untuk melihat apa gerangan yang diberikan oleh Shofwan. Setelah bertemu dengannya, peminta-minta itu berkata : “Allah menganugerahkan dia keutamaan yang tidak diberikan kepada seorang pun.” Saya pun bertanya, “apa yang diberikannya kepadamu?” Dia menjawab : “Shofwan memberikan saya Dinar.”

[Shifatush Shofwah I/385].

 

كَانَ حماد بن أبي سليمان ذَا دُنْيَا مُتَّسِعَةٍ، وَأَنَّهُ كَانَ يُفَطِّر فِي شَهْرِ رَمَضَانَ خَمْسَ مائَةِ إِنْسَانٍ، وَأَنَّهُ كَانَ يُعْطِيْهِم بَعْدَ العِيْدِ لِكُلِّ وَاحِدٍ مائَةَ دِرْهَمٍ

Hammâd bin Abî Sulaymân adalah orang yang memiliki kelapangan rezeki. Beliau biasa memberikan makanan berbuka di bulan Ramadhan kepada 500 orang. Saat Ied tiba, beliau memberi kepada setiap orang 100 Dirham.

[Siyar A’lâmin Nubalâ V/530]

 

‘Umar bin ‘Abdul ‘Azîr rahimahullâhu pernah keluar di hari Iedul Fithri lalu berkata di dalam khutbahnya :

أيها الناس إنكم صمتم لله ثلاثين يوما وقمتم ثلاثين ليلة وخرجتم اليوم تطلبون من الله أن يتقبل منكم

Wahai sekalian manusia, sesungguhnya kalian telah berpuasa selama 30 hari! Kalian telah sholat malam (tarawih) selama 30 hari! Namun kalian semua keluar di hari ini (Iedul Fithri), meminta kepada Allah agar menerima seluruh amalan tersebut dari kalian.

[Lathâ’if al-Ma’ârif hal. 209]

 

 

PARA SALAF DI DALAM MEMAKNAI HARI IED

Ibnu Rojab berkata :

ليس العيد لمن لبس الجديد، إنما العيد لمن طاعاته تزيد، ليس العيد لمن تجمل باللباس والركوب، إنما العيد لمن غفرت له الذنوب، في ليلة العيد تفرق خلق العتق والمغفرة على العبيد؛ فمن ناله منها شيء فله عيد، وإلا فهو مطرود بعيد

“Ied itu bukanlah bagi orang yang berpakaian baru, namun Ied itu adalah bagi orang yang bertambah ketaatannya. Ied itu bukanlah bagi orang yang menghias pakaian dan kendaraannya, namun Ied itu adalah bagi orang yang diampuni dosa-dosanya. Di malam Ied, dibagikan pembebasan dan ampunan bagi para hamba, maka barangsiapa yang meraihnya maka ia mendapatkan Ied, dan siapa yang tidak memperolehnya maka ia terusir jauh.”

[Lathâ’if al-Ma’ârif hal. 277]

 

Al-Hasan al-Bashri rahimahullâhu berkata :

كل يوم لا يعصى الله فيه فهو عيد، كل يوم يقطعه المؤمن في طاعة مولاه وذكره وشكره فهو له عيد

“Setiap hari yang Allah tidak dimaksiati di dalamnya maka itulah sejatinya hari Ied. Setiap hari yang mana setiap mukmin melakukan amal ketaatan kepada Allah, selalu berdzikir dan bersyukur pada-Nya, maka itulah sejatinya hari Ied.”

[Lathâ’if al-Ma’ârif hal. 278]

 

Seseorang datang menemui Amirul Mu’minin ‘Alî Radhiyallâhu ‘anhu pada hari Iedul Fithri. Lalu ia dapati ‘Ali memakan roti yang sudah keras. Orang itu lalu berkata :

يا أمير المؤمنين، يوم عيد وخبز خشن!

“Wahai Amirul Mu’minin, sekarang ini hari Ied namun roti yang Anda makan sudah keras (tidak layak)!”

‘Ali pun menimpali :

اليوم عيد مَن قُبِلَ صيامه وقيامه، عيد من غفر ذنبه وشكر سعيه وقبل عمله، اليوم لنا عيد وغدًا لنا عيد، وكل يوم لا يعصى الله فيه فهو لنا عيد

“Hari ini adalah Ied bagi orang yang diterima puasa dan sholatnya. Ied itu bagi orang yang diampuni dosanya, diapresiasi jerih payahnya dan diterima amalnya. Hari ini dan esok adalah Ied bagi kita. Bahkan setiap hari itu adalah Ied bagi orang yang tidak memaksiati Allah di dalamnya. Inilah Ied kita (yang sesungguhnya).”

 

Abûl Manshûr asy-Syîrâzî rahimahullâhu di dalam majelis beliau di tanah suci pada hari Ied, pernah berwasiat :

لَيْسَ الْعِيدُ لِمَنْ غُرِفَ لَهُ إِنَّمَا الْعِيدُ لِمَنْ غُفِرَ لَهُ

“Ied itu bukanlah bagi orang yang disuguhkan dengan berbagai makanan namun Ied itu adalah bagi orang yang diampuni dosa-dosanya.”

[Mu’jamus Safar hal 312]

 

Sebuah kaum pernah melewati seorang pendeta suatu negeri, lalu bertanya kepadanya :

متى عيد أهل هذا الدير؟

“Kapan Ied penduduk negeri ini?”

Pendeta itu menjawab :

يوم يغفر لأهله

“Di hari ketika penduduknya diampuni (maka itulah Ied mereka).”

[Lathâ’if al-Ma’ârif hal. 277]

 

Al-Ma’mûn pernah berkhutbah di hari Ied mengatakan :

فَوَاللهِ! إِنَّهُ لَلْجِدُّ لا اللَّعِبُ، وَإِنَّهُ لَلْحَقُّ لا الْكَذِبُ، وَمَا هُوَ إِلا الْمَوْتُ وَالْبَعْثُ وَالْحِسَابُ وَالْفَصْلُ وَالصِّرَاطُ ثُمَّ الْعِقَابُ وَالثَّوَابُ، فَمَنْ نَجَا يَوْمَئِذٍ؛ فَقَدْ فَازَ، وَمَنْ هَوَى يَوْمَئِذٍ؛ فَقَدْ خَابَ، الْخَيْرُ كُلُّهُ فِي الْجَنَّةِ، وَالشَّرُّ كُلُّهُ فِي النَّار

“Demi Allah! Sesungguhnya waktu ini adalah untuk bersungguh-sungguh bukan untuk bermain-main. Waktu ini untuk kebenaran bukan untuk kedustaan. Dan ia takkan terlepas dari kematian, kebangkitan, perhitungan (hisab), pemisahan (antara orang yang beruntung dan celaka), titian (shirath), kemudian hukuman dan balasan pahala. Barangsiapa yang selamat di hari itu maka ia telah menang. Dan barangsiapa yang terjerembab pada hari itu maka ia telah celaka. Semua kebaikan itu pasti di surga dan semua keburukan pasti di neraka.”

[Al-Mujâlasah wa Jawâhir al-‘Ilm V/146]

 

Ada sejumlah salaf saat hari Ied, tampak rona kesedihan pada mereka. Lalu orang-orang bertanya :

إنه يوم فرح وسرور

“Sesungguhnya Ied ini hari kegembiraan dan bersenang-senang.”

Ulama salaf tersebut menjawab :

صدقتم ولكني عبد أمرني مولاي أن أعمل له عملا فلا أدري أيقبله مني أم لا؟

“Kalian benar. Namun sesungguhnya saya ini hanyalah seorang hamba yang diperintah oleh Tuan saya untuk melakukan suatu amalan yang saya sendiri tidak tahu apakah akan diterimanya atau tidak?.”

[Lathâ’if al-Ma’ârif hal. 209]

 

Di hari Ied, datanglah puteri-puteri ‘Umar bin ‘Abdul ‘Azîz. Mereka berkata kepada ayahnya :

يا أمير المؤمنين، العيد غدًا، وليس عندنا ثياب جديدة نَلْبَسُها

“Wahai Amirul Mu’minin, besok sudah hari Ied sedangkan kami tidak memiliki pakaian baru untuk bisa kami kenakan.”

‘Umar bin ‘Abdil ‘Azîz pun menjawab :

يا بناتي، ليس العيد من لبس الجديد، إنما العيد لمن خاف يوم الوعيد

“Wahai puteri-puteriku, sesungguhnya Ied itu bukanlah dengan berpakaian baru, namun Ied itu adalah bagi orang yang takut dengan hari pembalasan.”

[‘Umar bin Abdil ‘Azîz Kânat Hayâtuhu Mu’jizah karya Muhammad Jum’ah]

 

Dikisahkan bahwa ‘Umar bin ‘Abdul ‘Azîz melihat puteranya yang bernama ‘Abdul Mâlik mengenakan pakaian usang di hari Ied. Hal ini menyebabkan beliu bercucuran air mata. Putera beliau pun memperhatikan ayahnya yang menangis lalu bertanya :

ما يبكيك يا أبتاه ؟

“Apa yang menyebabkan Anda menangis wahai ayahanda?”

‘Umar bin ‘Abdul ‘Azîz pun menjawab :

: أخاف أن تخرج يا بني في هذه الثياب الرثة إلى الصبيان لتلعب معهم فينكسر قلبك

“Saya khawatir wahai anakku, saat kamu keluar rumah dan bermain dengan anak-anak yang lain, mereka akan memperolokmu sehingga hatimu pun menjadi remuk karenanya.”

‘Abdul Mâlik, putera yang berbakti itupun mengatakan :

إنما ينكسر قلب من عصى مولاه وعق أمه وأباه… وأرجو أن يكون الله راضيا عني برضاك عني يا أبي…

“Sesungguhnya hakikat hati yang remuk itu adalah apabila seseorang bermaksiat kepada tuhannya dan berbuat durhaka kepada ibu bapaknya. Saya berharap agar Allah meridhaiku melalui keridhaan anda kepadaku wahai ayahanda…”

‘Umar pun memeluk erat anaknya tersebut ke dadanya, mencium dahinya dan mendoakannya., ‘Abdul Mâlik adalah putera ‘Umar bin ‘Abdul ‘Azîz yang paling zuhud.

[‘Al-Îd Qulûb Muwahhadah wa ‘Âdât Mukhtalafah]

 

Diriwayatkan bahwa Imam Mâlik bin Anas rahimahullâhu pernah berkata :

للمؤمن خمسة أعياد: كل يوم يمر على المؤمن ولا يكتب عليه ذنب فهو يوم عيد, اليوم الذي يخرج فيه من الدنيا بالإيمان فهو يوم عيد, واليوم الذي يجاوز فيه الصراط ويأمن أهوال يوم القيامة فهو يوم عيد, واليوم الذي يدخل فيه الجنة فهو يوم عيد, واليوم الذي ينظر فيه إلى ربه فهو يوم عيد

“Orang yang beriman memiliki 5 hari Ied :

  1. Setiap hari yang berlalu melewati seorang mu’min dan tidak dicatat baginya perbuatan dosa, maka ini adalah hari Ied.

  2. Hari yang seorang mu’min meninggalkan dunia dengan keimanan, maka ini adalah hari Ied.

  3. Hari yang seorang mu’min bisa melewati titian Shirath dan selamat dari ujian hari kiamat yang mengerikan, maka ini adalah hari Ied.

  4. Hari yang mana seorang mu’min masuk ke dalam surga, maka ini adalah hari Ied.

  5. Dan hari yang mana seorang mu’min bisa memandang wajah Rabb-nya, maka inilah hari Ied.

[Farhatul Ied karya Badr ‘Abdul Hamîd Humaisoh].

 

ℳـ₰✍

✿❁࿐❁✿

@abinyasalma

Sumber : http://saaid.net/Doat/aiman/196.htm

 

 

Like this:

Like Loading...

Related

Berlangganan artikel Situs Sunnah melalui email, RSS, atau Telegram.