1. Mengapa dinamakan bulan Dzulhijjah?
Bulan Dzulhijjah adalah bulan terakhir di tahun hijriyah. Dinamakan dzulhijjah karena dahulu orang arab berhaji di bulan tersebut.

2. Tahukah anda keutamaan 10 hari di awal bulan Dzulhijjah?

  • Allah bersumpah dengan 10 hari di awal bulan Dzulhijjah dan Allah tidak bersumpah kecuali dengan sesuatu yang mulia. Allah berfirman:

(وَٱلۡفَجۡرِ (١) وَلَيَالٍ عَشۡرٍ۬(٢

“Demi fajar dan malam yang sepuluh.” 
(QS. Al-Fajr : 1-2)

Ibnu Katsir rahimahullahu berkata: “Malam yang sepuluh” maksudnya adalah sepuluh Dzulhijjah seperti yang dikatakan oleh Ibnu Abbas, Ibnu Zubair, Mujahid dan yang lainnya dari ulama salaf serta khalaf.

 

Syaikh Abdurrahman As-Sa’di rahimahullahu berkata: “Malam yang sepuluh” penafsiran yang benar tentang ini adalah malam sepuluh di bulan Ramadhan atau sepuluh di bulan Dzulhijjah. Karena malam-malam itu mengandung hari-hari yang mulia. Di dalamnya banyak sekali ibadah-ibadah yang tidak ada pada selainnya.

  • Allah menyebutkan 10 hari di awal bulan Dzulhijjah di dalam ayat-ayat-Nya yang mulia yang menunjukkan akan kemuliaan hari-hari tersebut.

Allah berfirman:

ٱلۡحَجُّ أَشۡهُرٌ۬ مَّعۡلُومَـٰتٌ۬‌ۚ

“(Musim) haji adalah beberapa bulan yang dimaklumi.”  (QS. Al-Baqarah : 197)

Imam Ibnu Katsir rahimahullahu berkata: Firman-Nya “beberapa bulan yang dimaklumi” Imam Bukhari berkata: Ibnu Umar radhiyallahu ‘anhu berkata: Syawal, Dzulqa’dah, 10 awal Dzulhijjah…..dan ucapan ini juga diriwayatkan dari Umar, Ali, Ibnu Mas’ud, Abdullah bin Zubair, Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhum, Atha’, Thawus, Mujahid, Ibrahim An-Nakhai, Sya’bi, Hasan, Ibnu Siirin, Makhul, Qatadah, Dhahhak bin Muzaahim, Rabi’ bin Anas, Muqaatil bin Hayyan. Dan ini adalah madzhab Imam Syafi’i, Abu Hanifah, Ahmad bin Hanbal, Abu Yusuf, Abu Tsaur rahimahumullahu.

Allah berfirman:

وَأَذِّن فِى ٱلنَّاسِ بِٱلۡحَجِّ يَأۡتُوكَ رِجَالاً۬ وَعَلَىٰ ڪُلِّ ضَامِرٍ۬ يَأۡتِينَ مِن كُلِّ فَجٍّ عَمِيقٍ۬ (٢٧) لِّيَشۡهَدُواْ مَنَـٰفِعَ لَهُمۡ وَيَذۡڪُرُواْ ٱسۡمَ ٱللَّهِ فِىٓ أَيَّامٍ۬ مَّعۡلُومَـٰتٍ عَلَىٰ مَا رَزَقَهُم مِّنۢ بَهِيمَةِ ٱلۡأَنۡعَـٰمِ‌ۖ فَكُلُواْ مِنۡہَا وَأَطۡعِمُواْ ٱلۡبَآٮِٕسَ ٱلۡفَقِيرَ (٢٨)

“Dan berserulah kepada manusia untuk mengerjakan haji, niscaya mereka akan datang kepadamu dengan berjalan kaki, dan mengendarai unta yang kurus yang datang dari segenap penjuru yang jauh, supaya mereka menyaksikan berbagai manfaat bagi mereka dan supaya mereka menyebut nama Allah pada hari yang telah ditentukan atas rizki yang Allah telah berikan kepada mereka berupa binatang ternak. Maka makanlah sebahagian daripadanya dan (sebahagian lagi) berikanlah untuk dimakan orang-orang yang sengsara dan fakir.” 
(QS. Al-Hajj : 27-28)

Imam Al-Baghawi berkata: “dan supaya mereka menyebut nama Allah pada hari yang telah ditentukan” yaitu 10 hari (pertama) di bulan Dzulhijjah, menurut ucapan kebanyakan ahli tafsir. Demikian pula yang diriwayatkan dari Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhuma seperti yang dinukil oleh Imam Ibnu Katsir tentang tafsir ayat diatas.

Allah berfirman:

وَوَٲعَدۡنَا مُوسَىٰ ثَلَـٰثِينَ لَيۡلَةً۬ وَأَتۡمَمۡنَـٰهَا بِعَشۡرٍ۬ فَتَمَّ مِيقَـٰتُ رَبِّهِۦۤ أَرۡبَعِينَ لَيۡلَةً۬‌ۚ وَقَالَ مُوسَىٰ لِأَخِيهِ هَـٰرُونَ ٱخۡلُفۡنِى فِى قَوۡمِى وَأَصۡلِحۡ وَلَا تَتَّبِعۡ سَبِيلَ ٱلۡمُفۡسِدِينَ

“Dan telah Kami janjikan kepada Musa (memberikan Taurat) sesudah berlalu waktu tiga puluh malam. Dan Kami sempurnakan jumlah malam itu dengan sepuluh (malam lagi), Maka sempurnalah waktu yang telah ditentukan Tuhannya empat puluh malam.Dan berkata Musa kepada saudaranya Yaitu Harun: “Gantikanlah aku dalam (memimpin) kaumku, dan perbaikilah dan janganlah kamu mengikuti jalan orang-orang yang membuat kerusakan”. 
(QS. Al-A’raaf : 142)

Imam Ibnu Katsir rahimahullahu berkata: Para ulama tafsir berselisih pendapat tentang 10 malam (dalam ayat diatas). Namun kebanyakan mereka berpendapat bahwa yang dimaksud dengan 30 malam adalah bulan Dzulqa’dah dan 10 malamnya adalah 10 Dzulhijjah. Hal ini dikatakan oleh Mujahid, Masruq, Ibnu Juraij dan diriwayatkan dari Ibnu Abbas dan selainnya.

  • 10 hari di awal bulan Dzulhijjah merupakan hari yang amal shalih lebih Allah cintai daripada selainnya. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

ما من أيام العمل الصالح فيها أحب إلى الله من هذه الأيام -يعني الأيام العشر- قالوا يا رسول الله ولا الجهاد في سبيل الله؟ قال ولا الجهاد في سبيل الله إلا رجل خرج بنفسه وماله ثم لم يرجع من ذلك بشيء .

“Tidak ada hari-hari yang amal shalih di dalamnya lebih Allah cintai daripada hari-hari tersebut –yaitu 10 hari di awal Dzulhijjah-. Para sahabat berkata: Wahai Rasulullah, bagaimana dengan jihad di jalan Allah? beliau menjawab: walaupun jihad fii sabilillah, melainkan seseorang yang keluar dengan jiwa dan hartanya kemudian dia tidak kembali dengannya sedikitpun.” 
(HR. Bukhari)

  • Diantara keutamaan 10 hari di awal bulan Dzulhijjah bahwa di dalamnya terdapat hari Arafah yaitu 9 Dzulhijjah yang Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam telah bersabda tentang puasanya:

 

أحتسب على الله أن يكفر السنة التي قبله و السنة التي بعده

“Aku berharap kepada Allah untuk puasa arafah ini menghapuskan dosa tahun yang lalu dan tahun yang akan datang.”       (HR. Bukhari dan Muslim)

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam juga bersabda:

مَا مِنْ يَوْمٍ أَكْثَرَ مِنْ أَنْ يُعْتِقَ اللَّهُ فِيهِ عَبْدًا مِنْ النَّارِ مِنْ يَوْمِ عَرَفَةَ وَإِنَّهُ لَيَدْنُو ثُمَّ يُبَاهِي بِهِمْ الْمَلَائِكَةَ فَيَقُولُ مَا أَرَادَ هَؤُلَاءِ.

“Tidak ada suatu hari yang Allah lebih banyak memerdekakan hamba-Nya dari api neraka daripada hari Arafah. Sesungguhnya Dia mendekat kemudian Dia membanggakan penduduk Arafah kepada para malaikat-Nya seraya berkata: Apa yang diinginkan oleh mereka?” 
(HR. Muslim)

أفضل الدعاء دعاء يوم عرفة، وأفضل ما قلت أنا والنبيون من قبلي لا إله إلا الله وحده لا شريك له

“Sebaik-baik doa adalah doa di hari Arafah dan sebaik-baik yang aku ucapkan dan juga diucapkan oleh para nabi sebelumku adalah tidak ada yang berhak untuk disembah dengan haq kecuali Allah saja tidak ada sekutu bagi-Nya.” 
(HSR. Imam Malik)

  • Diantara keutamaan 10 hari di awal bulan Dzulhijjah bahwa di dalamnya terdapat hari raya Idul Adha atau hari penyembelihan hewan qurban. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

أعظم الأيام عند الله يوم النحر، ثم يوم القر

“Semulia-mulia hari disisi Allah adalah hari nahr (tanggal 10 Dzulhijjah) dan hari qar (hari tasyriq).” (HSR. Ahmad dan Abu Daud)

** Mana yang lebih mulia antara 10 hari di awal bulan Dzulhijjah dan 10 hari terakhir di bulan Ramadhan?

Imam Ibnu Katsir rahimahullahu berkata: Dikatakan bahwa 10 hari di awal bulan Dzulhijjah itu merupakan hari yang termulia seperti dalam hadits. Keutamaannya lebih banyak dibanding 10 hari terakhir di bulan Ramadhan. Di dalam keduanya ada syariat-syariat yang sama seperti shalat, puasa, sedekah dan lain sebagianya. Namun 10 hari di awal bulan Dzulhijjah memiliki keistimewaan berupa pelaksanaan ibadah haji. Tapi ada pula yang berpendapat 10 hari terakhir di bulan Ramadhan itu lebih utama dikarenakan didalamnya terdapat malam lailatul qadr yang lebih utama daripada seribu bulan. Ulama yang lain ada yang mengambil jalan tengah dengan mengatakan: 10 awal bulan Dzulhijjah pagi/siang harinya yang lebih mulia sedangkan 10 akhir Ramadhan malamnya yang lebih mulia. Pendapat terakhir ini menjamakkan dalil-dalil yang ada. Wallahu a’lam

• Apa amal ibadah yang disyariatkan di 10 awal bulan Dzulhijjah?

1. Mendekatkan diri kepada Allah dengan berbagai macam bentuk amal shalih seperti membaca al-qur’an, berdzikir, shalat, puasa, serta berbuat baik kepada manusia. Dan secara khusus melaksanakan ibadah umrah, haji, menyembelih hewan qurban. Dahulu salafush shalih mengagungkan 3 momen yang setiap momennya mengandung 10 hari: 10 hari di awal bulan Dzulhijjah, 10 hari di akhir bulan Ramadhan dan 10 hari di awal bulan Al-Muharram.

2. Mengucapkan tahlil (mengucapkan لا إله إلا الله / laa ilaha illallahu), takbir (mengucapkanالله أكبر / Allahu akbar) dan tahmid (mengucapkan الحمد لله / alhamdulillah). Hal ini sebagaimana yang diriwayatkan dari hadits Ibnu Umar radhiyallahu ‘anhuma dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam beliau bersabda:

ما من أيام أعظم ولا أحب إلى الله العمل فيهن من هذه الأيام العشر فأكثروا فيهن من
التهليل والتكبير والتحميد

“Tidak ada hari yang Allah lebih muliakan dan cintai amal shalih didalamnya dibandingkan pada 10 hari di awal bulan Dzulhijjah maka perbanyaklah di dalamnya untuk membaca tahlil, takbir dan tahmid.” (HSR. Ahmad)

Imam Bukhari berkata: Dahulu Ibnu Umar dan Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhuma keluar ke pasar di 10 hari di awal Dzulhijjah dan mereka berdua bertakbir kemudian orang-orang pun ikut bertakbir. (HR. Bukhari 2/20)

3. Melakukan Puasa di hari arafah (atau tanggal 9 Dzulhijjah). 
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda tentang keutamaannya:

أحتسب على الله أن يكفر السنة التي قبله و السنة التي بعده

“Aku berharap kepada Allah untuk puasa arafah ini menghapuskan dosa tahun yang lalu dan tahun yang akan datang.” (HR. Bukhari dan Muslim)

4. Melaksanakan ibadah haji. 
5. Menyembelih hewan kurban.

—————————————

[1] Makalah “Kalimah Syarhi Dzilhijjah” oleh Syaikh Ibrahim Ar-Ruhaili. Lihat www.al-rehaili.net.
[2] Tafsir Ibnu katsir 8/381.
[3] Tafsir As-Sa’di hal.1089.
[4] Tafsir Ibnu Katsir 1/403.
[5] Tafsir Al-Baghawi hal.865.
[6] Tafsir Ibnu Katsir 5/364.
[7] Tafsir Ibnu Katsir 3/421.
[8] Tafsir Ibnu Katsir 3/289.
[9] Diringkas dan diterjemahkan dari makalah Syaikh Ibrahim Ar-Ruhaili yang berjudul “kalimah Syarhi Dzilhijjah”. Lihat http://www. al-rehaili.net.

Berlangganan artikel Situs Sunnah melalui email, RSS, atau Telegram.